Belajar Memandikan Jenazah

Belajar mengafani jenasahPelatihan Jenasah 3Pelatihan Jenasah 2tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat

Ilmu tidak selalu diperoleh dari sebuah lembaga pendidikan bernama sekolah.  Ilmu bukan hanya tentang duniawi saja, namun juga ilmu tentang akherat.  Selama hayat masih dikandung badan, maka kita wajib menuntut ilmu.  Salah satu ikhtiar memperoleh ilmu adalah pergi ke majelis ilmu. Tiap hari Sabtu aku pergi ke majelis ilmu yang ada di daerah Cipaku, Jakarta Selatan. Melalui mesjid Daarut Tauhid, aku mencoba membekali diri dengan belajar ilmu yang bersumberkan dari Al Qur’an atau  hadist.

Hari Sabtu lalu (20/9/2014) aku diberi ilmu tentang memandikan jenazah. Hukum memandikan jenazah adalah fardhu kifayah yang artinya jika ada orang lain yang sudah melaksanakan maka gugurlah kewajiban. Namun sangat baik jika dari pihak keluarga jenazah ada yang ikut terlibat dalam memandikan jenazah.

Sebelum dimulai kegiatan intinya, guru mengingatkan bahwa semua peralatan yang berkaitan dengan memandikan jenazah harus sudah disiapkan, seperti ember, gayung, sarung tangan, pelindung tubuh (agar tidak terkena kotoran), masker, waslap, sabun, shampoo, kain, dan kapur barus. ( dapat ditambah daun bidara jika ada)  Air pun lebih baik berasal langsung dari keran dan menggunakan selang atau shower.

Awal proses memandikan jenazah menggunakan model boneka. Sedangkan  saat “jenazah” selesai dimandikan dan siap diberi kain kafan, modelnya berganti menjadi manusia.  Salah seorang teman bersedia menjadi model yang  berperan sebagai jenazah. Sebelum sang model action, guru juga menganjurkan kita sudah mempersiapkan kain kafan yang sudah diukur sesuai badan jenazah dan kain penutup aurat. Bukan hanya diukur, namun juga dibentuk sesuai tempatnya, misalkan bagian kepala berarti guntingan di lipatan atas agar saat kita akan meletakkan kepala si jenazah, tinggal dimasukkan melalui “lubang” yang sudah disediakan. Tali pengikatnya disiapkan 7 helai untuk digunakan di bagian kepala, tangan sampai kaki.

Kegiatan inti dimulai tanpa menggunakan air sungguhan karena kita praktek di dalam ruangan mesjid. Boneka “disiram” air dengan menggunakan gayung dan ember… dilakukan dengan lembut dan tidak boleh tergesa-gesa. Karena pusat kotoran mahluk berasal dari perut, maka kita tekan perut pelan-pelan  sebanyak 3x menggunakan tangan kita sebelah kiri yang sudah dilapisi oleh sarung tangan dan waslap. Jenazah diwudhukan dengan sebelumnya dibacakan basmallah. Wudhu tidak hanya diwajibkan bagi jenazah, namun juga bagi yang memandikannya dan dianjurkan mandi setelah selesai. Menyiram air mulai dari anggota wudhu yang sebelah kanan, setelah itu baru yang kiri. Badan jenazah diposisikan miring ke kanan dan ke kiri, setelah selesai secepatnya tutup kembali auratnya.

Saat dimandikan, jenazah hendaknya diletakkan di atas dipan dan harus ditutup rapat agar tidak terlihat oleh umum. Orang yang memandikan “wajib” melindungi aurat  jenazah meskipun ia sudah tidak bernyawa . Kain diletakkan mulai dari dada sampai lutut, namun bisa bagian kepalanya pun ikut ditutup.  Rambut jenazah agar bersih diberi shampoo dan badannya disabuni. Jika rambutnya panjang, bisa dikepang. Setelah selesai, kepala jenazah diberi kain khusus seolah ia memakai jilbab. Siraman terakhir menggunakan air kapur barus. Lalu badan jenazah dikeringkan dengan handuk bersih. Lalu kain yang basah diganti dengan kain yang kering untuk menutupi badan jenazah. Wewangian maupun kapur barus bisa diletakkan di atas kain penutup jenazah.

Selesai proses memandikan, maka jenazah diangkat ke atas kain kafan yang sudah terhampar. Mengkafani jenazah pun harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak boleh kasar. Kapas bisa diberikan pada lubang hidung maupun lubang telinga jenazah. Jika saat sudah dikafani ternyata masih ada darah yang keluar dari lubang badan jenazah, harus segera diganti kapasnya dan itu biasanya pengaruh dari penyakit yang diderita si jenazah.

Menurut guru, kunci utama saat kita memandikan jenazah adalah siap mental. Terlebih jika kita akan dihadapkan pada jenazah yang rusak, misalkan karena kecelakaan atau sakit berat yang menimbulkan badannya tidak sempurna.

Selama proses pembelajaran berlangsung, aku merenung dan mencoba mengingat bagaimana proses memandikan jenazah mamaku dulu. Beberapa hal tidak sama seperti yang diajarkan guru, namun aku tidak mungkin bisa mengulangnya lagi. Jika proses memandikan mamaku ternyata kurang tepat menurut syariat,  itu karena ilmuku yang masih sangat terbatas.

Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni atas tiap kesalahan dan kelalaianku, juga memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik lagi dengan tuntunan ilmu yang benar, aamiin.…

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s