Guru Belajar? Kenapa Tidak?

creative writingSuatu anugerah bagiku saat diberi kesempatan Allah  untuk menerima ilmu melalui acara pelatihan “Teacher Writing Camp” di Wisma Universitas Negri Jakarta (UNJ). Kuyakini bahwa semua kejadian sudah diatur dalam skenarioNya, termasuk menumbuhkan hasrat dan keinginan untuk belajar. Pelatihan yang tidak gratis tapi Allah mencukupi rizqiku untuk bisa mengikuti semua ini. Subhanallah…

Berangkat dari sekolah di hari Sabtu pagi bersama Bu Mugi dan Bu Nunung. Mereka adalah guru-guru senior yang telah menghasilkan banyak tulisan dan menang penghargaan dari tulisan-tulisannya. Kami diantar oleh suami Bu Mugi, Pak Didi, sampai ke Bulak Kapal, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bis ke arah Senen, turun di jalan setelah keluar tol dan melanjutkan lagi dengan taxi ke UNJ. Di tengah jalan, aku sempat berkenalan dengan seorang calon peserta yang bernama Bu Nani, guru SMAN 1 Tambun Bekasi. Perjalanan cukup memakan waktu lama karena tol Cikampek ternyata cukup padat di akhir pekan. Aku sampai tertidur di tengah jalan dan dibangunkan oleh Bu Nunung saat hendak turun.

Sampai di UNJ bertepatan dengan adzan dzuhur. Tadinya aku ingin shalat dulu, tapi Bu Nani memintaku untuk menemaninya makan siang karena perutnya yang sudah lapar sekali. Aku mengiyakan karena aku juga sadar bahwa sudah waktunya untuk perutku juga diisi. Kami menyimpan tas di kamar masing-masing. Kemudian aku dan Bu Nani yang kebetulan berada di lantai yang sama, berbeda dengan Bu Mugi dan Bu Nunung yang menjadi panitia, keluar mencari makan keluar wisma. Kami makan gado-gado yang rasanya lumayan enak dan bisa mengenyangkan perutku. Kami juga pesan es cendol sebagai minumannya. Awalnya kami ingin makanan dibawa ke wisma karena kuatir hujan. Tapi ternyata langit baru mendung saja, belum akan turun hujan. Akhirnya kami menikmati makan di pinggir jalan, seperti saat aku masih menjadi mahasiswi dulu.

Aku mendapat kamar 201, ditemani seorang guru yang bernama Bu Titin. Bu Titin adalah seorang guru sekaligus pemilik Sekolah Luar Biasa di daerah kabupaten Bogor. Semua muridnya adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan, baik itu fisik maupun mental. Kata beliau, di sekolahnya 1 orang guru memegang paling banyak 5 murid.  Subhanallah… guru dari Sekolah Luar Biasa tentunya harus lebih sabar menghadapi murid-muridnya. Terbayang olehku, betapa tidak mudah mereka saat menghadapi dan mengajari  5 murid yang saling  berbeda keterbatasannya dalam sebuah kelas yang sama.

Acara dimulai pukul 14.00 di dalam ruangan yang pernah kumasuki saat seminar dua minggu lalu. Diawali dengan sambutan singkat dari panitia. Om Jay, panggilan akrab dari Pak Wijaya Kusuma, sebagai ketua penyelenggara, belum hadir karena masih dalam perjalanan pulang dari Padang.

Aku menikmati saat ada praktek Edmodo dari Team Seamolec. Sebelumnya, diawali oleh presentasi PesonaEdu yang menitikberatkan pada pelajaran Sains dan Math. Aku pernah mengetahui hal ini saat mengikuti seminar di Depdikbud bulan lalu. Waktu itu, aku sempat protes pada tim marketing PesonaEdu karena cuma menyediakan dua pelajaran itu saja, sedangkan untuk pelajaran Bahasa Inggris dan ilmu sosial lain, tidak ada! Tapi sekarang, aku “mencoba   menerima” dengan membayangkan bahwa aku sedang mengajar muridku “di luar” kelas. Cuma kendalanya, aku harus memiliki modem gsm dari Indosat, sebagai partnernya. Modem yang aku miliki saat ini cdma.  So, someday I’ll have it

Mencoba bergabung dengan Edmodo, ternyata sama seperti facebook. Bedanya, komunitasnya cuma guru dan murid. Aku belum bisa praktek dengan murid yang saat ini aku ajar, terutama mengingat aku saat ini mengajar “kelas bawah” tapi aku akan share pada murid-muridku yang di “kelas atas”  Yang paling aku inginkan, share with teachers from different schools.

Mengetik lewat twitter juga ternyata menyenangkan. Cuma memang tidak bisa menulis terlalu panjang dan dianjurkan memakai kode sebelum menulis. “Tweeps” …  Teman-teman di sekolah jarang yang punya twitter, mereka lebih banyak punya facebook dan sebagian kecil saja yang punya blog. Sayang memang, tidak banyak teman guru yang suka menulis… (atau mungkin tidak ada waktu??)

