Rindu Mama…

Tidak bisa hilang dari ingatan hari dimana aku menemukan mama terjatuh di dapur cuci piring. Mama duduk dengan kepala terkulai ke kiri, ada air liur keluar dari mulut mama & badan mama yang basah, pastinya kena cipratan air dari ember di belakang mama jatuh. Aku berlari menghampiri mama sambil menyebut asma Allah & memanggilnya juga dengan panik. Suaraku yang hilang kar’na sedang sakit tenggorokan tapi terus mencoba berteriak membangunkan mama. Aku sadar tidak akan kuat mengangkat mama sendiri. Aku lari ke belakang untuk mencari pertolongan. Pintu kamar Yudi kugedor, tidak ada yang keluar. Yudi & saudara2nya sudah ke pasar. Berlari menuju kamar lain yang juga sepi, tiba-tiba Pak Endang keluar. Kukatakan padanya tentang mama sambil berlari lagi ke arah depan. Ke rumah David. David langsung berlari mengikutiku menuju mama. Ternyata sudah ada Mang Ece & anaknya. Mang Ece terus membisikkan doa di telinga mama. Anaknya kuminta tolong memberitahu Ma Atih agar menelpon ambulance. Aku masih berharap mama bisa diselamatkan. Mang Ece, David & Pak Endang menggendong mama ke ruang makan. Melihat baju mama yang basah & meraba badan mama yang dingin, aku mencoba mengganti baju mama. Saking paniknya, lupa banyak laki2 yang ada di sekitar mama. Ternyata baju mama sulit dilepas dari badan mama. Akhirnya aku membawa gunting & baju mama disobek oleh Mang Ece. “Maafin teteh, mah… Teteh mungkin udah bikin malu mama, buka’in baju mama depan laki2 yang jelas2 bukan keluarga kita” Aku masih berharap mama cuma pingsan & bisa diselamatkan. Sambil menunggu ambulance datang,  kulumuri mama dengan minyak kayu putih. Kupakaikan mama sarung agar lebih mudah. Sherly & anaknya datang. Aku menitipkan mama pada mereka, sementara aku lari ke kamar, berganti baju sambil mempersiapkan dompet. Amplop isi THR aku bawa juga ke dalam tas bersama hp. Terdengar di luar kamar, suara Ma Atih. Juga suara beberapa orang yang tidak kukenal di ruang tengah. Saat kubuka pintu kamar, petugas ambulance datang. Tanpa berusaha mendekati mama yang sudah dipindahkan ke ruang tengah, dia bilang “Eta mah tos teu aya, Neng!”  Aku masih tidak mau percaya. Aku keukeuh meyakini mama cuma pingsan. Petugas minta dibawakan kaca, didekatkan ke hidung mama sebagai bukti. Sebelum aku menjerit kar’na sadar mamaku sudah tiada, beberapa orang langsung memelukku. Lemas badan. Aku tidak kuasa menangis. Terus menangis sambil memanggil mama.Aku merasa Allah sedang membenciku dengan mengambil mama. Padahal baru 44 hari sebelumnya, Allah memanggil papa. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…. “Ya Allah, aku belum sempat membahagiakan mama. Bahkan tinggal bersama mama lagi seperti dulu pun, aku belum sempat. Aku belum menikah. Aku ingin mama ada saat aku menikah. Aku belum sempat minta maaf pada mama. Ya Allah… kenapa harus secepat ini?”  Bukan cuma aku, banyak orang yang datang untuk memberi penghormatan terakhir pada mama.  Subhanallah, semua saudara datang, termasuk Aa Tomi yang terkenal super sibuk & Kang Yayan, keponakan yang pernah mama urus waktu kecil & sayang pada mama. Alhamdulillah…semua dilancarkan. Tanpa aku sangka, ternyata sudah ada lahan kosong untuk mama dekat makam aki. Sama seperti halnya papa, aku tidak tau apa2 kar’na semua sudah diurus orang. Banyak orang yang digerakkan hatinya untuk meringankan aku dengan membayar biaya2. Kain kafan diberi gratis oleh Pa RT.
Aku ingat saat ikut memandikan mama. Mama sangat cantik, cantik sekali…Kulitnya putih bersih. Aku kebagian membersihkan kepala mama. Ibu2 yang lain membersihkan bagian badan mama yang lain. “Mama, kecantikanmu tetap terpancar meski nyawamu sudah tak ada…”
Mama dibawa ke pemakaman jam 2-an, setelah menunggu semua saudara kumpul. Tangisku pecah lagi saat mama akan ditutup selamanya dengan kain kafan. Tapi aku ingin sekali mencium mama. Kang Yayan memberikan sapu tangannya padaku sambil terus mengingatkan agar jangan sampai ada air mata jatuh ke jasad mama. “Mama… maafin teteh, mamafin teteh yang belum bisa menyenangkan mama, belum bisa membelikan mama rumah. Teteh sayang & cinta mama. Teteh akan terus mendoakan mama agar mama masuk surga”
Di pemakaman, banyak sekali bunga cantik. Juga banyak orang yang menghantar mama ke peristirahatan terakhir. Bahkan belakangan aku dengar, banyak tetangga yang ingin ikut tapi tidak ada kendaraan. Sayang mereka tidak bilang ke Oki agar disewakan angkot.  Aku menguatkan diri untuk tidak jatuh saat jasad mama dimasukkan ke liang lahat. Kusebut terus asma Allah, mohon minta diberi kekuatan untukku sendiri & untuk mama agar diterima di sisiNya. Mama meninggal dunia dalam kondisi shaum. Insya Allah, mama husnul khotimah. “Ya Allah… terimalah mamaku, ampuni dosanya, lapangkan & berikan cahaya selalu dalam kuburnya, jauhkan mama dari fitnah kubur. Ya Allah, terimalah mama… Takdirkan beliau jadi penghuni surgaMu”
Aku baru ketemu Meity, Teh Uus, & Aa Tomy di pemakaman. Sambil memelukku, Aa Tomy berkata bahwa aku dipersilakan tinggal bersamanya jika aku mau. Ya…aku sekarang yatim piatu & tidak punya apa2. Hartaku paling berharga adalah orang tua, terutama mama yang kuyakini kekuatan doanya. Allah mengambil papa mama dalam waktu yang tidak lama& dalam usia yang sama, 75 tahun.
