Ketika Palu Diserahkan Padaku…

Hari  Kamis lalu, tanggal 13/6/2014, adalah hari yang paling bersejarah selama masa kerjaku di SMP Bakti Mulya 400.  Dari awal, saat pertama kali aku menginjakkan kakiku ke tempat ini dan menemui pemimpin sekolah, aku sudah diberitahu bahwa aku akan diserahi amanah mengajar mata pelajaran yang berkaitan dengan sikap/ moral yakni PKn. Sayangnya… sebagian besar siswa tidak menyukai mata pelajaran  PKn dan hanya sedikit siswa yang suka membaca. Jadi, perjuanganku untuk membuat mata pelajaran PKn diterima baik oleh siswa tidak mudah. Apalagi pertemuan hanya sekali seminggu di tiap kelas dengan materi yang cukup banyak, terutama di kelas 8.

Hari Kamis lalu diadakan rapat kenaikan kelas. Ada 3 orang siswa dari kelas 8, yang jumlahnya lebih dari 100 siswa, mendapat nilai yang dibawah KKM. Sulit untuk mengubahnya menjadi sesuai KKM karena mereka termasuk siswa yang kurang menyadari tanggung jawab. Saat dipanggil untuk remedial, mereka tidak muncul. Tugas pun dikumpulkan jauh dari waktu yang ditentukan. Parahnya, nilai di ujian akhir (UAS) jatuh. Sikap saat pembelajaran dalam kelas pun tidak bisa menolong.

Sebelum rapat dimulai, kepala sekolah memanggilku dengan mencoba konfirmasi atas nilai yang kuberikan pada 3 siswa tersebut. Bukan berarti di pelajaran lain tidak ada yang merah atau dibawah KKM, tapi mata pelajaranku adalah mutlak harus minimal sesuai KKM. Jika itu tidak terjadi, maka konsekwensinya adalah mereka tidak naik kelas. Aku pun memaparkan alasanku dengan jelas per anak tersebut. Menurut kepala sekolah, aku-lah yang akan menjadi pengambil putusan: “naik/tidak naik”  Rupanya beliau menyerahkan palu untuk diketuk olehku! Subhanallahkeputusan

Saat rapat berlangsung, perasaanku tidak keruan. Berat rasanya jika aku yang harus mengambil keputusan untuk sesuatu yang besar. Ketika aku masih menjadi guru di Sekolah Dasar dulu,  kepala sekolah ikut terlibat beserta pihak Bimbingan Konseling. Jadi, hal seperti ini adalah pertama kalinya terjadi padaku. Mengemban tanggung jawab atas masa depan anak hanya berdasarkan kata yang terucap: “naik/ tidak naik.” Maka untuk menenangkan hati, sebelum aku dipersilakan untuk bicara, dzikir terus kuucapkan dalam hati. “Ya Allah, hamba mohon pertolonganMu…” Pimpinan sekolah sempat menegur para wali kelas agar lebih optimal bekerja dalam menjembatani siswanya dengan guru mata pelajaran dan harus ditekankan pada siswa agar tidak sekali-kali meremehkan guru atau pelajaran, like or dislike….

Finally, demi kepentingan bersama… aku memutuskan untuk memberi 1 kali lagi kesempatan, sebelum rapor dibagikan.Kulihat semua peserta rapat terutama para wali kelas yang bersangkutan bernapas lega. Kuajukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tiap anak tersebut sebelum remedial khusus dilakukan. Jumat pagi orang tua dari para siswa tersebut dipanggil untuk menghadap dan berbicara bersama wali kelas dan pihak Bimbingan Konseling. Alhamdulillah… hari Senin kemarin, tepatnya tanggal 16/6/2014, mereka semua hadir dan melakukan apa yang aku instruksikan dengan baik. Soal yang kuberikan pada tiap anak tidak sama, tapi materi yang dipelajari sama. Alhasil mereka harus betul-betul belajar karena tidak bisa ada celah sedikit pun untuk menyontek. Jadi, hasilnya semakin fair bagi semua pihak. Setelah kuperiksa dan kunilai hasil remedial khusus tersebut,  aku menjadi mantap untuk mengetukkan palu: “naik kelas!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s