Kami Memanggilnya Pak Daos…

          Aku mengenalnya sejak aku menjadi bagian dari yayasan tempatku bekerja sebagai guru sejak tahun 2007. Fisiknya kurus, di wajahnya ada kumis, dan rautnya tenang serta penampilannya sangat bersahaja. Beliau sering hanya memakai sandal ke sekolah karena sepatunya yang hanya sepasang rusak.

          Kami punya persamaan, sama-sama suku Sunda, sehingga sering kali percakapan kami dilakukan dalam bahasa Sunda. Perbedaannya, selain umurnya yang lebih tua dariku, juga keahliannya membaca dan mengajar mengaji kepada anak-anak. Beliau adalah guru mengaji, lebih tepatnya guru qira’ati.  Aku sendiri sering berkonsultasi padanya, baik itu tentang bacaan Al Qur’an maupun ajaran-ajaran agama yang belum aku ketahui.

         Banyak sebenarnya yang menjadi guru qira’ati di sekolahku, lebih dari selusin, jumlahnya untuk mengajari lebih dari 600 orang siswa. Karena beliau adalah yang terbaik, maka beliau diangkat yayasan menjadi koordinator, yang lain sebagai anak buahnya. Beliau yang mengatur jadwal  dan menentukan nilai maupun kelayakan seorang anak untuk bisa naik jilid / tidak. Karena sekolah kami merupakan yayasan Islam, maka pelajaran mengaji termasuk pelajaran unggulan.

         Meskipun beliau sebagai ahli mengaji, beliau adalah orang yang humoris. Bukan hanya kepada sesama rekan guru, namun juga kepada murid-murid. Tak heran, saat suatu hari beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah pada hari Jumat,  awal Nopember kemarin, reaksi dari kami, terutama murid-murid… protes! Sebagian besar murid menangis…

         “Bu.., Pa Daos gak akan ngajar lagi ya?” tanya murid-muridku sambil menangis.

        Mereka mendengar info tersebut dari kakak kelas yang sudah lebih dulu tahu bahwa Pak Daos akan keluar dan kakak-kakak kelas itu menangis. Subhanallah… begitu banyak yang mencintai sosok bernama Pak Daos, mereka tidak rela dan tidak ingin kehilangan beliau.

       Untuk pertama kalinya, aku tidak bisa tidak menangis di depan murid-muridku. Aku sendiri juga merasa kehilangan dan sedih akan berpisah dengan beliau yang sudah aku anggap sebagai kakak dan sahabat. Di mata anak-anak, sosoknya bisa menjadi suri tauladan dengan sifat dan kepribadiannya. Dalam mengajar, beliau tegas, lugas, namun mampu membuat murid-murid nyaman dan tidak tegang.

        Aku ingat sewaktu orang tuaku meninggal, beliau banyak sekali memberi nasehat dan support karena kondisiku sangat terpukul dan terus merasa sedih berkepanjangan, bahkan bersalah karena aku merasa belum bisa membahagiakan almarhum orang tuaku, terutama mamaku. Aku yakin, beliau juga mendoakanku tanpa diminta sehingga aku menjadi “kuat” kembali.

          Saat murid-muridku menangis setelah mendengar kepergiannya,   kuputuskan untuk menyuruh murid-muridku menulis ungkapan hati mereka tentang beliau dalam tulisan. Subhanallah… sebagian besar tulisan murid-muridku bagus dan sangat menyentuh perasaan. Mereka masih kelas dua SD namun mereka mampu mengungkapkan perasaan melalui tulisan. Bahasa yang polos, langsung dari hati, dan tersampaikan tepat melalui kalimat demi kalimat. Bahkan salah seorang muridku menulis dalam bentuk puisi.  Alhamdulillah… berarti selama ini ilmuku tentang cara menulis cerita maupun puisi telah sampai dan dapat diamalkan oleh murid-muridku.

      Kupersembahkan tulisan-tulisan murid-muridku kepada beliau dengan dirangkai pada sebuah karton agar bisa menjadi kenang-kenangan baginya.  Beliau senang sekali dan terharu menerimanya. “Terima kasih, anak-anak. Ini adalah hadiah yang tidak ternilai dan lebih besar artinya dari uang sebesar apa pun,” kata Pak Daos sambil menatap murid-muridku dengan mata berkaca-kaca.

          “Terima kasih Pak Daos, atas ilmunya selama ini kepada kami. Semoga bapak senantiasa diberi Allah kesehatan dan rizqi… Kami tidak akan melupakan semua kebaikan dan ilmu yang telah bapak beri kepada kami. Semoga Allah selalu melindungi bapak di mana pun bapak berada…”

One comment on “Kami Memanggilnya Pak Daos…

  1. Dedi Dwitagama mengatakan:

    mungkin tulisan murid ibu bisa diangkat untuk lebih memberi gambaran pada pembaca betapa mereka kehianga seseorang yg baik itu … tk atas tulisan yang baguuuuus, nuhuuuun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s