Ketika Awal Menerima Undangan Allah

Tiada seorang pun yang bisa menyangkal bahwa setiap diri kita telah ada catatan takdir oleh Sang Pemilik Alam dan aku bersyukur sekali atas takdirNya untuk diundang ke tanah suci tahun ini. Suatu anugerah yang luar biasa mengingat diri ini tidak memiliki apa-apa namun ternyata undangan itu datang padaku. Subhanallah… Alhamdulillah… mimpiku untuk bisa beribadah ke Baitullah ternyata terwujud.

Teringat aku pada tanggal 19 Maret 2015 aku mulai mengurus paspor. Berangkat ke Kantor Imigrasi 15 menit sebelum adzan subuh untuk mengambil nomor antrean, lalu beranjak sebentar untuk shalat subuh di mesjid terdekat, lalu kembali ke tempat semula.Map yang berisi berkas-berkas diperlukan seperti Kartu Keluarga, KTP, dan Akte Kelahiran, asli maupun fotocopy kutitipkan pada keluarga yang sudah datang terlebih dulu dan shalat di depan gerbang. Kantor Imigrasi sebetulnya dibuka pukul 08.00 namun mengingat antrean yang sangat panjang dan nomor yang diberi jatah, maka aku memaksakan diri harus sudah tiba sebelum ayam berkokok.  Aku membuat paspor setelah diberitahukan oleh seorang kerabat bahwa aku sudah didaftarkan ke travel untuk umroh bulan April 2015.

Pada kenyataannya, aku memang berangkat umroh di bulan April tahun ini, namun bukan melalui travel dari kerabat karena sudah penuh. Aku mencari sendiri travel yang akan berangkat dalam bulan yang sama karena dengan perhitunganku, kondisi pekerjaan yang agak longgar. Siswa kelas 9 sudah selesai pembelajarannya,  siswa kelas 8 pun bukan dalam masa ulangan. Yang harus kulakukan untuk siswa kelas 8 adalah menitipkan tugas kepada bagian kurikulum dan piket.  Pihak travel pilihanku berdasarkan referensi dari guru mengajiku, Teh Syasa. Beliau juga kebetulan akan umroh dan bisa bersama denganku selama di tanah suci. Jadwal umroh mulai tanggal 18 April – 26 April 2015 dengan biaya yang menyenangkan sebesar US $1575. Free tax airport. Subhanallah….  Tentu saja itu di luar biaya untuk suntik meningitis, keterangan mahrom, pas foto dengan ukuran 80% background putih, dan beberapa perlengkapan pribadi.

Jumat (17/4/2015) tengah malam aku sudah harus tiba di Bandara Soeta dan 1,5 jam dari waktu yang ditentukan, aku sudah tiba di sana. Bertemu dengan suatu keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dan seorang ibu yang pada akhirnya nanti di tanah suci isteri dan ibu tersebut menjadi teman kamarku. Sambil menunggu Jemaah yang lain dan urusan sebelum masuk pesawat, kami diberi voucher makan oleh wakil dari travel, Teh Iis. Pesawat take-off pukul 04.00 dan herannya, aku samasekali tidak mengantuk selama menunggu berjam-jam. I only felt excited and grateful ….

Aku ternyata diberi mahrom seorang kakek yang berperawakan jauh berbeda denganku. Hi hi hi…beliau yang berkulit gelap dan berwajah khas Jawa menjadi mahromku yang jelas-jelas tidak ada darah Jawa dan berkulit kebalikannya. Petugas imigrasi di Bandara King Abdul Aziz sempat melotot yang pastilah tidak percaya saat aku menyebut  “He’s my grandfather”

Selama di pesawat aku hanya tertidur sebentar dan terjaga sampai tujuan setelah mendengar petugas bicara bahwa kondisi cuaca buruk dan semua penumpang diharapkan mengetatkan seatbelt. “Ya Rabb… betul-betul aku hanya bergantung padaMu mohon keselamatan sampai di tanah suci…” sempat melakukan shalat subuh dalam pesawat dan mengambil wudhu secara tayyamum.   Alhamdulillah… hampir pukul 11.00 waktu Saudi, pesawat landing. Perjalanan rupanya lebih dari 9 jam. Berbeda waktu 4 jam lebih mundur di sana daripada waktu di Indonesia.

Karena tujuan pertama dari Jeddah adalah Makkah yang berarti kami akan langsung umroh, maka syarat pertamanya adalah mengambil miqot dilakukan langsung di bandara. Mandi besar dengan membasahi rambut tanpa sabun dan shampoo, lalu mengenakan pakaian umroh. Dilarang hukumnya memakai wewangian. Tentu diiringi berwudhu  Lelaki langsung memakai pakaian ihrom. Tidak lama kemudian, shalat dzuhur di musholla. Selesai, barulah kami naik bis ke Makkah dan makan siang dalam bis sambil menikmati perjalanan Jeddah-Makkah. Selesai makan siang, selama perjalanan kami melantunkan terus talbiyah “Labbaika Allahumma Labbaik… Labbaikka laa Syariika Laka Labbaik… Innal Hamda, Wanni’mata, Laka Walmulka, Laa Syariika Laka…” masjidil haraam

 Aku dan rombongan menginap di Hotel Dar Elman azd Dzahabi di Makkah. Tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram dan dekat dengan lokasi burung-burung merpati. Banyak sekali burung merpati di Makkah dan uniknya, warna bulu-bulunya sama, abu-abu ada sedikit hitam. Setelah mendapat kunci kamar, kami langsung ke Masjidil Haram untuk shalat Ashar yang langsung diteruskan dengan umroh. Rombongan dipandu oleh seorang mutawwif bernama Ust. Yusuf, yang saat diperkenalkan,  seorang mahasiswa Indonesia yang sedang mengambil S2 di Cairo, Mesir.

