Ramadhan Tanpa Mama

Empat tahun sudah aku merasakan ibadah Ramadhan tanpa mama. Tidak pernah terlupakan di hari terakhir aku bersama mama, beliau yang dalam kondisi kurang sehat namun lebih dulu bangun untuk menyiapkan makan sahur. Bukan makanan mahal, cuma sekedar tumis kangkung & tempe goreng tapi terasa istimewa karena mama yang membuatnya. Mama selalu memasakkan apa yang aku suka, apa yang baik untuk kesehatanku. Mama yang sudah berkurang pendengarannya tapi tidak pernah terlambat bangun karena sudah menjadi rutinitasnya bangun di sepertiga malam. Mama yang subhanallah,   sangat luar biasa perjuangannya menjalani ujian hidup…

Di bulan Ramadhan 2009 aku merasakan terakhir kali bersama mama. Sehari setelah kedatanganku, seminggu menjelang Idul Fitri, Allah memanggil mama pulang… Sama sekali tidak menyangka karena pada malamnya sebelum tidur, aku & mama masih berbincang  tentang banyak hal, terutama kue-kue kering yang akan dibuat untuk lebaran. Tidak ada firasat apa-apa, baik pada hari-hari sebelumnya maupun di detik-detik terakhir menjelang mama meninggal… sehingga aku tidak tahu  saat mama terjatuh di dapur! Tidak ada bunyi apa-apa… Aku menemukan mama terduduk di dekat tempat cuci piring dengan mata terpejam & baju basah terkena cipratan air dari ember di belakang badan mama. Aku mencoba sekuat tenaga membangunkan mama sambil terus beristigfar tapi mama tetap diam. Aku berlari mencari pertolongan & kuyakini mama sudah betul-betul tidak ada saat petugas ambulance datang. Petugas yang meyakinkan aku dengan meletakkan kaca di depan hidung mama. Shock! Aku seperti didorong jatuh ke jurang. Ingin aku berlari membangunkan mama tapi tenagaku hilang & para tetanggalah yang membantu menenangiku. Ya Allah… padahal baru dua bulan sebelumnya Kau panggil papa pulang, juga dengan cara mendadak! Beraat… tapi aku bisa apa melawan kehendakNya? Allah punya kekuasaan untuk menentukan batas umur manusia, tidak ada perpanjangan waktu meskipun cuma sedetik.

Mama… Sahur tanpamu terasa hampa. Menjalani ibadah Ramadhan tanpamu terasa tidak lengkap. Bahkan saat selesai Shalat Ied terasa sedih karena tidak ada mama untuk kupeluk & kumintai maaf…  Aku anakmu yang penuh dosa ini belum sempat membalas semua kebaikanmu… tidak pernah bisa menggantikan pengorbananmu dalam membesarkanku… Kesabaranmu adalah suri tauladan bagiku, guru yang paling nyata saat aku menjalani semua ujian Allah ta’ala….

Ya Rabb, kuterima sudah takdirMu… mohon lapangkanlah & berikanlah selalu cahaya pada kubur mamaku… ampuni dosa-dosanya semasa beliau hidup… berikanlah rahmat & kasih sayangMu untuk menjauhkan mama dari fitnah kubur… sampaikan pada mama rasa cintaku, sayangku, & rinduku… berikanlah aku selalu kesempatan untuk menambah berat timbangan pahala mama saat dihisab kelak… bebaskan mama dari siksa neraka & berikanlah mama tempat terindah di dalam syurgaMu, aamiin YRA….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s