Malangnya Orang Sakit…

Tadi pagi sebenarnya aku berencana akan menemui internis atau dokter penyakit dalam karena sudah beberapa minggu ini perutku maupun kepalaku sering bermasalah. Sejak Jumat kemarin, tidak ada jam mengajar kecuali berpartisipasi menjadi penguji praktek ibadah. Jadi, merasa kondisi menunjang, maka aku minta ijin ke kepala sekolah untuk ke rumah sakit sebentar. Tujuanku adalah sebuah rumah sakit besar milik pemerintah yang terletak di kawasan selatan Jakarta dan tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja.

Sesampai di sana, seperti biasa aku mengambil nomor antrean. Saat giliranku tiba dan kusampaikan tujuanku untuk ke bagian penyakit dalam, petugas langsung bertanya apa aku sudah ada jadwal. Loh, bukankah rumah sakit besar pasti memiliki lebih dari seorang internis? Maka, untuk lebih memuaskan rasa penasaranku, tanpa mengambil nomor, aku naik ke lantai 2 ke bagian penyakit dalam. Belum ada suster di depan kamar-kamar  praktek dokter karena mungkin waktu masih menunjukkan pukul 07.15. Yang ada di sana adalah petugas pendaftaran, 3 orang pria, yang melayaniku dan pasien-pasien lain tanpa merasa perlu diiringi senyum ramah.

“Ibu mau ke dokter siapa?”

“Dokter siapa saja, yang penting perempuan”

“Ibu sudah punya jadwal? Di sini harus daftar dulu sebelumnya”

“Ya, saya sekarang mau daftar. Saya belum punya jadwal  tapi saya ingin dokter yang perempuan”

“Kalau ibu daftar sekarang, ibu gak bisa ketemu dokternya hari ini. Nanti, baru bisanya bulan depan”

Hah?!  Masya Allah… Bulan depan? Sakitnya sekarang, ketemu dokternya baru bisa bulan depan? Pelayanan macam apa ini?

Melihat aku yang melotot, petugas memberikan solusi, aku disuruh ke “anak” rumah sakit tersebut yang dikelola swasta yang terletak di belakang, dekat restaurant ayam goreng . Akhirnya, aku pergi menuju rumah sakit yang dimaksud.

Bangunannya jauh lebih kecil namun terlihat eksklusif. Ada AC, lebih bersih, dan lebih sepi. Petugas yang melayani juga terlihat lebih baik. Setelah namaku dicatat dan kebetulan juga ada dokter internis yang perempuan, aku diminta menunggu. Sambil duduk aku mendengar ada beberapa pasien yang ingin bertemu dokter jantung ternyata tidak bisa karena dokternya tidak praktek. Loh, swasta tapi dokternya tidak stand by? 1 jam lebih aku duduk, aku bertanya kepada petugas jam berapa dokternya tiba. Dengan santai ia menjawab, “Jam 10.00”  Subhanallah

Akhirnya, kuputuskan tidak jadi berobat hari ini. Tugasku masih banyak di sekolah. Aku pun terlanjur kecewa dengan pelayanan rumah sakit ini. Tidak professional dan tidak mengedepankan sisi manusiawi seperti layaknya sebuah lembaga pelayanan kesehatan. Kapan negeri ini maju jika pelayanan kesehatan masyarakat seperti ini? Apakah hak untuk dilayani dan diobati baik hanya berlaku bagi orang-orang kaya saja yang tentu akan memilih ke rumah sakit ternama dan mahal??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s