Apakah Benar Ada Motivasi Membunuh?

Berita yang kubaca dari harian on-line tiga hari lalu adalah seorang anak berusia 8 tahun membunuh anak yang berusia 6 tahun. Kejadian itu berlangsung di kubangan air galian di kawasan Summarecon, Bekasi.  Menurut pihak penyidik, motivasi pembunuhan hanya gara-gara hutang sebesar Rp 1000,00 yang tidak dibayar korban sehingga pelaku marah & mendorong badan korban lalu membenamkan kepalanya berkali-kali sambil berteriak dengan kata-kata kasar. Namun, benarkah pelaku berniat menghilangkan nyawa temannya itu?

Dalam Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23/ 2002 pada pasal 80 ayat 3 ada klausula tentang “sengaja menghilangkan nyawa orang lain” & Undang-Undang Nomor 3/ 1997 ayat 4  disebutkan bahwa “anak-anak dapat diajukan ke sidang pengadilan, dengan batas usia 8 tahun”  Memang ada yang namanya Pengadilan Anak & pada saat menjalani persidangan, tidak boleh terbuka untuk umum untuk menjaga dampak psikologis anak. Bilamana seorang anak telah terbukti melakukan kejahatan atau tindak pidana, maka tempatnya adalah Lembaga Permasyarakatan (penjara) Anak. Namun tentunya ada pertimbangan jika orang tua anak bersedia & memang dianggap mampu untuk mendidik & membina sang anak agar tidak melakukan perbuatannya.

Pada kasus di atas, perbuatan pelaku kemungkinan besar tidak dilandasi niat untuk membunuh, namun hanya ingin melukai saja sebagai ekspresi kekesalan karena hutangnya tidak dibayar-bayar. Bagi anak-anak khususnya dari kalangan masyarakat bawah, uang Rp 1000,00 cukup berharga untuk jajan atau membeli sesuatu yang menurutnya “penting”. Dalam hal ini, kita harus berfikir luas bahwa pelaku dibesarkan dalam lingkungan yang tidak terdidik. Ia mudah melukai orang, mengucapkan kata-kata kasar atau kotor,  bahkan tidak bisa mengendalikan emosi dengan baik seperti perbuatan pelaku tersebut… semua itu karena tidak ada contoh yang baik & benar dalam lingkungan di mana ia tumbuh. Kekerasan sering dilihat di depan mata, baik itu dilakukan oleh orang tuanya, kakak-kakaknya atau para orang dewasa di sekitarnya. Hal itu dijadikan pelajaran baginya bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah atau membuat lawan jera.

In my opinion, pihak yang paling harus bertanggung jawab jika seorang anak yang masih dibawah umur melakukan tindak pidana, baik itu karena kelalaian maupun kejahatan, adalah orang tua atau wali yang mengasuhnya. Jangan hanya dibebankan kepada si pelaku yang jelas-jelas masih seorang anak kecil. Pemerintah yang terkait, hendaknya memberikan edukasi kepada para orang tua dari kalangan bawah tersebut, secara kekeluargaan. Bisa melalui pemuka agama yang sengaja didatangkan, para penyuluh PKK, & organisasi kemasyarakatan, LSM, yang semuanya itu harus tanpa memungut bayaran alias ikhlas!

Anak adalah generasi bangsa yang wajib diperhatikan pertumbuhan fisik maupun mentalnya. Anak adalah amanah yang diberikan Allah untuk dijaga & dididik dengan baik. Agama adalah hal yang harus ditanamkan sedari dini kepada anak & paling utama, pemberian contoh atas tiap perbuatan karena anak butuh keteladanan.  Semoga banyak anak Indonesia yang sehat pertumbuhannya hingga menjadi generasi yang dapat memberi manfaat bagi bangsa & keberhasilan masa depan dirinya, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s