Memasuki Masjidil Haram, perasaan haru dalam dada. Rasa syukur tak terhingga atas ijinNya aku bisa berada di sana. Terlebih saat mendekati Ka’bah. Dadaku berdegup, mataku terpaku dan mulutku tak putus-putusnya menyebut asmaNya… saat thawaf dilakukan, aku tak bisa mencegah air mataku turun. Menangis atas kemurahan Sang Maha Pemurah bahwa aku bisa ada di dekat bangunan suci Ka’bah. Mengingat diri yang penuh dosa namun ternyata aku terpilih untuk menerima undanganNya ke tanah suci. Subhanallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar…. Kupenuhi undanganMu Ya Allah…

ka'bah 2 Insiden terjadi saat kami thawaf.  Pada putaran keempat, aku “terlempar” dari rombongan. Mungkin karena fisikku yang masih lelah, kurang kuat menghadapi desakan-desakan badan-badan Jemaah negara lain yang lebih besar dan kuat. Ditambah pandanganku menoleh ke kanan melihat ibu tua teman sekamar berjalan terhuyung-huyung dengan muka pucat menengadah ke atas.  Nafasnya terlihat tersendat-sendat. Beliau memang dipegangi oleh anak dan menantunya. Namun tetap saja membuatku panik. Khawatir beliau pingsan atau mungkin yang lebih buruk lagi, na’udzubillahi… sehingga aku pun tak sadar keluar dari putaran thawaf dan menghampiri si ibu tersebut. Aku ikut membantu mendudukkan beliau di pinggir meskipun di situ kulihat para laki-laki yang sedang duduk berdoa mengelilingi Ka’bah.

Setelah si ibu istirahat, beliau mengingatkanku untuk kembali ke rombongan. Astagfirullah… aku tidak bisa melihat di mana rombonganku… aku pun tidak berani untuk masuk ke dalam mereka yang tengah thawaf, mereka yang kulihat banyak  berbadan besar dan tidak kukenal. Aku lemas mengingat thawafku belum mencapai 7 putaran. Aku mencari kekuatan dengan berzikir seraya minum air zamzam yang berada di pinggiran sepanjang tempat thawaf. Ya Allah… bagaimana dengan umrohku?

Petugas askar menyuruh kami pergi dari tempat itu karena sebentar lagi akan dikumandangkan adzan maghrib. Kami menuju tempat yang asing namun kusadari akhirnya adalah tempat sa’i.  Kuputuskan untuk shalat maghrib dulu. Setelah shalat, kulihat ternyata aku hanya bersama 4 orang dari rombongan. Ada seorang ibu yang berbadan besar dari Makassar yang juga sebagai Jemaah kami berada bersama aku dan keluarga ibu tua yang sakit. Aku betul-betul bingung, tidak tahu harus bagaimana dan menghubungi siapa. .

Setelah shalat Isya, kami mencoba keluar dari tempat sa’i untuk pulang ke hotel. Sayangnya… tak seorang pun dari kami yang tahu  di mana pintu keluar. The worst, nama hotel yang ada dalam nametag,  ternyata berbeda dengan hotel yang kami tempati. Innalillahi…

Kami duduk lama menanti bantuan di pelataran Masjidil Haram yang berlatar belakang jam raksasa. Aku betul-betul bingung, tidak tahu harus bagaimana dan menghubungi siapa. Di bandara aku sudah menukar simcard ponselku namun aku tidak punya nomor mutawwif. Sedangkan ustadz yang memimpin rombongan dari Jakarta, ternyata sulit juga untuk dihubungi. Padahal nomornya ada dalam buku panduan. Konyol memang… tapi aku tidak berani marah. Kucoba ikhlas karena meyakini bahwa semuanya terjadi karena kehendakNya. Ujian kesabaran di tanah suci….

Aku mencoba menelpon pihak travel di Jakarta untuk melaporkan kejadian tersebut dan aku diberi nomor salah seorang Jemaah yang merupakan pemimpin rombongan dari Makassar. Sayang, tidak diangkat-angkat. Mungkin beliau merasa tidak kenal dengan nomor aku. Suami istri yang bernasib sama denganku tiba-tiba teringat nomor seseorang yang kami kenal saat manasik di Jakarta. Namanya Ust. Nasution yang ternyata berada di Makkah juga bersama dengan rombongan travelnya. Alhamdulillah… akhirnya dibantu olehnya, kami bisa kembali ke hotel. Aku tidak ingat nama hotelnya saat itu tapi aku ingat jelas jalan menuju hotel setelah keluar dari gerbang Masjidil Haram. Kedatanganku disambut oleh  Teh Syasa dan kami berpelukan lega sampai jatuh terduduk di sofa. Ust. Yusuf sang mutawwif berdiri terpaku di pintu hotel.

Waktu Saudi saat itu sudah menunjukkan pukul 23.00  Aku yang betul-betul lelah dan mengantuk hanya mampu bicara pada mutawwif tentang thawafku yang belum sempat selesai dan beliau berjanji akan menemaniku besok paginya, bada shalat subuh untuk menuntaskan thawafku yang terputus sebagai rukun umrohku. Alhamdulillah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s