Sekolahku, Yuwati Bhakti Sukabumi

Mengenang masa lalu membuatku bersyukur. Terutama saat dulu aku disekolahkan orang tuaku di sekolah yang bernama Yuwati Bhakti. Menghabiskan masa kecil di Sukabumi, sebuah kota kecil yang saat itu masih tenang, namun memiliki beberapa sekolah yang cukup baik mutunya, diantaranya adalah sekolahku yang terkenal dengan disiplin & prestasi.

SMP YBYuwati Bhakti… sebuah yayasan yang berhubungan erat dengan St. Ursula, dibangun dari jaman Belanda namun bangunannya tetap terlihat kokoh & kuat sampai sekarang. Lokasinya di Jalan Suryakencana, berdekatan dengan sebuah puskesmas besar di Sukabumi. Sejak aku menjadi bagian sebagai murid sampai sekarang, tiap aku berkunjung ke Sukabumi & melewatinya, bangunan itu tetap berdiri megah & terjaga baik. Aku ingat, saat aku menjadi ketua kelas & memimpin barisan sebelum masuk kelas,  pernah jatuh karena terdorong teman laki-laki yang berbadan besar. Kepalaku terbentur lantai yang terbuat dari marmer dari jaman Belanda (tidak ada lagi di jaman sekarang). Terasa dingin & kuat. Tiap level di SD ada 2 kelas, sedangkan di SMP ada 3 kelas. Perpustakaannya besar, juga laboratoriumnya. Tersedia kantin di dalam sekolah, jadi tidak ada murid yang mencari jajan di luar sekolah.

Aku menjadi murid di Yuwati Bhakti sejak SD hingga kelas 2 SMP. Saat aku pertama kali bersekolah di sana, kepala sekolahnya seorang suster Belanda bernama Suster Bernado. Sangat ramah & penyayang terhadap anak-anak, namun karena usianya yang sudah lanjut, beliau hanya setahun menjadi kepala sekolahku, kemudian digantikan oleh suster lokal, WNI asli, sampai aku terakhir bersekolah di sana.  Kedisiplinan adalah hal yang paling utama bersekolah di sana. Murid dibekali tugas setiap hari pun, tidak ada yang mengeluh. Diberikan ulangan mendadak, selalu siap karena memang sudah diwanti-wanti sebelumnya untuk rajin membaca pelajaran setiap hari, tidak perlu menunggu jadwal ulangan. Upacara bendera setiap hari Senin di bawah hangatnya sinar matahari. Olah raga terkadang keluar sekolah menuju ke lapangan utama kota atau ke kolam renang yang lokasinya lebih dari 1 km, dekat tempat wisata Selabintana. Karena masa itu komputer belum banyak, pelajaran komputer baru diperkenalkan saat aku SMP. Hubungan guru & murid sangat baik karena tidak adanya murid yang berani melawan atau tidak sopan terhadap guru. Guru yang paling aku kenang adalah alm. Bu Yanti, guruku kelas 1 SD. Beliau meninggal saat aku kelas 1 SMP & kami sempat bertemu sehari menjelang kepulangannya kepada Sang Pencipta. Beliaulah yang mengajariku cara menulis yang baik & indah sampai aku sering diminta tolong oleh para guru untuk menuliskan catatan di papan tulis & punya prestasi dari menulis.

Terma kasih sekolahku… terima kasih guru-guruku… tanpa bantuan kalian, aku tidak bisa menjadi apa-apa sekarang. Semangat mengajar kalian adalah keteladanan bagiku. Semoga pahalaNya selalu mengalir deras untuk semua guruku, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s