Kedudukan Seorang Anak Di Mata Islam

a lovely babyDalam Islam, seorang anak yang lahir tergadaikan kecuali orang tuanya sudah meng-aqiqah-kan anak tersebut. Aqiqah artinya melakukan pemotongan kambing, 1 ekor bagi anak perempuan & 2 ekor bagi anak laki-laki, dilakukan pada hari ketujuh setelah kelahiran.

Upacara aqiqah biasanya dilengkapi dengan pengajian & pencukuran rambut bayi. Tiap ibu yang hadir dalam pengajian diberi kesempatan untuk menggunting helaian rambut sang bayi sambil membisikkan doa ke telinganya. Lalu biasanya sebagai “tanda terima kasih” dibalas dengan diberi semprotan minyak wangi ke tangan para ibu yang sudah menggunting rambut bayi tersebut.

Pengajian diisi dengan siraman rohani lain berupa tausiyah mengenai “Kedudukan Seorang Anak di Mata Islam.”  Bahwa seorang anak (al Walad) dalam Islam bisa terbagi menjadi 3 macam, yakni:

  1. Anak sebagai aduwwan (cobaan/fitnah/musibah)
  2. Anak sebagai ziinatulhayati (hiasan kehidupan dunia)
  3. Anak sebagai qurrataa’yun (yang menyenangkan mata dunia akherat)

1)  Berdasarkan Q.S. Al Anfal 8:28 & Attaghabun 64: 14-15 “Mengapa anak bisa menjadi aduwwan?”

Tidak sedikit orang tua jaman sekarang yang merasa telah mendidik anaknya saat masih kecil dengan baik, namun saat sudah remaja bahkan dewasa, si anak membuat aib keluarga. Hal itu biasanya terjadi dari pengaruh pergaulan yang salah, ditambah lagi jika orang tuanya yang terlalu sibuk sehingga lalai memperhatikan anak & salah memberikan kasih sayang.

 2)  Berdasarkan Q.S. Al Hadid 57:20 & Al Kahfi  18:46 “Mengapa anak bisa menjadi ziinatulhayati?”

Karena sesungguhnya kehidupan di dunia ini adalah kesenangan termasuk adanya anak dalam keluarga. Dengan kehadiran seorang anak dalam keluarga bisa membuat sepasang suami istri menjadi lebih harmonis  & bahagia. Terlebih lagi jika si anak  memiliki prestasi, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah melalui seni atau olah raga. Kecantikan atau ketampanan fisik seorang anak juga sering menjadi suatu kebanggaan orang tua meskipun hal tersebut tentunya tidak menjamin kebahagiaan.

 3)  Berdasarkan Q.S.   Al Furqon: 74   “Mengapa anak bisa menjadi qurrataa’yun?”

Seyogyanya tiap orang tua menyadari bahwa anak adalah amanah Allah, Sang Pemilik Alam. Mendidik anak melalui cara ketauladanan adalah hal utama sehingga anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat, cerdas, & mengenal Rabb-nya yang direalisasikan dengan ketaqwaan & ahlak/ perilaku yang baik. Tidak perlu anak harus memiliki keindahan fisik untuk bisa menyenangkan orang tua, namun keindahan ahlak/ perilaku yang bisa menentramkan hati  adalah membahagiakan & menyenangkan mata bagi siapa pun yang melihat.

Hadist Rasulullah SAW menyebutkan bahwa “Didiklah anak2 kalian dalam 3 perkara: mencintai Nabimu, mencintai keluarga, & tilawah al Qur’an karena orang yang memelihara Al Qur’an berada dalam lindungan singgasana Allah bersama para Nabinya & orang2 yang suci, pada hari itu tidak ada perlindungan selain dari perlindunganNya”     ( H.R. At-Thabrani dari Ali r.a.)

pendidikan-siswaMaka, jika orang tua ingin anaknya berhasil di masa depan, lahir batinnya terjaga, seyogyanya mengawali didikan sesuai dengan tuntunan agama, mengiringi sepanjang masa pertumbuhannya juga sesuai dengan tuntunan agama,  & tetap mendoakannya sampai akhir hayatnya. Wallahu alam….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s