Kejujuran Itu Ada…

Teringat ketika aku silaturahim dengan seorang teman di daerah Pejaten Timur minggu lalu. Berangkat dari rumah siang dan pulang dari rumahnya setelah kami shalat maghrib berjamaah. Naik mikrolet dari depan jalan rumahnya ke Pasar Minggu masih aman. Namun saat berganti kendaraan dari Pasar Minggu menuju Lebak Bulus, ternyata agak sulit. Lama aku menunggu S11, akhirnya lewat juga meskipun kosong, belum ada penumpang sama sekali dan aku yang pertama.

“Turun di mana, mbak?” tanya supirnya padaku.  Seorang pemuda yang berusia sekitar 25 – 30 tahun.

“Lebak Bulus,” jawabku heran karena aku yakin tidak salah jurusan.

“Ooh… kalau gitu, nanti sampai lampu merah depan saja ya, mbak. Nanti dari situ mbak nyambung pakai P20,” katanya padaku.

Hah?! Kesal rasanya jika naik kendaraan umum yang menurunkan penumpang seenaknya, tidak sampai tujuan. Seorang bapak masuk membawa banyak barang, juga ditanyainya akan turun di mana.

“Jeruk Purut” jawab si bapak.

Si sopir mengangguk, “Ya, Pak…” lalu melihat ke arahku sambil bicara lagi, “Mbak kan masih jauh, saya gakkan sampai Lebak Bulus. Maaf ya, mbak… Nanti banyak koq P20 di depan situ…”

Aku diam. Ketika sudah di perempatan lampu merah yang dimaksud, aku turun. Terkejut aku saat kusodori uang, si sopir menolak.

“Tidak usah, mbak… Saya kan cuma bisa antar mbak sampai sini, gak di tempat tujuan. Jadi, saya gak punya hak nerima uang mbak…”  Subhanallah… jarang sekali aku ketemu dengan sopir angkutan umum seperti itu.  Lebih banyak mereka yang menerima uang tapi tidak merasa bersalah jika penumpang tidak diantar sampai tujuan.

“Hati-hati ya, mbak…” katanya lagi saat aku keluar dari mobilnya.

“Terima kasih” sahutku sambil mendoakannya dalam hati agar ia diberi kelapangan rizqi. Ya, rasa kesalku berganti menjadi terharu atas kejujurannya itu.

Tidak mudah untuk menjadi pribadi yang jujur jaman sekarang. Dan dari hal sederhana itulah, akan terlihat siapa diri ini. Jujur akan membuat diri kita dipercaya dan dihargai orang lain, lebih utama adalah  disayang Allah.  Belajar dari si sopir tersebut,  semoga diri ini dapat selalu istiqomah untuk hidup jujur tanpa perlu merasa takut kehilangan rizqi. Karena sesungguhnya, rizqi kita tidak akan pernah tertukar atau berkurang sedikit pun, semua sudah diatur Allah dengan sempurna.  Seorang sopir yang jujur pastilah akan mulia di mata Allah dan Insya Allah, hidupnya akan berkah, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s