Kehilangan mama membuatku ‘blank’ menatap hari2 ke depan. Api semangatku tidak seterang saat masih ada mama. Saat Shalat Ied, betul2 aku merasa sendiri & kehilangan mama. Biasanya, pulang Shalat Ied, aku langsung menemui mama, memeluk mama, bersimpuh samil memohon maaf & kita berdua menangis. Tapi… mama sudah tiada, aku pulang ke rumah dalam kondisi kosong, jadi aku memutuskan langsung ke makam setelah Shalat Ied. Kucurahkan seluruh perasaanku di  “depan mama” Mungkin jika bukan kar’na kasih sayang & pertolongan Allah, aku sudah tidak kuat menjalani semua ini. Dukungan moril & doa tulus teman2 juga membantuku tegar.
Mama…meskipun mama sudah tiada, teteh merasa mama masih ada tiap tetah pulang. Mama juga sering muncul dalam mimpiku. Bahkan mimpi terindah yang bagiku bermakna sangat baik, mama duduk di depan meja makan yang dipenuhi makanan lezat & buah-buahan yang beraneka ragam. Mudah2an bermakna mama dalam rumah baru yang menyenangkan & kelak saat hari akhir tiba, mama akan menjadi penghuni surga yang tiap saat akan dijamu dengan makanan lezat & semua yang selama ini cuma dalam angan-angan mama, Insya Allah….
Mama, saat ini teteh sedang berjuang untuk mencapai cita-cita teteh yang lain, menjadi penulis. Jikalau Allah memberi teteh kesempatan sukses dari hasil karya tulis teteh, teteh akan membuat sebuah tempat yang memberikan ilmu atau mengasah bakat orang-orang yang membutuhkan dari kalangan tidak punya. Teteh juga akan membesarkan anak yatim & menyekolahkan anak dari kaum dhuafa. Pahala dari kebaikan bukan cuma untuk teteh, tapi juga untuk mama. Teteh juga selalu berdoa diberi Allah kesempatan ke BAITULLAH, bukan cuma haji untuk diri sendiri, tapi juga ingin membadalkan haji untuk mama. Teteh ingin kembali pada Allah & pada saat hari akhir nanti  dalam keadaan lengkap rukun iman & rukun Islam. Teteh ingin menjadi muslimah yang khaffah. Teteh juga berusaha terus berbuat kebaikan tiap hari demi menambah pahala mama. Satu hal yang belum teteh kerjakan sampai sekarang, teteh belum bisa menyambung silaturahmi ke Bi Otje & teman-teman mama yang lain. Insya Allah, secepatnya ma…
Sejak mama tiada, teteh tidak lagi tiap minggu ke Sukabumi. Teteh mengisi waktu dengan mencari & menambah ilmu, demi masa depan yang lebih baik. Alhamdulillah, ada saja cara Allah mewujudkan impian & cita2 teteh. DiberiNya teteh kekuatan raga, diberiNya rizqi untuk ongkos, diberiNya orang2 termasuk teman2 yang mau membantu teteh. Allah Maha Baik. Ampuni aku Ya Rabb, sudah pernah salah menilaiMu, menganggap Kau membenciku dengan memanggil mama papa & membiarkan aku sendiri. Ternyata sebetulnya, aku tidak pernah sendiri kar’na ada Allah selalu bersamaku.
Teteh betul2 menyayangi & mencintai mama. Teteh kangen mama. Teteh kangen sambutan mama saat teteh datang & tidur bersama mama. Teteh kangen risoles atau makanan lain sebagai oleh2 mama saat teteh mau pulang ke Bekasi. Teteh kehilangan mama…. Mudah2an suatu saat kelak, Allah mempertemukan kita lagi & mentakdirkan kita berada di surga bersama Kak Andre, golongan syuhada, golongan sholeh & sholehah, golongan Nabi bahkan Baginda Nabi Muhammad saw, aamiin….
Teteh tidak tau bagaimana cara “menolong” papa. Papa yang Allah takdirkan berbeda aqidah, bagaimana kelak di hari akhir, akan bisa bersama kita lagi atau tidak. Tapi teteh juga tetap mendoakan  & terus memohon pada Allah. Teteh juga sayang papa & kangen papa. Sama seperti pada mama, teteh juga belum sempat minta maaf pada papa karena kepergiannya yang mendadak.
Teteh bangga & bahagia memiliki papa& mama yang sudah ,memberi tauladan banyak dalam hidup & melimpahi kasih sayang pada teteh sampai akhir hayat. Terima kasih papa, terima kasih mama… terutama mama sebagai perempuan yang paliiing…sabar menyikapi ujian hidup. Mama adalah guru teteh yang paling hebat! Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan mama, aamiin…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s