Di Hari-hari Lain Mengawas UN

Hari kedua menjadi pengawas UN di tempat yang sama, salah satu sekolah di daerah Tambun. Pasangan mengawasku berbeda dengan yang kemarin, terlihat lebih senior namun ternyata… sangat santai & tidak sesuai aturan.

Aku menginginkan siswa menandatangani absen sebelum siswa menjawab soal agar tidak terganggu konsentrasi. Beliau tidak mau. Aku mengisi lembaran Berita Acara & beliau menulis nama semua siswa pada 3 lembar absensi, lalu mengedarkannya berkali-kali putaran. Duh Bu, apa gak lieur?  Selesai tugas mengedarkan lembaran absensi, beberapa kali kulihat beliau memeriksa lembaran kerja siswa. Kupikir, semua lembar jawaban akan sudah aman saat dikumpulkan karena sudah diperiksa. Ternyata… saat dikumpulkan, masih ada beberapa siswa yang menulis tanggal lahirnya tidak jelas & tidak semua tulisan memakai huruf kapital. Parahnya, siswa sudah diperbolehkan keluar sebelum lembaran kerja mereka diperiksa semua. Akhirnya beliau panik sendiri, minta tolong ke siswa kelas lain yang lewat untuk memanggil siswa-siswa yang bermasalah itu! Duh, si ibu teh, kumaha siih…  Yang membuatku bingung, tadi waktu beberapa kali mendekati siswa & melihat lembar-lembar jawaban, apa itu tidak sambil diperiksa??

1 hal lagi yang membuatku tercengang, seorang panitia dari sekolah tersebut mendekati aku yang sedang duduk mengawasi siswa, meminta segel yang ada dalam amplop kosong. 2 segel itu seharusnya tim pengawas yang menggunakannya, bukan panitia & dibawa ke ruangan khusus!

Hari ketiga atau hari terakhir, lain lagi ceritanya. Pasanganku seorang bapak guru yang ada kesamaan dengan ibu kemarin, hobi ngobrol. Untungnya, beliau sepaham denganku tentang tata cara penyampaian lembar absen maupun pengumpulan soal. Tapiii… lagi2 panitia yang bikin kacau… kebetulan di ruanganku ada siswa yang dirawat di rumah sakit, lalu seorang panitia minta lembar jawaban kosong & soal untuk dibawa ke rumah sakit.  Sambil kuberikan lembaran-lembaran tersebut,  ia bercerita bahwa kemarin lembar jawabannya sempat kena darah dari infusnya. Lalu spontan aku bicara, “Kenapa tidak Bapak saja yang mendiktekan soal & menuliskan jawabannya, biar anaknya cuma berfikir saja, tidak usah disuruh menulis. ” Jawaban yang kudengar, “Boleh juga idenya. Nanti deh, saya yang dikte & nulis di lembar jawaban” Lah, selama ini tidak pernah terfikirkan toh, sama sekali?  Yang “terpaksa” kuberikan padanya adalah lembaran absensi, padahal siswa-siswa lain di kelas belum ada sama sekali yang tanda tangan. “Cuma sebentar, kok Bu! Nanti saya bawa lagi ke sini.”

Satu jam ditunggu, belum datang lembaran absensi yang dipinjam. Tambah setengah jam… tambah lima belas menit… akhirnya aku minta pasanganku bertanya  kepada panitia.  Beliau yang juga sudah gelisah, langsung mendatangi ruang panitia. Katanya padaku saat kembali, “Bu, ternyata sudah ada di meja dari tadi lembar absensi ini. Dia yang tadi ke sini sedang sibuk sama lembar jawaban. Jadi katanya, lupa bawain ke kita lagi!” Masya Allah… padahal menulis nama siswa yang berjumlah 20 orang pada 3 lembar, tentu tidak bisa makan waktu sebentar. Sama sekali tidak tanggung jawab! Alhasil, siswa-siswa yang berada dalam ruanganku paling terakhir keluar karena harus menunggu kami selesai menulis.

Kejadian-kejadian selama UN berlangsung ini akan menjadi catatan sejarah buatku. Bagaimana prakteknya sebuah sekolah pada saat UN termasuk adanya “pesan sponsor”  Adanya ketidakjujuran demi mempertahankan gengsi kepala sekolah meskipun kuyakini tidak semua kepala sekolah melakukan hal seperti itu, tetap akan menjadi pengalaman berharga.  Semoga diri ini akan tetap terjaga dari segala bentuk kemunafikan sampai akhir hayat, amiin…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s