From Makkah To Madinah

Menghabiskan waktu selama empat hari di Makkah dengan seoptimal mungkin untuk ibadah, Alhamdulillah… Pelaksanaan umroh pertama meskipun terjadi insiden “terlempar” dari rombongan saat thawaf, namun bisa dilanjutkan pada esok subuhnya, thawaf berdua ditemani oleh mutawwif.  Kemudian siang hingga malam, shalat Dzuhur hingga shalat Isya dan ibadah-ibadah sunnah lainnya dilaksanakan di dalam Masjidil Haram. Senang rasanya…. Sesekali saat istirahat, kulihat berbagai pemandangan di sekitar. Jemaah terlihat tidak habis-habis, selalu penuh terutama saat adzan berkumandang, berdatangan dari berbagai negara… meskipun yang terbanyak kulihat mereka yang keturunan Arab sendiri.  Ada beberapa dari India, Pakistan, Bangladesh, Malaysia maupun saudara sebangsa namun beda travel.

Kuingat, pernah sekali  saat aku berangkat sendiri ke Masjidil Haram dan kondisi dalam lift, hanya aku perempuan sendiri. Yang lainnya adalah beberapa laki-laki keturunan Arab yang matanya tidak lepas-lepas memelototiku. Gemetar aku dan reflek kudekap tasku erat-erat di dada sambil menunduk dan berzikir terus memohon perlindunganNya.  Banyak kerabat di Indonesia yang berpesan sebelum aku berangkat bahwa tidak boleh keluar kamar hotel sendiri!  Aku tidak menuruti pesan tersebut karena kondisiku yang membuat terpaksa berangkat sendiri. Teman kamarku yang tua merasa tidak kuat untuk jalan ke Masjidil Haram dan memilih untuk ibadah dalam kamar saja. Sedangkan menantunya, lebih memilih pergi hanya dengan suaminya saja yang berada di kamar lain atau beristirahat dan beribadah di dalam kamar karena merasa lelah. Aku? Rugi jika aku harus seperti mereka sehingga aku nekad keluar sendiri. Teh Syasa yang mengira aku akan bersama dengan teman kamar, sudah pergi lebih dahulu ke masjid. Teman-teman kamar lain tersebar di lantai yang lain dan aku tidak ingat.

Tiap keluar dari hotel aku selalu bersemangat melangkahkan kakiku menuju Masjidil Haram meskipun aku sebetulnya belum istirahat. Seolah berjudi dengan umur karena aku tidak tau sampai kapan batas umurku di dunia dan tidak tau apa akan ada kesempatan lagi untuk beribadah di Masjidil Haram yang pahalanya dijamin 100.000 kali lipat dibanding kita beribadah di masjid lainnya.

Senin (20/4/2015) aku dan Jemaah diajak untuk berziarah menuju Jabal Nur (Gua Hira), Jabal Tsur, Arafah, Mina, Mata Air Zubaidah yang bentuknya merupakan tembok panjang yang di baliknya ada air mengalir, Muzdalifah, Jabal Rahmah yang merupakan tempat dipertemukannya (kembali) Adam dan Hawa, serta Ji’ronah. Di tempat yang terakhir itu aku dan Jemaah yang berkeinginan untuk umroh kedua diberi kesempatan untuk mengambil miqot. Umroh kedua ini aku niatkan untuk menyempurnakan umrohku yang pertama.

Berbeda dengan pelaksanaan umroh pertama yang dilakukan di lantai dasar dekat Ka’bah, umroh kedua dilaksanakan di lantai dua. Kata muttawif, agar tidak terjadi lagi insiden seperti kemarin, he he he… memang kondisi di lantai dua relatif lebih aman karena Jemaah yang thawaf tidak sebanyak yang di dekat Ka’bah. Aku sendiri sebetulnya ingin sekali melaksanakannya di bawah bahkan ingin shalat tepat di Hijr Ismail dan menyentuh Hajar Aswat. Namun sayang, tidak ada kesempatan… banyak sekali orang di tempat tersebut dan aku tidak berani sendiri tanpa ada mahrom yang menyertaiku.

Selasa (21/4/2015) adalah hari Jemaah beribadah masing-masing dan aku minta diberi kesempatan lagi kepada mutawwif untuk umroh ketiga. Kali ini niatku untuk memba’dalkan almarhum mamaku. Awalnya hanya aku bersama Teh Syasa yang minta ditemani oleh mutawwif dan kami berencana memakai taksi ke tempat miqot. Namun menjelang keberangkatan ternyata  Bu Narti, putri dari mahromku, suami dan ayah Bu Narti serta dua orang Jemaah laki-laki dari Makassar ikut dan kami pun menuju kota terdekat dari kota Makkah yaitu Thaif. Kami  miqot di Wadi Sair Kabir, sebuah masjid  yang dipenuhi oleh pepohonan unik berduri yang jika tidak salah, namanya pohon zaqqum. Seperti tertera dalam surah Al Waqi’ah, pohon zaqqum nan berduri dipersiapkan untuk mereka yang dinilai Allah sebagai pendusta agama di akherat nanti. Na’udzubillahi min zalik….

