Mengenang Seorang Murid Bernama Ical

Seorang murid yang bernama Haekal dan semua orang biasa memanggilnya Ical.  Fisiknya yang paling besar diantara semua teman sebayanya membuat ia terlihat menonjol. Berlawanan dengan kondisi fisiknya yang seperti remaja , sikapnya sangat kekanak-kanakan dan lebih lugu dibanding teman-teman seusianya.

Ical senang sekali bermain. Bahkan ia sering bermain sendiri saat pelajaran sedang berlangsung. Jika ditegur, raut mukanya tidak pernah menunjukkan perasaan bersalah, polos… Ke sekolah tiap hari cukup membawa 1 buku tulis dan beberapa pensil. Buku paket jarang sekali bawa, tugas hampir tidak pernah mengerjakan, meskipun saat ulangan terkadang  ia bisa menjawab.  Tidak bawa buku bukan karena tidak mampu beli, tapi karena memang ia tidak sadar apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pelajar. Kondisi orang tuanya yang luar biasa sibuk, membuat tidak ada waktu untuk memperhatikannya. Komunikasiku dengan supir ojek langganannya untuk    memberitahu ada tugas, ulangan apa besok, atau kondisi Ical di kelas… Jika aku tetap sms pada ibunya, jarang sekali diberi tanggapan. Saking sibuknya…. Subhanallah

Suatu sore aku menahan Ical untuk tidak pulang dulu karena aku akan memberi pengulangan materi secara khusus agar Ical bisa berhasil saat remedial. 90% dari semua ulangan, nilainya dibawah standar. Aku berpikir saat itu, supir setianya akan sabar menunggu di tempat parkir. Ternyata aku salah! Tiba-tiba seorang ibu yang bersosok tinggi besar datang ke arah kelas. Mama Ical! Aku mencoba menjelaskan alasan menahan anaknya itu. Kebetulan, beliau memang belum mengambil rapor mid-semester anaknya, jadi kuberikan rapor sekaligus hasil ulangan semua pelajaran anaknya. Kaget melihat nilai-nilai anaknya yang ‘kebakaran’ membuat emosinya meledak. Maka tanpa kami duga, saat aku sedang mengajari Ical sambil duduk di lantai, beliau memukul kepala anaknya dengan keras. Plak! Ical menjerit kesakitan. Aku shock! Kaget sekali, tidak pernah menyangka ada kekerasan yang langsung terjadi tiba-tiba di depan mataku. Pensil di tanganku terjatuh, dadaku berdebar-debar melihat Ical diberi pukulan bertubi-tubi. Ditendang, dimaki-maki… Astagfirullah… Mencoba menenangkan tapi tidak digubris. Suara si ibu semakin melengking dan kulihat tenaganya betul-betul seperti orang yang ‘kerasukan’. Ical menangis memohon ampun. Sampai sosok Bu Nana, kepala sekolah yang kebetulan belum pulang saat itu, muncul di pintu kelas. Barulah aksi kekerasan itu berhenti. Si ibu pun beranjak pergi tanpa mau menjawab teguran dari Bu Nana. Cuma suatu kalimat yang ditujukannya pada Ical, “Pulang sendiri kamu!”  Badanku lemas. Ical berguling-guling di lantai sambil menangis.

Bersama Bu Nana aku menenangkan Ical. Aku pun menjelaskan kejadian itu kepada beliau. Kebetulan sebelum menjabat sebagai kepala Sekolah di unit SD, beliau pernah menjadi Kepala Sekolah di unit TK dan Ical adalah salah satu murid di TK yang beliau pimpin. Jadi, beliau paham sekali karakter Ical dan ibunya. Masya Allah…

Akhir tahun ajaran, Ical dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah lain. Menurut ayahnya yang menemuiku dan Kepala Sekolah, Ical kurang tepat bersekolah di tempat kami karena waktu belajar yang terlalu lama.  Jadi ia akan pindah ke sekolah yang cuma sampai siang hari saja. Aku berpikir mungkin itu ada benarnya karena bagi beberapa anak, bersekolah sampai sore hari sangat melelahkan. Namun menurutku ada yang harus lebih diperhatikan oleh orang tua Ical bahwa Ical butuh perhatian lebih dari mereka. Aku berharap Ical bisa tumbuh menjadi anak yang berhasil masa depannya, seperti murid-muridku yang lain. Semoga orang tuanya diberikan kesadaran untuk itu….

 

2 comments on “Mengenang Seorang Murid Bernama Ical

  1. naniek sayekti mengatakan:

    Astagafirullah, bu kok ada ya orang tua begitu. dia tidak sadar kalau dia dititipi oleh yang Maha Kuasa. suharusnya dengan penuh tanggung jawab dia mendidik, mengajar, memelihara dan menyayanginya. Yang semuanya nanti akan ditagih oleh yang titip. . miris aku bu bacanya. Semoga cepat diberi petunjuk ibu itu ya.

    • dewipangalila mengatakan:

      Betul, bu… Saya sendiri juga sangat prihatin dengan keadaan murid saya itu. Semoga saja sekarang Ical sudah mampu menjadi anak yang lebih tanggung jawab & menjadi kebanggaan keluarganya, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s