Ketika Pelaksanaan UN 2015

UN 2015Teringat minggu lalu, tepatnya hari Senin (4/5/2015) hingga Kamis (7/5/2015) para siswa SMP di seluruh negeri ini menjalani Ujian Nasional (UN). Aku ditugasi oleh sekolah untuk mengawas di SMP swasta dalam 1 kecamatan yang sama. Alhamdulillah...  aku mendapat sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggal. Menjadi pengawas selama 4 hari di sekolah lain, bertemu dan berkenalan dengan sesama pengawas dari beragam sekolah, cukup mengesankan… Tuan rumah pun memperlakukan baik para tamu, terutama dalam hal konsumsi.

Mengawasi para siswa ujian selama 2 jam penuh, terkadang membuatku mengantuk. Untuk itulah, aku tidak mau duduk terus di kursi namun berusaha bergerak. Mulai dari membagikan lembaran soal yang menyatu dengan LJK, kartu ujian, memeriksa jawaban LJK sebelum dikumpulkan, mengedarkan lembaran tanda tangan peserta ujian… seperti lazimnya  yang dilakukan oleh pengawas ujian. Sikap para siswa juga sama seperti lazimnya peserta ujian di tempat lain… jika tidak bisa menjawab pasti gelagatnya gelisah, lirik kanan kiri atau jika sudah betul-betul give up, meletakkan kepalanya di atas meja. The worst, ada yang tertidur….

Hari ketiga UN, sehari menjelang hari terakhir, tiap siswa dibagikan surat dari sekolah yang ditujukan kepada orang tua. Intinya, di hari terakhir ujian mereka harus dijemput oleh orang tua masing-masing. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya aksi corat-coret seragam maupun rambut dengan pilox. Yang lebih mengkhawatirkan jika ada yang  membawa senjata tajam. Wilayah Jakarta rawan sekali terjadi hal demikian mengingat kondisi pergaulan jaman sekarang. Orang tua yang peduli atas keselamatan anaknya pastilah tidak akan mau hal negatif itu terjadi sehingga akan mendukung kebijakan sekolah tersebut.

Siswa-siswa Indonesia… semoga terus tumbuh kesadaran untuk menjadi generasi muda yang bertanggung jawab, gigih, dan tekun dalam memperjuangkan cita-cita, berempati pada sesama, dan selalu berpegang teguh pada agama. UN bukanlah segala-galanya… terlebih kebijakan pemerintah kini yang mensyaratkan kelulusan bukan dari hasil UN namun dari hasil rapor dan US. Yang selayaknya mereka sadari adalah keberhasilan ada di tangan diri sendiri, bukan dari fasilitas orang tua atau belas kasihan guru.  Masa depan masih panjang dan harus berhati-hati dengan pengaruh budaya asing yang menyesatkan… Semoga negeri ini  memiliki generasi muda yang cerdas dan tangguh menghadapi tantangan jaman, aamiin...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s