Perlukah Ada Pasal Santet Dalam KUHP?

Akhir-akhir ini media massa banyak memberitakan sedang digodoknya pasal tentang santet dalam KUHP Indonesia. Seperti yang kita semua ketahui bahwa sebagian dari rakyat di negeri ini percaya pada klenik atau hal-hal yang berbau mistik. Padahal mayoritas rakyat beragama Islam yang mengakui & meyakini bahwa Allah itu 1 melalui kalimat syahadat. Namun di sisi lain, masih percaya tentang adanya Nyi Roro Kidul atau pergi ke “orang pintar” untuk diberi susuk, jimat, atau alat yang dianggap sakti. Santet identik berkaitan erat dengan dukun. Jika suatu hari ada korban, maka reaksi marah, bahkan membalasnya dengan ilmu yang dianggapnya lebih hebat padahal sama-sama ilmu hitam

Adanya pasal tentang santet menuaikan kontroversi. Salah seorang pakar Hukum Pidana UI, menilai pasal tersebut memiliki nilai positif karena dapat melindungi orang-orang yang difitnah melakukan santet, sehingga tidak menjadi korban main hakim sendiri. Tidak dipungkiri, banyak kejadian penganiayaan yang diakibatkan karena fitnah tudingan telah melakukan santet.

Masalahnya tentu, bagaimana dengan cara pembuktiannya? Santet adalah hal ghaib, pastilah sulit untuk dibuktikan, jadi tidak mungkin disusun dengan delik materiil karena tidak jelas materi kejahatannya seperti apa.

Ada lagi pendapat pakar pidana yang lain, mantan Kepala Mahkamah Konstitusi yang mendukung  diberlakukannya pasal  tentang santet dalam KUHP karena dianggap pembuktiannya cukup dengan melihat adanya perbuatan yang telah mengganggu ketertiban umum, jadi bukan kejahatan yang dapat mengakibatkan adanya pembunuhan terselubung oleh tukang santet. Seperti misalnya, mengamati & membuktikan si dukun  menawarkan diri lalu memberi tarif kepada si klien, sehingga dukun tersebut dapat dikenai pasal penipuan memakai santet. Loh, kok semudah itu ya? Bagaimana jika si dukun itu berdalih ia hanya menjual jasa keahlian menyembuhkan orang atau sebagai tempat berkonsultasi saja atau penasehat spiritual yang profesional? Bukankah dukun sekarang lebih pintar untuk menyembunyikan identitas aslinya, makanya sering ingin lebih disebut “orang pintar”

Santet… tidak akan terjadi pada orang yang memiliki keyakinan kuat pada Sang Kuasa Penggenggam Alam. Bukankah lebih baik kita langsung menghadap & memohon sesuatu kepada Allah yang telah menciptakan kita jika kita sedang dihadapi persoalan-persoalan  yang sulit? Lupakah jika persoalan sekecil apa pun, pasti Allah mengetahuinya & terjadi memang karena ijinNya untuk menguji kita? Tidak perlu lari ke “orang pintar” karena ia sendiri  juga sama-sama manusia yang pasti punya persoalan. Lagipula kenapa terus dibesar-besarkan hal tentang santet, bukankah lebih baik digalakkannya upaya-upaya menyadarkan umat kembali ke jalanNya, seperti memberikan dakwah kepada mereka yang suka percaya pada klenik lewat media tv, baik itu acara dakwahnya langsung maupun dikemas dalam sinetron yang kaya ilmu & dapat dijadikan tuntunan bagi umat, bukan cuma tontonan! Pasti akan lebih bermanfaat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s