Kurikulum 2013 Demi Mutu Pendidikan Indonesia

Di tahun 2012 salah satu tindakan pemerintah, khususnya Depdikbud, yang  mengundang banyak reaksi adalah rencana pergantian kurikulum pendidikan. Menurut Menteri Pendidikan, Bapak Mohammad Nuh, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan )  dianggap sudah tidak layak dan tidak sesuai jaman, sehingga harus diganti dengan Kurikulum 2013. KTSP yang sudah diterapkan sejak 6 tahun lalu dianggap salah satu penyebab tidak berkualitasnya pendidikan di Indonesia. Is that so??

Sepanjang yang saya ketahui, Kurikulum 2013 akan mengandalkan “observasi” dalam pembelajaran sebagaimana yang telah diterapkan terhadap murid-murid di sekolah-sekolah internasional di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia. Keberlangsungan pembelajaran dengan observasi yang membuat pembelajaran terpusat pada anak didik bukan pada pendidik (guru)  tentulah ditunjang dengan fasilitas yang tersedia dan kualitas para guru tersebut. Misalkan, guru mampu menggunakan IT sekaligus mengerti bahasa Inggris dengan baik, sehingga saat muridnya bertanya atau minta konfirmasi atas hasil observasinya, guru mampu menjawab atau mengarahkan dengan benar didukung referensi dari internet.

Yang menjadi pertanyaan besar sekarang adalah bagaimana dengan sekolah-sekolah di daerah pelosok atau pedesaan jika Kurikulum 2013 wajib diterapkan, apa tidak menimbulkan kepanikan? Jangankan internet, menggunakan komputer saja belum tentu bisa! Terlebih membayangkan adanya ICT di tiap kelas. Tidak tahukah jika murid-murid di daerah pelosok hingga saat ini masih banyak yang pergi ke sekolah dengan kondisi memprihatinkan?  Tanpa alas kaki karena tidak mampu beli sepatu, harus menyeberang sungai atau berjalan kaki berkilo meter  karena sulitnya akses transportasi, buku-buku dan fasilitas belajar yang tidak lengkap, ditambah lagi para  guru yang kompetensi dan pengetahuannya tidak sebaik para guru di kota.

In my opinion,  Kurikulum 2013 tepat jika diterapkan di sekolah-sekolah yang terletak di kota-kota besar. Itu pun harus disertai tambahan ilmu kepada para guru melalui  pelatihan yang tidak sebentar. Guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik adalah tombak dari keberhasilan murid, jadi harus memiliki kemampuan dan kekuatan agar para muridnya senang belajar dan berprestasi. Bukan berarti harus tergantung dari adanya internet di sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun juga jangan sampai dibiarkan seorang guru tidak bisa menggunakan fasilitas yang bisa menunjang pembelajaran.

Intinya, alangkah baiknya jika Kurikulum 2013 tidak terburu-buru untuk diterapkan di semua sekolah di Indonesia. Jangan pukul rata semua guru di Indonesia atuh! Juga jangan langsung menyalahkan KTSP jika kualitas pendidikan Indonesia rendah karena sebetulnya yang harus dicermati adalah kompetensi para guru maupun kesadaran dan motivasi belajar peserta didik di negri ini, khususnya anak-anak yang  berada di kota-kota besar yang terbiasa memperoleh kemudahan dalam menjalani proses kehidupan. Do you agree with me, Mr Minister?

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s