Sebuah Cerita Di Hari Pertama Mengawas UN

Hari pertama menjadi pengawas UN SD di salah satu sekolah negeri di daerah Tambun. Dianjurkan untuk sudah tiba pukul 07.00 tapi ternyata sambutan dari tuan rumah baru berlangsung 20 menit kemudian. Sambil menunggu sambutan, semua calon pengawas disuguhi oleh beberapa jenis kue & segelas aqua dalam kotak. Jika masih ingin minum kopi atau teh manis, dipersilakan untuk mengambilnya sendiri di tempat yang disediakan di depan dekat jendela.

Saat pihak tuan rumah berbicara, ada kalimat janggal yang terdengar “Bapak ibu… nanti jika anak-anak sudah selesai, lalu lembaran jawaban diambil, tolong setelah dimasukkan ke dalam amplop JANGAN LANGSUNG DISEGEL. Kasihan anak-anak kita”  Lho, maksudnya??

Amplop tidak boleh langsung disegel oleh pengawas padahal jelas-jelas dalam peraturan diwajibkan para pengawas langsung menyegel amplop setelah semua lembar jawaban dimasukkan.  Kenapa juga harus ada “kasihan” Apa itu artinya kemampuan murid-murid di sekolah tersebut “diragukan” untuk menjawab soal-soal ujian dengan baik? Kenapa tidak yakin pada kemampuan murid-muridnya sendiri? Lha… selama ini bagaimana guru-guru di sekolah tersebut menyampaikan materi ajaran? Sampai sebegitu takutkah bapak kepala sekolah jika ada murid yang nilainya dibawah rata-rata? Bukankah sekolah tersebut termasuk sekolah favorite yang berarti seleksi masuk muridnya cukup ketat? Atau dalam realitanya, masih ada “jual bangku” sehingga tidak memikirkan sebetulnya kualitas murid?

Dunia pendidikan… sayang sekali masih ada yang namanya KECURANGAN. Jika dibiarkan hal seperti ini terus terjadi,  tidaklah salah jika banyak anak bangsa yang membuat coreng karena moral yang tidak terdidik & diberi contoh yang baik. Aku pun teringat perkataan salah satu dosen di Akta 4 : “Hati-hati menjadi guru, salah-salah kalian akan mengantarkan murid-murid kalian masuk neraka!” Na’udzu billahi min zalik…

Ya Allah, demi mempertahankan kursi jabatan kepala sekolah & menjaga gengsi sekolah, segala cara rupanya dihalalkan. Apakah layak predikat GURU dibanggakan jika perbuatan itu sudah membudaya di lingkungan pendidikan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s