Sebuah Cerpen Anak Berjudul “Marisa dan Masita”

Marisa adalah putri tunggal yang cantik dari pasangan seorang pengusaha kayu, Pak Raharja dan seorang pemilik butik, Bu Juwita. Sahabatnya di sekolah bernama Ghea dan Poppy.

Sejak ibunya memiliki butik sembilan tahun lalu, Marisa diasuh oleh seorang babysitter. Kak Hani, begitu panggilan Marisa padanya. Hubungan Marisa dengan Kak Hani lebih dekat daripada Marisa dengan ibu kandungnya yang selalu sibuk dan jarang berada di rumah.

Suatu sore, setelah Marisa selesai mengerjakan tugas sekolah, “Marisa sayang, kamu sudah besar, sudah hampir duabelas tahun, harus belajar mandiri ya… Akhir bulan nanti Kak Hani harus pulang kampung,” kata Kak Hani pelan.

Marisa terkejut. Spontan ia berteriak, “Tidak boleh! Kak Hani tidak boleh pulang!”

Kak Hani tersenyum Matanya berkaca-kaca. Ia sendiri sebetulnya merasa berat akan berpisah dengan anak asuhnya itu. Namun ia ingat surat ibunya kemarin yang menyuruh untuk pulang dan menikah dengan laki-laki yang telah dijodohkan di kampung. Mas Danang, teman mainnya waktu kecil yang kini telah menjadi seorang perwira polisi.

“Sayang, ibu minta Kak Hani menikah,” kata Kak Hani lembut.

Marisa tidak mau berpisah dengan Kak Hani. Namun Kak Hani pasti akan menuruti perkataan ibunya. Bi Siti dan Mang Jaja adalah para pembantu yang sudah bekerja sejak Marisa kecil. Juga Pak Karta, supirnya. Namun mereka bukanlah Kak Hani dan tidak akan bisa seperti Kak Hani.. Aku dengan siapa nanti di rumah, tanya Marisa dalam hati.

“Besok sepupu Kak Hani datang. Namanya Masita.  Umurnya enambelas tahun, putus sekolah sejak ayahnya meninggal tahun lalu. Ia nanti akan menemanimu selama di rumah,” kata Kak Hani seolah bisa membaca pikiran Marisa.

“Masita itu baik, sayang. Ia juga cerdas, pernah sekolah sampai SMP. Nanti kamu pasti akan senang punya teman seperti Masita,” kata Kak Hani menambahkan lagi, mencoba meyakinkan Marisa.

Malamnya, setelah Marisa membaca buku dan tertidur, seperti biasa  Kak Hani mengecup lembut dahi Marisa dan keluar kamar. Ia tidak melihat ada air mata menetes ke pipi Marisa sesaat setelah pintu kamar ditutup.

Esok harinya, sepulang sekolah, Marisa melihat ada seorang gadis kurus berkulit sawo matang dan  berambut lurus sebahu berdiri di samping Kak Hani. Marisa menatapnya tajam. Ini pasti Masita, gumam Marisa dalam hati.

“Siang, sayang… capek ya, pulang sekolah? Kenalkan, ini saudara Kak Hani, Masita .Ayo, salaman,” kata Kak Hani sambil memeluk Marisa.

Masita mengulurkan tangannya kepada Marisa sambil tersenyum. Namun Marisa tidak mau menerima uluran tangan dari Masita. Ia malah berlari menuju kamarnya dan menangis di tempat tidur. Kak Hani menyusul Marisa ke kamar sambil membawa segelas air putih dingin.

“Maafkan Kak Hani, Sayang… Kak Hani terpaksa harus pulang. Ada Masita, pengganti Kak Hani. Mama papa juga sudah setuju Masita ada di sini. Ayo, minum dulu supaya segar dan cantik lagi,” bujuk Kak Hani lembut.

Marisa minum karena ia haus. Namun ia tidak mau makan dan berbaring saja sampai akhirnya tertidur dan terbangun karena perutnya lapar. Ia melirik ke meja samping tempat tidurnya yang terdapat sepiring makanan, segelas air putih, dan  semangkuk buah-buahan. Namun Marisa ingin minum susu cokelat hangat saja. Ingin rasanya berteriak memanggil Kak Hani  namun mulutnya serasa terkunci. Marisa pun beranjak pergi ke dapur sendirian.

