Apa Yang Kita Tanam, Itulah Yang Kita Tuai

Kamis di awal bulan Juli 2013 adalah Kamis terakhir aku berada di Bekasi. Dari awal sudah kuniati bahwa aku akan mengisi hari dengan bersilaturrahim ke rumah salah satu murid, Faiz. Aku memilihnya bukan hanya karena hubunganku yang cukup dekat dengan ibunya, namun juga karena ibunya yang kuanggap sebagai “wakil”  & mempunyai “kemampuan” untuk memberitahu orang tua murid lainnya bahwa “aku pamit” Hujan yang turun sedari subuh tidak menyuruti niatku untuk pergi. Karena aku bukan hanya akan sekedar berkunjung biasa, namun aku akan pamit. 

Saat bersiap berangkat, aku ternyata kedatangan tamu, salah satu rekan kerjaku , Bu Yani, beserta putri kecilnya, Hilwa. Ia baru dari sekolah, baru mendengar berita tentang kepindahanku, & akan konfirmasi sendiri ke tempatku. Mengingat aku sebenarnya sudah ada janji namun juga di lain pihak wajib menghormati tamu, maka aku beritahu dulu ibu dari muridku bahwa kedatanganku yang rencananya jam 10.00 diundur menjadi bada dzuhur. Beliau yang mengira aku cuma akan sekedar berkunjung, berkata bahwa tidak usah dipaksa hari ini jika aku tidak bisa. Tidak hari ini bagiku sama artinya tidak akan ada waktu lagi karena Jumat & Sabtu aku sudah ada rencana lain. Akhirnya, kubilang tujuanku sebenarnya untuk berpamitan. Kagetlah beliau!

Aku pergi ke rumah muridku jam 12-an saat hujan sudah mereda. Dijemput di pinggir jalan menuju komplek oleh ibu dari muridku, lalu aku diberitahu bahwa sudah ada murid-murid lain beserta ibu-ibunya menungguku di rumahnya. Hah?? Kali ini aku yang kaget! Subhanallah… Ada muridku (& ibunya) Khansa, Adisty, & Shabrina. Menurut ibu Faiz, sebetulnya masih ada 2 orang lagi yang ingin datang, namun karena diberitahu mendadak & kebetulan mereka sedang ada acara, tidak bisa datang! Padahal anak-anaknya ingin bertemu aku… Ya Allah…betapa besar rahmatMu &  kasih sayang yang Kau tebarkan melalui orang-orang di sekelilingku…

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa anak-anakku itu bercerita “bagaimana aku terhadap mereka” sehingga para ibu itu merasa berterima kasih sekali padaku. Aku merasa hanya melakukan apa yang sudah menjadi kewajibanku & melakukannya selalu dengan tulus karena aku memang menyayangi mereka semua. Murid-muridku adalah amanah, siapa pun mereka. Meskipun karakter mereka berlainan, namun aku berusaha tetap adil dalam mendidik, mengajari, serta menemani mereka saat di sekolah dengan kasih sayang. Mereka adalah semangatku & hiburanku bekerja… bersama mereka aku merasa mempunyai keluarga baru dalam istana kecil yakni kelasku….

Terima kasih Ya Rabb… Aku bersyukur sekali atas takdirMu… Menjadi guru adalah profesi yang tidak pernah kusesali, bahkan aku merasakan banyak keberkahan… Cinta murid kepada guru adalah harta tak ternilai... Semoga murid-muridku diberi Allah kemudahan meraih cita-cita, menjadi orang-orang bermanfaat, & berhasil di masa depan, aamiin….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s