Saat Tubuh Sedang DiujiNya

Rasa nyeri di pinggang telah membuatku pergi ke tempat bekam lagi kemarin. Aku memang pernah tiga kali datang ke tempat bekam tahun lalu, namun aku tidak rutin. Lumayan sakit merasakan jarum-jarum bekam menusuk kulitku. Terkecuali saat ini, mau tidak mau aku harus mengalaminya lagi…

Berangkat siang setelah aku minta ijin pada Kepala Sekolah dan rapat sebentar untuk acara lomba yang akan diadakan oleh perpustakaan bulan depan, Alhamdulillah… tidak hujan. Padahal semalaman hujan turun terus menerus sampai membuat banjir di beberapa tempat yang harus dilalui oleh murid-muridku hingga ada beberapa dari mereka yang terlambat ke sekolah. Sepanjang jalan, kepalaku pusing karena kurang tidur pada malamnya dan menahan nyeri di pinggang, meskipun tidak separah pada waktu malam. Di kelas, sejak pagi sampai siang aku banyak minum air putih hangat dan hal itu menolongku mengurangi rasa nyeri. Sempat aku tertidur di jalan saat aku merasa tidak kuat menahan pusing dan kantuk.  Namun tetap aku berusaha selalu zikir agar aku merasa ditemani Allah. Dan itu terbukti!

Sebelum dibekam, aku pun menyempatkan diri untuk menunaikan kewajiban shalat Ashar dulu di tengah perjalanan. Saat sampai di tempat bekam, ternyata kondisi sepi. Mungkin karena hari kerja, mungkin karena cuaca yang menyebabkan orang malas keluar rumah. Sebelum dilakukan tindakan bekam, tensiku diukur. Ternyata rendah sekali…90/80.  Aku tanya pada Pak Ustadz,  apakah itu masih memungkinkan aku untuk bisa dibekam. Insya Allah bisa, katanya. Kulihat ada 7 titik yang ditandai di bagian belakang badanku. Mulai dari tengkuk, pinggang, hingga tulang ekor.

Saat mulai dibekam, tubuhku tegang. Namun aku berusaha menenangkan diriku dengan kembali berzikir dan meyakinkan diri bahwa aku telah berbuat yang benar. Bekam adalah mengeluarkan darah kotor yang ada dalam tubuh sekaligus memperlancar peredaran darah. Aku merasa paling sakit saat jarum menusuk di bagian pinggang kanan, tempat yang memang kurasakan nyeri pada waktu malam. Kata mbak terapis, darahku paling banyak keluar dari tengkuk kiri dan pinggang kanan.

Saat pulang dari tempat bekam, hujan turun. Untunglah aku membawa payung. Aku merasa sangat lemas dan kedinginan. Meskipun mengenakan mantel tebal, aku masih merasa dingin. Di tengah jalan, aku mencoba makan roti untuk menambah kekuatan. Namun ternyata hal itu tidak terlalu menolong, karena 10 menit menjelang aku turun, saat aku mampir ke toko untuk membeli obat herbal, aku merasa mual. Kutahan rasa mual sampai di rumah. Kepalaku juga pusing karena tensiku yang rendah dan menahan udara dingin.

Selamat sampai di rumah, Alhamdulillah… kuputuskan untuk langsung shalat dan kemudian tidur. Ternyata….perutku yang sejak di jalan menahan mual, tidak bisa kompromi lagi. Muntah-muntah di kamar mandi sampai tubuh pun serasa limbung dan lemas saat  kembali ke kamar. Dalam sujud, aku memohon agar aku diberi kesempatan untuk sehat dan masih bisa menjemput rizqiku dengan baik.  Aku yang tidak memiliki siapa-siapa lagi, tentunya harus berusaha seorang diri dalam menjalani hidup. Jikalau Allah menghendaki hidupku di dunia ini selesai, aku berharap, tugasku sebagai khalifah betul-betul telah sempurna.

Kulirik jam di dinding saat aku merebahkan diri di atas kasur, pukul 20.00 Mataku terpejam, istirahat, tidur…  Pasrah, tawakal, setelah ikhtiar mengobati sakit dilakukan….

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s