Kamar Marisa berada di lantai atas, di antara kamar orang tuanya dan Kak Hani. Saat melirik ke jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Perlahan Marisa menuruni tangga. Karena masih mengantuk, Marisa tidak hati-hati dan di pertengahan tangga tiba-tiba… bruk! Marisa terjatuh. Seiring dengan jatuhnya Marisa, terdengar pekikan keras, “Ya Allah… Marissaaa!! Tolooong… Marisa jatuuh…” Masita yang baru kembali dari dapur dan hendak kembali ke kamar tidurnya, berteriak kencang membangunkan seisi rumah.

Ayah Marisa sedang pergi ke luar negeri. Ibu Marisa yang belum lama pulang langsung keluar kamar dan menjerit histeris melihat putrinya yang tergeletak di lantai dengan kepala berlumuran darah. Kak Hani berlari menghampiri Marisa sambil menyebut nama Tuhan . Pembantu yang lain kebingungan harus berbuat apa. Kak Hani menekan darah yang keluar dari pelipis Marisa, lalu meminta tolong Pak Karta agar menyiapkan mobil untuk membawa Marisa ke rumah sakit..

Marisa pun segera dibawa ke rumah sakit terdekat ditemani oleh Kak Hani,  Masita dan Bu Juwita dengan mobil yang disupiri oleh Pak Karta. Dalam perjalanan, Bu Juwita menelpon suaminya untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Sesampainya di rumah sakit, pemeriksaan pada Marisa lebih lengkap. Marisa ternyata butuh bantuan tranfusi darah. Luka yang membuat pelipisnya terluka parah mengakibatkan ia kehilangan banyak darah. Persedian darah kebetulan sedang kosong. Golongan darah Marisa adalah O, sama dengan golongan darah ayahnya yang sedang jauh di luar negeri. Golongan darah ibunya tidak cocok, juga Kak Hani. Tiba-tiba…

“ Golongan darah saya O, dokter. Silakan ambil darah saya sekarang,” kata Masita.

Bu Juwita menatap Masita haru, “Betulkah kamu mau menjadi donor untuk anakku?”

“Betul Bu, jika darah saya ini cocok buat Marisa, silakan saja,” kata Masita.

Pemeriksaan darah Masita secepatnya dilakukan oleh petugas laboratorium. Ternyata cocok.  Darah Masita masuk  ke dalam tubuh Marisa dan nyawa Marisa pun bisa tertolong.

Selama berhari-hari Marisa dirawat di rumah sakit, Kak Hani dan Masita setia mendampinginya.  Ghea dan Poppy, para guru, dan teman-teman sekolah yang lain, menjenguk Marisa sewaktu-waktu. Marisa tidur ditemani oleh Kak Hani dan Masita. Sampai suatu malam, menjelang tidur Marisa bertanya, “Kak Hani kapan pulang kampung?”

Kak Hani diam. Tadi pagi, ia baru saja ditelepon oleh ibunya yang mengingatkan bahwa Mas Danang akan menjemput Kak Hani akhir minggu depan. Perlahan ia menjawab, “Kira-kira minggu depan, Sayang. Marisa ikhlas Kak Hani pulang dan menikah?”

Tanpa disangka Marisa menjawab, “Iya, Marisa ikhlas Kak Hani pulang dan menikah. Marisa ingin Kak Hani bahagia”

Kak Hani memeluk Marisa. Air mata haru mengalir di pipi Kak Hani. Masita yang menyaksikan itu semua, tersenyum lega. Matanya pun berkaca-kaca, ikut merasa terharu. Ia tahu bahwa tidak mudah bagi Marisa melepaskan orang yang sangat disayanginya pergi.

“Terima kasih ya, Sayang. Kak Hani bahagia sekali karena putri cantik Kak Hani ini ternyata sudah mulai dewasa,” kata Kak Hani sambil mengelus rambut Marisa

Marisa tersenyum. “Ada Masita, Kak Hani.”

“Ya, betul sekali, Sayang. Masita akan menemanimu sepanjang hari di rumah. Masita akan menjadi sahabat terbaikmu. Bahkan menjadi saudaramu karena dalam tubuhmu, ada darah Masita yang menyatu di situ. Kamu tahu Sayang, Masita yang menjadi donor untuk menolong kamu,” kata Kak Hani kepada Marisa.

Marisa mengulurkan tangannya kepada Masita. Uluran tangan sebagai tanda dibukanya tali persahabatan. Tentu saja Masita menerima uluran tangan Marisa dengan sangat senang. Kak Hani   bersyukur pada Tuhan. Ia kini bisa pulang kampung  dengan hati lega. Ia yakin, Masita mampu membuat Marisa bahagia. Akhirnya, semua tidur dengan perasaan bahagia….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s