Acara terakhir menjelang tidur adalah Pengajaran Abad 21 oleh Pak Agus Sampurno. Beliau yang bekerja di sebuah sekolah internasional di Bintaro memang sangat pintar dalam hal high-teck. Beliau memutar film yang menceritakan tentang kondisi pembelajaran di sekolahnya. Hebat, murid-murid sekolah dasar di sana menggunakan laptop dan mampu presentasi saat ujian akhir dengan bantuan media internet. Sebagian guru di sana adalah orang asing dan pastilah bahasa yang digunakan di sana adalah Bahasa Inggris, kecuali untuk pelajaran Bahasa Indonesia.  Betul-betul sekolah “modern” yang mencerminkan abad 21.

Pak Ukim Komarudin sempat mengisi acara untuk memberi motivasi dengan slogan wajibnya “Allahumma paksain…” Sayang beliau tidak membawa buku karyanya karena aku ingin sekali punya bukunya.  Aku mulai mengantuk saat pembicara terakhir oleh Pak Rahmat Affandi.  Jadi, terus terang… aku kurang konsentrasi. Yang aku ingat, beliau punya sifat yang sama denganku, lebih senang berada di kelas bersama murid-murid saat jam istirahat dan sering menerima curhat para muridnya. Beliau menulis buku tentang pendidikan tapi mengaku bukan seorang pakar pendidikan. Sempat mengisi acara talkshow di Radio Dakta.

Pembawa acara mengakhiri pada 15 menit menjelang pukul 23.00  Saat aku keluar ruangan, ada peserta yang masih mengetik, karena mungkin sudah terbiasa jika harus bekerja hingga tengah malam. I’m already give up! I’m sleepy…

Aku melanjutkan menulis setelah shalat subuh di dalam kamar. Tidak bisa lama karena waktu untuk kembali ke ruangan pada pukul 07.00  Tapi prakteknya, acara mulai pada pukul 07.30 karena kesalahan panitia yang mengumumkan acara sebelum bubar semalam. Bagiku tidak masalah… aku siap jam berapa saja!

Acara pertama di hari kedua diisi oleh Pak Satria Darma, ketua umum IGI Pusat. Cukup menyegarkan… cukup inspiratif…. Beliau menekankan pentingnya guru mewajibkan murid untuk membaca setiap hari karena kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin memprihatinkan. Dari seluruh negara Asean, Indonesia mendapat peringkat ketiga dari bawah. Memalukan…  Dilanjutkan oleh Pak Nusa Putra, yang berwajah mirip suami Kris Dayanti, Raul Lemos. Awalnya aku tidak  ‘ngeh‘  wajahnya mirip siapa, tapi beliau sendiri yang melontarkan joke bahwa tampang seperti dirinya pantas mendapatkan istri secantik Kris Dayanti. Wualah… Beliau membacakan sebagian dari hasil karyanya yang menurutku bahasanya sangat puitis dan bergaya bahasa bak pujangga sastra. Ada juga karyanya yang “serius” bertemakan pendidikan yang menurutnya banyak dibaca oleh dosen maupun mahasiswa.

Acara puncak diisi oleh nara sumber yang bernama Pipiet Senja. Beliau seorang wanita luar biasa. Di balik fisiknya yang lemah karena harus bolak balik cuci darah, beliau menghasilkan banyak tulisan, yang berbentuk novel maupun cerpen. Beliau banyak menceritakan pengalamannya dalam hal mencari inspirasi maupun memberi motivasi untuk menulis, termasuk kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI).  Berkat beliau, para TKI terutama TKW bisa menulis dan menghasilkan buku yang berjudul “Surat Berdarah Untuk Presiden” Sayangnya aku tidak bawa banyak uang,  maka aku cuma membeli sebuah buku karya beliau yang berjudul “Orang Bilang Aku Teroris”  books and a laptop

Di akhir acara, kami semua disuruh beliau untuk menulis. Tulisan di kertas folio atau HVS menggunakan tangan. 10 yang terbaik akan diberi hadiah. Alhamdulillah... aku termasuk dalam 10 terbaik dari 60 peserta. Bukan hadiah yang menjadi motivasiku, tapi pembuktian diri bahwa aku memang bisa menulis dan akan menjadi penulis. Sosok seperti beliau betul-betul mendorong semangatku untuk bisa menulis dan menghasilkan buku. Beliau menjadi salah satu motivatorku. Perjuangannya dalam menjalani hidup dengan menulis patut diacungi jempol dan menjadi tauladan buatku. Aku bersyukur sekali diberi kesempatan bertemu dan berilmu pada beliau.

Acara pelatihan berakhir pada pukul 14.30 dengan pengumuman lomba menulis cepat dalam twitter. Sayang, aku tidak menang karena pemenangnya mendapat modem gsm dari Indosat. Untuk hal ini, aku ingin hadiahnya tapi ternyata belum rejeki…  2 orang pemenangnya adalah para mahasiswa yang rupanya ikut menjadi  peserta.

Aku pulang bersama teman-temanku lagi seperti aku berangkat, tapi kali ini kami diberi kenyamanan dengan menumpang mobil seorang peserta lain yang baru datang di hari Minggu pagi. Terus terang, aku lupa namanya tapi tentunya aku sangat berterima kasih sekali sudah diberi tumpangan gratis ke Bekasi. Alhamdulillah… aku merasa cukup puas dengan perjalananku mencari ilmu di UNJ. Terima kasih Om Jay… terima kasih kepada semua nara sumber… dan terima kasih tertinggi kepada Allah swt yang telah mentakdirkan semua ini terjadi. Insya Allah bermanfaat buatku dan akan aku amalkan ilmu ini, amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s