“Diabsen Seperti Karyawan Saja, Kita Ini Anggota DPR”

          Membaca judul dari artikel yang terdapat dalam surat kabar Republika hari Kamis, 4 Oktober 2012, sudah dapat diterka bagaimana isinya. Namun, bagaimana pun juga saya tertarik untuk membaca artikel tersebut dari awal hingga akhir.

         Sebuah kejadian di hari Selasa lalu di dalam ruang sidang paripurna gedung DPR dimana mulai berlakunya system absen baru yakni menggunakan mesin finger print  Dikarenakan barangnya masih baru, tidaklah aneh jika mesin itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  Saat salah seorang wakil rakyat menekankan jempolnya ke area sensor tidak ada respon, baik itu bunyi maupun cahaya, maka naik pitamlah beliau.

         Muka kesal dan tidak setuju akan keberadaan mesin finger print tersebut bukan cuma berasal dari seorang saja, tapi banyak! Alasan ketidaksetujuan mereka karena adanya mesin absen baru itu merupakan pemborosan anggaran dan tidak efektif. Dalih mereka yang tidak setuju itu karena masyarakat akan lebih menilai kualitas anggota dewan pada kinerja, bukan pada absensi. Oh ya??

         Memang ada kalanya kita bisa lihat di televisi bahwa mereka yang hadir pada saat rapat berlangsung ternyata beberapa dari mereka tertidur. Atau mereka yang sibuk dengan dunianya sendiri, sampai-sampai ada yang memergoki dan memberitahukan kepada media massa bahwa orang yang bersangkutan sedang asyik melihat gambar mesum. Duh, bapak…, apa tidak malu dengan predikat sebagai anggota dewan yang terhormat?

         Para wakil rakyat yang tidak setuju dengan mesin finger print, rupanya belum puas dengan mengomel dan memasang muka cemberut, tapi juga mengucapkan kata-kata yang cukup tajam “Kayak karyawan saja. Kita ini anggota DPR, bukan PNS yang datang harus daftar absen!”  atau lebih tajam lagi “Kayak buruh saja…”

         Maaf bapak-bapak anggota dewan yang terhormat,  apakah disiplin hanya berlaku bagi mereka yang bukan menjabat sebagai  anggota dewan yang mewakili rakyat? Bukankah seyogyanya Anda bersyukur diberi jalan untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa Anda bisa menjadi contoh baik dalam membangun mentalitas kerja bangsa? Karena tentu saja, absensi dengan finger print akan meningkatkan kedisiplinan dan proses administrasi anggota dewan. Masyarakat yang tidak duduk sebagai anggota dewan bukan berarti masyarakat yang bodoh. Jadi, kami memiliki kemampuan untuk menilai atau memantau siapa saja anggota dewan yang malas dan yang tidak. Apakah dengan predikat menjadi anggota dewan merasa lebih mulia daripada masyarakat biasa? Lupakah Anda bahwa yang paling berhak menjadikan kita ini mulia atau tidak bergantung pada akhlaq atau perilaku kita sendiri dan kekuasaan Tuhan atas takdirNya kepada kita?

          Bagi pemeluk agama Islam, sudah jelas dinyatakan dalam Al Qur’an yang salah satu ayatnya berbunyi: “…Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tanganMulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”  (Q.S. 3:26)

          Semoga para anggota dewan  yang berada di dalam gedung DPR menyadari bahwa mereka justru sedang memegang amanah sebagai wakil rakyat yang harus bisa menjadi contoh suri tauladan dalam segala hal termasuk bekerja dengan disiplin dan tanggung jawab bagi kami, masyarakat biasa…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s