Rasa Kekeluargaan Itu Tetap Ada…

Belum genap 3 minggu aku berpisah dengan teman-teman Jemaah umroh. Aku rindu berkumpul bersama mereka. Terlebih setelah diberitahu oleh salah seorang teman dekat di sana, Bu Narti bahwa ayahnya sakit keras. Mbahkung sakit? Aku sedih…tidak bisa menjenguk beliau karena beliau tinggal jauh di Bangka.

Awal aku bisa dekat dengan Bu Narti dan keluarganya, termasuk Mbahkung, saat di bandara Soeta  “Aku dijadikan mahrom Mbahkung” oleh pihak travel.  Hal tersebut berlaku saat akan melewati petugas imigrasi di Airport King Abdul Aziz, Jeddah. Petugas di sana betul-betul menegakkan fiqih bahwa tiap perempuan harus ada pendampingnya saat bepergian keluar rumah terlebih ke luar negeri. Kondisi yang membuat aku terpaksa belum mampu mengikuti fiqih tersebut. Bukan hanya aku sebetulnya, banyak perempuan yang sama kondisinya denganku sehingga membutuhkan bantuan pihak travel untuk mencarikan mahrom.  Jika aku tidak ada mahrom maka aku tidak akan dibiarkan lolos keluar melewati pihak imigrasi Jeddah.

Fisik Mbahkung sebetulnya sangat jauh berbeda denganku. Sebagaimana layaknya seorang laki-laki Jawa yang berkulit sawo matang, itulah Mbahkung. Sedangkan aku? Aku mewarisi kulit mamaku yang putih dan wajah keturunan dari keluarga papa yang konon ada sedikit “campuran”. Alhasil, petugas imigrasi pun sempat memelototiku lama saat kukatakan padanya “He is my grandfather” Hehehe….

Sehari sebelum pulang dari Madinah, menurut Bu Narti, Mbahkung sempat dibawa ke dokter karena penyakit asmanya kumat. Rupanya usia Mbahkung yang sepuh membuatnya sangat lelah dan anfal penyakit beratnya. Aku khawatir sekali dengan keadaannya, terutama saat di dalam pesawat suara pramugara yang meminta tenaga medis, dokter atau perawat untuk mendatanginya karena ada pasien yang sakit. Aku yang duduk di depan tidak bisa mengetahui pasti siapa yang sakit karena tidak terlihat dari tempat dudukku. Hatiku cemas, apakah penumpang yang dimaksud adalah Mbahkung atau ibu tua teman kamarku? Aku sudah menganggap mereka sebagai keluargaku sehingga aku ingin mereka tetap sehat dan selamat sampai rumah.

Alhamdulillah, aku bersyukur setelah mengetahui bahwa penumpang sakit tersebut bukan berasal dari travelku. Mbahkung maupun ibu tuaku selamat… Segera setelah pesawat landing, aku berniat mendekati mereka. Ternyata aku keduluan… Mbahkung mendekati tempat dudukku bersama Bu Narti saat aku tidak kuat harus mampir ke toilet. Sedangkan ibu tuaku, kutemui beliau setelah keluar pesawat. Kupeluk lega beliau sambil menangis, antara haru dan sedih…. Haru mengingat beliau yang sehari-hari selama di tanah suci ada bersamaku, mendengar curhatku, menasehatiku, mendoakanku, dan mengundangku untuk datang ke rumahnya saat Idul Fitri nanti. Sedih mengingat aku akan lama tidak bertemu beliau… sosoknya yang keibuan mengingatkanku pada almarhum mama.

Mbahkung, Bu Narti, dan suaminya adalah penumpang terakhir di bandara karena mereka akan segera langsung ke Bangka, tempat kediaman Mbahkung. Aku sempat bersama mereka sampai 15 menit menjelang adzan subuh. Aku merasa lebih nyaman shalat di kamarku daripada di mushalla bandara. Dari situlah kami berpisah… hubungan tetap terjaga baik, khususnya antara aku dan Bu Narti melalui ponsel.

Aku bahagia atas takdir Allah diundang ke Baitullah. Aku pun bahagia memiliki teman-teman baru yang kuanggap sebagai keluarga baruku. Insya Allah, sampai kapan pun silaturahim kami akan terus terjaga… Semoga Mbahkung dan keluarga tetap sehat, begitu juga ibu tuaku… semoga Allah masih memberikanku umur dan rizqi untuk dapat mengunjungi mereka, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s