Pertama di Kelas 2 Fatimah

Aku dan 2 FatimahMelihat foto ini, mengingatkanku pada murid-muridku di saat aku pertama kali mengajar kelas bawah, kelas 2 Fatimah. Bersama Bu Ria, partnerku, kami menjadi wali kelas dari anak-anak yang berkarakter “unik”. Sering membuat kami harus loncat dari kursi saat tiba-tiba ada yang berantem, beberapa kali mendapati murid yang jatuh sehingga harus dibawa ke klinik, menerima laporan bahwa murid dari kelasku telah membuat kempes ban mobil tamu yang diparkir di dekat lapangan basket atau tidak bisa berhentinya bermain bola sehingga jam di dinding kelas menjadi korban kena sundulan dari seorang anak yang terlalu bersemangat, subhanallah

Ada Nashir sang pentolan kelas yang cukup ditakuti oleh teman-teman perempuannya dan sering ribut dengan teman-teman laki-lakinya, ada Alif yang cerdas tapi tidak bisa mengendalikan emosinya jika ada yang mengganggu, ada Haikal yang cerdas tapi santai, ada Zahra si cantik yang sangat sensitif, ada Nadiva yang manja, ada ‘si butet’ Dilla yang selalu berteriak lantang “saya orang batak” tapi malu jika disuruh menyanyi, ada Arsha dan Yudith yang tidak pernah berhenti mengoceh alias cerewet, ada Zidan yang harus selalu dipuji dulu jika diminta untuk melakukan sesuatu, ada Farrel yang mudah menangis dan belum bisa mengunyah daging, ada Shameer ‘si ambon manise’ yang memiliki tulisan yang cuma bisa terbaca oleh dirinya sendiri, ada Tito yang lebih senang mengamati teman-temannya daripada memperhatikan guru mengajar, ada ‘ndut Arkan yang sering terkantuk-kantuk saat shalat karena kekenyangan, ada Ahdani yang selalu terlambat mencatat, ada Dara si pemberani yang suka malak tempat pensil pada teman-teman perempuannya, ada Kiki yang sering menyembunyikan kertas ulangannya jika tidak bisa jawab soal,  ada Tabina yang pelupa     ( saking pelupanya, pernah pulang tanpa membawa tasnya! ) subhanallah…

Unforgetable moments… Spending the days with them colored my life.  Dunia anak-anak, dunianya bermain… Realita yang kudapati bahwa masih banyak dari mereka yang butuh perhatian lebih di sekolah karena sebagian besar orang tua mereka sibuk bekerja.

Semoga kelak mereka menjadi bagian dari pemimipin di negri ini yang bukan cuma sukses di dunia namun tetap berpegang teguh pada iman dan taqwa, aamin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s