Melewati Banjir di Ibukota

Pertama kalinya dalam hidup, aku harus berkendaraan melewati banjir besar dalam kondisi mesin kendaraan yang sudah berbau tidak enak. Mungkin karena diikuti kondisi lalu lintas yang macet parah sehingga supir berkali-kali menginjak rem atau kopling yang ujung-ujungnya berbau tidak enak, membuatku mual & agak panik (kuatir beracun).

sekolah tarkit banjirbanjir-bis kotaAku merasakan bagaimana menempuh perjalanan dalam kondisi banjir besar di lokasi Jl Tandean Jakarta Selatan, tepatnya depan sekolah Tarakanita. Masya Allah.., dari dalam kendaraan kulihat air setinggi pinggang orang dewasa ( ada beberapa orang dewasa yang kulihat nekad berjalan kaki dekat sekolah ). Bahkan sebelum Tarakanita pun, ada kali kecil yang airnya sudah meluap setinggi jembatannya. Motor & bajaj, tidak ada yang berani lewat. Mobil, itu pun yang ukuran besar & bis atau metro mini. Mobil pribadi sedan, berpikir seribu kali untuk menantang banjir. Ada perahu karet lengkap dengan petugas & gerobak yang siap sewaktu-waktu untuk menolong orang-orang yang akan melewati banjir. Banyak orang yang mau tidak mau harus melewati rute jalan ini, termasuk aku yang hendak menuju sebuah klinik gigi di Jl Adityawarman.

Banjir Jakarta bukan pertama kali terjadi di tahun ini. Namun herannya, warga Jakarta masih saja berani membuang sampah sembarangan, tidak peduli lingkungan kotor, malas membuat sumur resapan mengingat tempat resapan air jika curah hujan tinggi sudah semakin sedikit, dibiarkannya gedung atau bangunan mewah terus dibangun, gorong-gorong yang ditutup beton, pepohonan langka… yang ada justru menyalahkan alam atau daerah tetangga Bogor & sekitarnya yang dianggap “tega” membiarkan air terus mengalir ke arah Sungai Ciliwung! Lha, Jakarta datarannya lebih rendah daripada Bogor & sekitarnya, bukannya wajar jika air mengalir dari atas menuju ke bawah?  Kalau pun dianggap “terlalu banyak” bukankah ada peranan dari orang-orang Jakarta yang sudah merusak ekosistem di daerah Puncak dengan banyak membangun villa atau bangunan mewah sehingga pepohonan yang bisa untuk menjadi penahan airnya langka? Parahnya lagi, kondisi sekitar sungai atau kali di Jakarta yang kotor & banyak dikelilingi bangunan liar. banjir-sampah

banjir di Bunderan HIJakarta, ibu kota yang malang… sudah dipenuhi banyak koruptor & orang-orang tamak, ditambah lagi dengan predikat jati diri macet & banjir. Innalillahi... Mau menyalahkan pemimpin yang baru? Waduuh… bijaksanakah itu, menyalahkan mereka yang sebetulnya bukan warga asli Jakarta & berada di Jakarta hanya karena mengemban tugas negara  dalam waktu baru setahun lebih? Tidakkah ada keinginan menjaga Jakarta dari tiap diri sendiri? Semangat membangun Jakarta, semangat menjemput rejeki di Jakarta berarti seyogyanya diiringi semangat menjaga Jakarta, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s