Memanfaatkan Kesempatan Dalam Kesempitan

Mengingat perjalanan kemarin ke Sukabumi… Berniat ziarah ke makam orang tua sekalian mengurus dokumen yang masih ada di rumah Ketua RT di sana, lalu silaturrahim dengan keluarga yang pernah mengurus almarhum mama semasa hidupnya dulu. Berangkat pukul 08.00 dari Jakarta, menunggu bis yang jurusan langsung Sukabumi- Lebak Bulus di halte seberang Hotel Mercure, dekat tempat tinggalku sekarang. Lima belas menit pertama aku menunggu, masih tenang. Lima belas menit berikutnya, aku mulai gelisah karena mengingat macetnya daerah yang harus kulalui. Lima belas lagi, akhirnya kuputuskan untuk naik bis yang jurusan Bogor- Lebak Bulus. Biarlah aku ganti kendaraan di Bogor saja. Prinsipku “banyak jalan menuju Roma”
Kendaraan yang aku naiki di Bogor menuju Sukabumi adalah sejenis colt, L-300. Satu-satunya alasan aku mau naik kendaraan ini adalah jalannya yang cepat, sering motong jalur lewat “jalan tikus” & tidak akan ada pedagang asongan yang masuk mengganggu kenyamanan. Namun memang resikonya juga ada. karena sering ngebut, jarang colt yang selamat. Parahnya lagi, supir atau kernet suka seenaknya menaikkan tarif. seperti yang kualami hari ini…
Menyadari bahwa jalur dari Ciawi selalu macet, maka kernet memanfaatkan situasi dengan menaikkan tarif hampir dua kali lipat. Alasannya supir akan motong jalan melalui daerah Cihideung. Tarif normal yang hanya Rp 12.000,00 berubah menjadi Rp 20.000,00 Aku melotot. Namun melihat penumpang lain diam & aku sendiri dikejar waktu, mau tidak mau aku setuju. money sqeeze
Kernet yang menerima uang ternyata tidak ikut sampai tujuan. Belum keluar dari kota Bogor, dia & supir yang membawa kendaraan dari terminal, berganti dengan supir baru yang tanpa kernet. Namun sebelumnya, kulihat ada pembagian uang dari si kernet kepada supir yang baru.
Supir baru ternyata tidak diberitahu harus melalui Cihideung alias “jalan tikus”. Ia mengarahkan kendaraan ke arah Ciawi. Aku yang sadar pertama kali, langsung protes. Penumpang lain pun mengikutiku, protes! Supir diberi pilihan, tetap melalui Ciawi namun uang kembali sesuai tarif normal atau melalui Cihideung agar tidak kena macet. Akhirnya supir berbalik arah, ambil pilihan kedua. Tentu saja, ia tidak akan mau mengembalikan uang yang sudah diterima, jadi lebih baik ia mengalah.
Menyoroti kejadian ini, aku berpikir kapan mental orang-orang itu berubah? Suka memanfaatkan situasi dengan cara memeras orang lain? Tidak sadarkah bahwa perbuatan itu membuat rejeki mereka tidak berkah? Apakah mereka pikir bisa kaya jika mencari penghasilan dengan cara seperti itu? Sayangnya, banyak orang-orang seperti itu di negeri tercinta ini… Mental preman, tukang mimpi, hidup santai, ingin kaya tanpa usaha, sering memanfaatkan situasi terhadap orang lain yang sedang terdesak. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang tidak mengundang keberkahan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s