Catatan Di Museum Layang-layang

Berangkat bmuseum layang2ersama seluruh murid & tim guru kelas 2 SD ke Museum Layang-layang di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, cukup mengesankan. Berangkat dari sekolah sebelum pukul 08.00 dengan diawali beberapa pengarahan kepada murid-murid.

Di dalam bis, aku bersebelahan dengan si cerewet Tita yang tidak ada lelahnya bicara, bahkan bernyanyi. Terlihat ia gembira sekali bisa jalan-jalan bersama teman- temannya. Saking gembiranya, she is very self-confidence to sing all way long. Padahal, suaranya… Masya Allah, cempreng, ha ha ha… Sempat aku memanggil nama Nana & Nazwa yang sebetulnya punya suara lumayan tapi mereka justru malu untuk tampil. Lagu yang diputar kebanyakan dari album Wali & Opick.

Sampai di sana, rombongan disambut oleh tim yang bertugas untuk mengenalkan & mengajari anak-anak menghias layang-layang. Saat memandangi bangunan museum tersebut, aku jadi teringat 4 tahun lalu. Aku bersama murid & tim guru kelas 4 yang diantaranya Pak Jamal, Bu Leni M. & Bu Sri ke tempat ini juga.`Murid-muridku diantaranya Ical, Aryo, Si Kembar Aa- Ade, Anindita, Oryza, Vira, Donna, & masih banyak lagi… Bedanya dulu anak-anak disuruh menghias dengan cara membatik di atas kain yang bisa diikat ke leher. Sedangkan, anak-anak yang sdi museum-1ekarang menghias dengan melukis di atas layang- layang.

Macam layang-layang yang aku ingat adalah layang-layang tradisional, modern, & olah raga. Diperagakan cara membuat layang-layang yakni dengan memegang kerangka menggunakan tangan kiri, lem kulit bambu yang licin dari ujung atas sampai bawah kanan-kiri, lalu ditempel di atas kertas putih, diberi garis memakai krayon sekitar 1 cm di luar benang. Kemudian digunting, dilipat, & dilem lagi. Tiap anak dipersilakan melukis dengan ekspresi bebas di atas kertas layang-layang.di museum

Beberapa nama layang-layang yang kuingat adalah Dengung dari Riau, Burung Enggang dari Kalbar, Bebean & Janggan dari Bali.  Yang lain, aku lupa namanya, tapi beberapa bentuk masih aku ingat, seperti bentuk kereta kuda yang digantung di atas, Rumah Gadang, & ular naga yang lumayan panjang.

Bahan layang-layang bisa terbuat dari kain tapis, daun, parasut, & bulu angsa yang rontok. Hasil layang-layang terkadang tersebut tergantung dari bahannya. Khusus yang berasal dari bulu angsa, banyak digunakan oleh layang-layang dari luar negeri.

Kunjungan terakhir adalah menonton film tentang Festival Layang-layang di Bali beberapa tahun lalu yang diikuti oleh banyak negara. Ternyata 1 layang-layang bisa dibawa oleh beberapa puluh orang saking panjangnya. Semua itu diterbangkan & terlihat indah sekali di langit. Aku terkesima saat melihat cara menarik layang –layang dengan bantuan mesin pemintal. Juga saat memainkan layang-layang olah raga. Layang-layang digerakkan dengan mengikuti musik & subhanallah melihat gerakan layang-layang di udara. Menarik!

Mengajak murid-murid ke Museum Layang-layang dengan tujuan mengasah rasa seni & ketrampilan mereka, selain tentunya pengenalan mereka pada hasil kreasi yang bernama layang-layang. We had a good time...

layang-1layang-2layang-3layang4layang-6layang-7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s