Kupanggil Dia, Azka

With Azka 'n NurSetahun lalu, pertama kali aku ditugasi menjadi wali kelas kelas unggulan,  kelas 2 Khadijjah. Bekerja sama dengan partner, Bu Nurhasanah, yang biasa kupanggil Nung atau anak-anak dan teman-teman guru lain memanggilnya Bu Nur. Jumlah murid di kelas 30 orang dengan 19 orang murid perempuan, sisanya 11 orang murid laki-laki.

     Seorang anak perempuan, hitam manis dan bertubuh sedang, duduk diam diantara teman-temannya yang ribut mencari tempat duduk dan mengajak orang yang disukai untuk duduk di sebelahnya.  Setelah acara perkenalan, baru kuketahui namanya adalah Azka. Berdasarkan informasi dari teman guru yang pernah menjadi wali kelasnya di kelas 1 dulu, dia adalah murid paling pintar. Tapi sepertinya dia pemalu dan kurang bisa bergaul. Ini tidak bisa dibiarkan, ucapku dalam hati. Mengingat seorang anak yang paling pintar akan sering diikutsertakan dalam beberapa perlombaan sekolah, tentunya dia harus memiliki rasa percaya diri yang kuat.

     Beberapa hari aku biarkan dia beradaptasi sendiri dengan kondisi kelas barunya. Bilamana teman-temannya saling berebutan untuk bercerita sambil mendekatiku di jam istirahat, Azka cuma sekedar ikut berdiri di antara teman-temannya tanpa bicara. Setiap aku sapa, dia merespon dengan tersenyum dan jawaban-jawaban singkat. Belakangan baru kudapat informasi dari ibunya saat pengambilan rapor mid-semester, memang seperti itulah kepribadiannya jika berada dengan orang-orang baru.

     Suatu hari, kuajak Azka untuk bicara berdua. Kupancing emosinya saat kutanyai mulai dari teman-teman barunya sampai pengalamannya tiap mengikuti lomba. Tentu anak sepintar dirinya, pernah ikut lomba dan dia pun mengakuinya. Kupuji dia, kubuat dia untuk menyadari kelebihannya itu. “Saya suka bingung Bu, kalau ketemu orang baru, harus bicara apa. Saya juga suka malu Bu, kalau harus tampil,”  katanya padaku. Ooh…

     Tiap ada kesempatan, aku support Azka agar memiliki rasa percaya diri.  Terutama saat dia harus mengikuti lomba Calistung sebagai utusan sekolah, selain memberi latihan materi, juga mengasah kepercayaan dirinya. Alhamdulillah, dia keluar sebagai juara pertama di tingkat gugus dan finalis di tingkat kabupaten.

     Aku tetap memujinya saat dia tidak bisa menang di tingkat kabupaten. Kubesarkan hatinya sambil kubisikkan,  “Ibu bangga kok, pada kamu. Terima kasih ya, sudah menjadi murid Ibu…”  Azka pun menatapku lega sambil tersenyum maniiis sekali.…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s