Di Hari Pembagian Rapor Siswa

Sebuah hari yang cukup bersejarah. Selain merupakan hari pembagian rapor, senang melihat hasil perolehan nilai rata-rata kelas yang bagus, juga aku akan “melepas” murid terbaikku untuk pergi. AFNAN & pialaAfnan, si pemalu yang selalu juara pertama, akan pindah sekolah karena rumah yang sebenarnya adalah di Cibubur. Selama ini, ia bersekolah dari rumah neneknya di Cikarang karena ibunya yang pernah sekolah di Jepang selama 4 tahun. Sekarang, ibunya sudah pulang Afnan & adiknya jika harus berangkat sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Belum lagi, jika terkena macet.

Aku ingat hari terakhir sebelum murid-murid beristirahat seminggu di rumah menjelang pembagian rapor, saat kutanya pada Afnan apakah dirinya betul akan pindah & mau tidaknya mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya, ia menggelengkan kepalanya sambil berbicara tegas, “Gak! Gak!” Ia tidak ingin pindah sekolah maka ia merasa tidak perlu mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya. Mukanya merah menahan nangis. Aku sendiri terharu karena jujur, aku juga sedih akan berpisah dengan murid terbaikku.

Di hari “H” pembagian rapor, Afnan datang bersama ayahnya, sedangkan ibunya ada tugas kerja ke Malang. Aku sengaja menunggunya di depan kelas, berdiri bersama guru mengajinya, Bu Iroh. Melihat ia datang, perasaanku campur aduk, antara senang, sedih, haru… Kubiarkan ia berpamitan kepada guru mengajinya dulu & saat giliranku, ia memelukku erat sekali. Aku pun sama, memeluknya dengan segenap kasih sayang yang tak bisa kuungkapkan denga kata-kata. Aku hanya mampu membelai rambutnya sambil membisikkan beberapa kalimat di telinganya, “Kasihan bunda  Sayang, gak apa-apa ya, Afnan pindah”   Ia mengangguk sambil terus memelukku. Aku bisa merasakan ia menangis dengan menyembunyikan mukanya dalam pelukanku. Aku sendiri sekuat tenaga menahan air mata karena tidak enak banyak orang. Kami berpelukan di tengah lapangan dalam sekolah di mana banyak orang berlalu lalang. Ayahnya menyaksikan & aku yakin beliau bisa merasakan kedekatan aku & putranya.

Sebelum Afnan pulang, aku memberikan kenang-kenangan sebuah buku cerita imu pengetahuan. aku tahu ia senang membaca & buku yang kuhadiahkan untuknya sangat menarik karena ilmu pengetahuan yang disajikan dalam bentuk komik & selalu ada kesimpulan singkat untuk tiap bahasan. Alhamdulillah ia belum punya & ia pun membalas dengan memberikanku dua buah kado.

Beratus murid pernah kutangani tapi kuakui, Afnan adalah yang paling istimewa. Bersamanya kujalani hari-hari menjelang & saat lomba Calistung, baik aku maupun dirinya sama-sama dalam kondisi kurang sehat tapi tetap berjuang keras demi sekolah. Juga saat belajar di kelas, sering kuberikan kepercayaan untuk membimbing teman-temannya yang ketinggalan materi. Senang jika diberi pelajaran bernyanyi meskipun suaranya tidak terlalu merdu. Sangat suka membaca maupun menceritakan kembali suatu cerita. Terkadang galak kepada teman-temannya yang lelet. Bagus tulisannya, cepat logikanya jika diberi pertanyaan yang memerlukan nalar, teliti memadukan gambar & warna. Yang lebih hebat, ia adalah satu-satunya murid yang bukan kelas 6 (umurnya pun baru delapan tahun)  tapi sudah fasih membaca Al Qur’an, subhanallah

Afnan… masa depanmu masih panjang, akan banyak ujian yang akan kau hadapi tapi aku selalu yakin kau dapat melampaui semua ujian & meraih kesuksesan. Semoga di tempat barumu kau tetap menjadi yang terbaik & senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT di mana pun kau berada, aamiin…       

                                                  

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s