Kisah Raja Baru

Di suatu negri antah berantah, ada pemilihan seorang raja baru. Tiap tiga tahun sekali memang ada pergantian atau pemilihan raja baru di negri itu, yang bukan berasal dari keluarga si empunya kerajaan. Rakyat tidak pernah dilibatkan untuk ikut memilih karena menurut tradisi kerajaan, pemilihan sudah cukup melalui ujian yang diadakan oleh para pejabat kerajaan.

Suatu hari, saat rakyat sedang berkumpul bersama di balai rakyat, salah satu sesepuh kerajaan mengumumkan nama raja yang baru. Rakyat terkejut karena sama sekali tidak menyangka orang itu yang disebut namanya untuk sebagai raja baru. Lho, dia toh? Kenapa dia? Apa tidak salah tuh, sesepuh membacakan nama? Bahkan yang terjadi sebetulnya, orang yang namanya disebut itu juga melongo, ikutan kaget! Loh, koq saya, mungkin itu batinnya. Tapi, bagaimana pun, titah sesepuh sebagai pejabat utama kerajaan tidak bisa ditawar, suka / tidak wajib dijalankan.

Singkat cerita, raja baru pun duduk di singasana. Awalnya kikuk, tapi lama kelamaan ia merasa nyaman. Saking nyamannya, sang raja jarang sekali mau keluar untuk melihat kondisi rakyatnya. Kecuali saat dianggapnya harus mengingatkan rakyat untuk bekerja keras demi memajukan kerajaan. Jika ada rakyat yang kekurangan atau ada masalah ketidakadilan pembagian jatah sembako gratis, yang biasa dibagi beberapa bulan sekali oleh aparat lain di negri itu, tidak dipedulikannya.

Salah seorang rakyat yang belum pernah kebagian sembako gratis, menanyakan haknya kepada raja. Dan jawaban raja yang dulunya pernah menjadi teman mainnya, ternyata sungguh mencengangkan.  “Maaf, saya gak bisa bantu…”

Sedih.., teramat sedih hati rakyat itu. Bukan saja karena haknya yang dipasung dan tidak diurusi oleh patih  sang raja, namun juga oleh sikap ketidakpedulian seorang pemimpin yang sekaligus pernah menjadi teman mainnya itu.

Pantaskah seorang pemimpin membiarkan adanya ketidakadilan atau tidak mau berusaha untuk menyejahterakan rakyatnya? Dunia oh dunia … memiliki tahta ternyata membuat hilang arti luhur pertemanan dan menyadari bahwa tugas utama seorang pemimipin adalah mengayomi rakyat agar bisa hidup tenang, sejahtera, dan bahagia. Mungkin bagi sang raja cukup mengabdi pada sesepuh kerajaan saja, sedangkan urusan rakyat ada anak buah yang mengurus.

Raja yang malang… tidak sadar bahwa tanggung jawabnya berat sekali di akherat nanti. Ada rakyat yang menangis karena ketidakadilan, namun ia tak peduli! Padahal disebutkan dalam agama bahwa “tidak akan pernah diijinkan untuk mencium bau surga bagi pemimpin yang tidak amanah…”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s