Mengenang Papa…

Tanggal 29 Juli di empat tahun lalu, kejadian luar biasa pertama terjadi. Aku ditelpon oleh Ma Atih, adik mama, yang mengatakan bahwa papa sakit. KAGET. Dua hari sebelumnya, papa masih menelpon aku, menanyakan kabarku saat aku dalam perjalanan pulang dari Sukabumi menuju Bekasi. Papa yang saat itu ada di Sukabumi ternyata ditakdirkan Allah untuk menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Aku tidak menyangka sama sekali, tatapan papa di Minggu sore melihatku keluar rumah menuju terminal adalah  untuk yang terakhir kalinya,  Papa yang kutahu, masih punya semangat untuk menjemput rizqi di usianya yang 75 tahun. Papa tidak mau memberatiku. Beliau sangat tahu kondisiku yang bekerja sebagai guru. Dengan sedikit modal yang ada, beliau akan bisnis di kota kelahirannya, Manado, sambil berkumpul bersama keluarga besarnya.

Saat masih di sekolah, kuakui hari itu, Rabu, perasaanku “tidak enak” Ingin pulang ke Sukabumi, mengingat mama yang sedang sakit, juga ingin bertemu papa yang Kamis atau Jumat akan berangkat ke Jakarta untuk kemudian terbang ke Manado. Tiket sudah dipesan, keluarga di Manado sudah menunggu.  Ternyata… selesai shalat maghrib, aku diberitahu oleh Ma Atih: “Dew, papa sudah gak ada!” Histeris tidak percaya… tapi itulah yang terjadi! Teman kostku mencoba menenanganku. Akhirnya aku cuma bisa menangis & saat itu juga kuputuskan untuk pulang ke Sukabumi. Rabu malam, berangkat dari Bekasi hampir pukul 21.00 & sampai di rumah menjelang tengah malam. Sepanjang jalan aku tidak bisa menahan tangis, namun dalam hati aku bertekad untuk tidak menangis di depan mama. Mama sedang sakit. Aku harus kuat & harus bisa menguatkan mama.

Esok paginya, papa dikuburkan dengan bantuan pengurusannya oleh paman, Om Don, yang subhanallah… sedang ada di Jakarta, bukan di Manado. Mana mungkin aku bisa mengurus pemakaman papa sendiri. Kepalaku serasa kosong, tenagaku serasa hilang dengan melihat papa sudah tiada. Kupandangi papa yang seperti sedang tidur. Kuciumi pipinya sambil berbisik, “Papa… ini teteh datang” Kujaga air mataku untuk tidak sampai mengenai pipinya. Ya Allah… sulit dipercaya papaku sudah tidak bisa bergerak lagi menyambutku. Berdoa terus dalam hati, mohon aku diberi kekuatan….

Depan mama aku “berhasil” tidak menangis, namun saat shalat terutama sebelum jenasah papa dibawa ke ambulance, tidak bisa tidak aku menangis… Aku belum sempat meminta maaf atas semua dosa & kesalahanku pada beliau. Aku ingin sekali mengucapkan kata maaf di telinganya, andaikan bisa...

Papa adalah pejuang hebat di mataku… juga sosok yang sangat setia & mencintai mama sampai akhir hayatnya… Sebelum kejadian papa meninggal, menurut cerita pembantu, saat itu papa menuju ke apotek, hendak menebus obat untuk mama yang sedang sakit. Di tengah jalan, tiba-tiba papa merasa pusing. Ditemani oleh Haekal, keponakanku yang berusia 5 tahun, papa kembali ke rumah. Mengeluh terus pusing, duduk lemas, sampai berbaring di sofa & menggigil sampai akhirnya meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. .

Aku tidak berani marah pada Allah atas kepergian papa. Aku hanya menyesali diri belum bisa membahagiakannya hingga kepergiannya dari dunia ini… Tidak mungkin juga aku minta Allah waktu dimundurkan kembali agar aku bisa sempat mengucapkan kata “maaf”   Yang cuma bisa kulakukan adalah mendoakannya, memohon disampaikan permintaan maafku yang sedalam-dalamnya pada beliau, & meneladani semua sifat baiknya seraya berharap di hari akhir nanti, Allah mempertemukan kami kembali dalam syurgaNya, aamiin...

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s