Kembali Tentang Ujian Nasional (UN)

Hari Senin (6/5/2013) UN SD akan diadakan. Tahun ini aku ditugasi ikut berperan serta menjadi pengawas di salah satu sekolah di daerah Tambun Selatan, Bekasi. Sebelum pulang sekolah, pihak Tata Usaha memberikan aku surat tugas untuk dibawa ke sekolah yang akan kunjungi, lalu dilanjutkan dengan rapat antara pihak management dengan aku & teman-teman calon pengawas lainnya.

Salah seorang teman yang pernah menjadi pengawas mengingatkan jika pada realitanya, tahun lalu masih ada pihak sekolah yang memberikan bantuan kepada para siswanya berupa kunci jawaban. Diberikan secara terang-terangan di hadapan para pengawas yang bukan berasal dari sekolah yang sama. Masya Allah… Teman lain pun bertanya jika ada siswa dari sekolah kita yang memang “agak lemah” sehingga dilihat dari keseluruhan, hasil jawaban yang salah jauh lebih banyak daripada hasil jawaban yang benar. Reaksi & jawaban atas pertanyaan tersebut, bermacam-macam. Sampai akhirnya Kepala Sekolah memutuskan untuk membiarkan saja jika hal itu terjadi. Kejujuran harus ditegakkan. Siswa yang “agak lemah” memang ada, bahkan lumayan banyak. Mereka sudah “dibantu” melalui proses nilai rapor yang bukan hanya bersumberkan dari nilai kognitif, tapi juga nilai afektif & nilai psikomotorik. Diingatkan lagi, UN SD tidak menjadi faktor utama kelulusan, cuma sebagai tolak ukur kemampuan siswa.

Dalam hati aku merasa gemas sekali. Para pejabat pembuat keputusan diadakannya UN, apakah tidak pernah mengetahui tentang pelaksanaan UN di lapangan, terutama di sekolah-sekolah luar Jakarta? Mereka tentunya “malu” jika banyak siswa dari sekolahnya yang tidak lulus sehingga diupayakanlah berbagai cara yang bagi mereka “sah” demi kelulusan siswa-siswa mereka & menjaga nama baik sekolah.

UN… sampai kapankah diadakan? Tidak adakah cara lain yang lebih baik daripada UN untuk mengetahui kualitas pendidikan para anak bangsa? Hari Pendidikan Nasional baru saja berlalu. Apa yang terjadi dengan dunia pendidikan di Indonesia saat ini, semakin maju atau semakin mundur? Lebih banyak mana, prestasi atau noda hitam yang ditorehkan oleh para generasi muda? Para guru… sebagai pendidik, apakah sudah betul-betul mampu menjadi tauladan bagi para siswanya? Begitu sulitkah membudayakan kejujuran sedangkan sebagai pendidik sering berteriak di hadapan para siswa agar jujur & jujur …

UN… sebaiknya ditinjau ulang jika masih harus diadakan karena bukan hanya berpengaruh besar pada hasil (nilai) siswa, namun lebih jauh lagi adalah rusaknya moral sebagian dari para pihak yang terkait. UN juga tidak mencerminkan rasa keadilan kepada pelajaran-pelajaran lain yang sebetulnya sama penting & punya andil dalam membangun karakter para siswa maupun mengasah kecerdasan mereka.

Semoga para pejabat di Kemendikbud mau menyadari hal tersebut & lebih bijak lagi saat membuat keputusan di kemudian hari. “Tidak ada salahnya jika sekali-sekali mendengar suara orang lain, jangan selalu ingin didengar oleh orang lain…” Maju terus pendidikan Indonesia! Semangat para anak bangsa… diawali dengan niat tulus & tekad kuat untuk membangun negeri, lalu berupaya seoptimal mungkin tanpa pernah sekali pun meninggalkan ajaran Tuhan.  Gagal UN bukan berarti gagal masa depan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s