Umroh ketiga berjalan lancar Alhamdulillah… sesuai harapan dan kami kembali thawaf di dekat Ka’bah. aku merasakan almarhum mamaku bersamaku saat aku thawaf dan dengan segenap rasa, kupanjatkan doa terus untuk beliau, semoga Allah mengabulkan… Sayangnya, kondisi masih belum memungkinkan aku untuk bisa shalat tepat di Hijr Ismail dan menyentuh Hajar Aswat. Aku tidak mau demi memenuhi keinginanku, aku harus menzalimi orang lain, mendorong orang lain sampai terjatuh. Lebih parahnya jika aku sendiri juga jatuh dan tanpa mahrom yang mendampingi. Biarlah aku thawaf sambil berdoa saja dan shalat sunnah kulakukan setelah tujuh putaran di luar daerah Ka’bah agar lebih khusyu’ dan tidak mengganggu para Jemaah lain.

Rabu (22/4/2014) adalah hari terakhir kami di Makkah.  Thawaf Wada’ dilakukan terpisah-pisah, tidak seperti pelaksanaan thawaf pertama. Aku bersama Teh Syasa dan dua orang ibu dari Makassar melakukan thawaf perpisahan tersebut sebelum adzan subuh. Berat hati sebetulnya meninggalkan tanah haraam Makkah namun apa daya… berharap dan memohon terus kepada Sang Pemilik Alam dan Raga, Allah SWT, untuk mengijinkan aku kembali datang ke tanah haraam, aamiin…

Selesai mandi dan sarapan, kami menuju Madinah melalui Jeddah. Kami menyempatkan berziarah ke Makam Siti Hawa, Museum Masjidil Haram, lalu  ke Balad Shopping Centre. Di tepat perbelanjaan itu aku baru membeli oleh-oleh seperti cokelat, parfum-parfum kecil, dan pashmina. Setelah selesai belanja, barulah kami makan siang. Sebelum tujuan akhir Madinah, kami mampir dulu di Laut Merah dan Masjid Terapung.  Indahnya pemandangan di Laut Merah. Pertama kalinya aku melihat burung camar di depan mata di sepanjang pantai Laut Merah. Aiiih… cantiknya… kaki burung camar panjang kecil dan senang berada di air namun juga jika terbang tinggi mengitari pantai. Masya Allah.

Akhirnya, perjalanan ke Madinah dari Jeddah  setelah kami shalat Ashar. Pemandangan sepanjang jalan hanyalah gurun atau bukit batu, jarang sekali ditemukan tetumbuhan. Kendaraan yang lewat sangat sedikit, jauh bedanya dengan kondisi di Indonesia terutama Jakarta. Sesekali ada kulihat beberapa bangunan, entah itu rumah atau apa, tampaknya tak berpenghuni. Letak antara satu dan lainnya berjauhan. Selama perjalanan enam jam seingatku hanya dua rest area yang jaraknya satu dengan lainnya saling berjauhan. Hal itu membuatku agak ngeri. Berdoa dalam hati, semoga bis kami tidak ada kendala apa-apa karena pasti akan repot mencari bantuan.

Memasuki kota Madinah, kota haraam milik baginda Rasul Muhammad SAW, Jemaah yang tertidur dibangunkan dan diajak untuk bershalawat oleh mutawwif. Hotel tempat menginap letaknya cukup dekat dengan Masjid Nabawi yaitu Hotel Mubarok al Masy. Lebih megah dan lebih bersih daripada hotel di Makkah. Alhamdulillah…  dan sesaat setelah bis berhenti di depan hotel, aku langsung secepatnya turun karena merasa sudah tidak kuat lagi ingin buang air kecil, berjam-jam kutahan karena  supir melajukan bis tanpa pernah berhenti. Jadi, orang lain sibuk mengurusi koper dan tas, aku sibuk mencari toilet di hotel  yang baru pertama kali kumasuki. He he he… pikirku, biarlah koper dan tasku, pasti ada yang mengurusnya dan itu memang benar… Aku tinggal mencari tau kamarku dan ternyata teman kamarku sama dengan pada saat aku di Makkah.

Masjid Nabawi Madinah-2Masjid Nabawi… luar biasa indahnya… Masya Allah…. Aku bersama beberapa teman Jemaah dan mutawwif melakukan shalat Maghrib yang dijama’ qashar dengan shalat Isya di pelataran Masjid Nabawi setelah makan malam. Tidak bisa masuk ke dalam karena pintu masjid yang terbuat dari emas itu sudah ditutup. Bersyukur tak putus-putus kupanjatkan atas kesempatan yang diberikan Allah untuk bisa beribadah di tempat baginda Rasulku Muhammad SAW. Menyenangkan sekali bisa merasakan sujud di tempat suci dan indah di bawah langit langsung … Sebelum kembali ke hotel, muttawif mengajak  Jemaah laki-laki ke arah Daurah, makam Rasulullah SAW. Aku yang hanya bersama Bu Narti dan Bu Mukti, teman kamarku yang akhirnya mau keluar, dipersilakan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Jemaah perempuan akan ke daurah dari pintu yang berbeda, tidak boleh bercampur dengan Jemaah laki-laki. Insya Allah di hari yang lain….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s