Tawuran Pelajar, Inikah Budaya Kita?

Menyimak berita hari Selasa, 25 September 2012,  seakan membuka luka lama yang pernah ada duabelas tahun lalu.  Bahwa terjadi tawuran antara pelajar SMAN 70 dan pelajar SMAN 6 di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Sebagai salah satu alumni dari SMAN 6, tentu berita itu bukan hal yang baru dan mengejutkan. Namun saya pribadi tidak habis pikir, ternyata setelah duabelas tahun berjalan pun, masih terjadi “perang” antara SMAN 70 dengan tetangga dekatnya, SMAN 6. Bahkan, saat tawuran yang terjadi saat  saya masih sekolah pun, menurut banyak sumber, hal itu sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Hah?! Masya Allah…

tawuran pelajarSaya  masih ingat, saat kejadian dulu itu, semua murid masih dalam proses belajar, tapi tiba-tiba ada pengumuman bahwa kami harus segera membereskan buku-buku dan berkumpul semua di aula. Setelah ada aparat datang, baru kami bisa pulang. Alhamdulillah, saya tidak menjadi korban langsung dari lemparan batu nyasar tapi kaca mobil teman yang sedang diparkir di depan sekolah, pecah! Selama beberapa hari ke depan, hati saya tidak bisa tenang saat berangkat maupun pulang sekolah karena di lengan seragam tertera nama sekolah.  Namun mungkin karena kebetulan saya seorang perempuan, saya lebih aman daripada teman-teman saya yang laki-laki.

Sekarang, sebagai seorang guru di sebuah sekolah dasar Islam sangat prihatin mengetahui kondisi sebagian pelajar di negara ini yang masih belum sadar betapa pentingnya sekolah dan betapa berharganya waktu yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bisa menimba ilmu.   Tidak habis pikir jika ada anak yang pergi ke sekolah tanpa adanya motivasi dan kesadaran untuk belajar, melainkan ia membawa senjata tajam. Ke sekolah membawa senjata tajam? Apakah lupa tujuan utama bersekolah?

Apa sebetulnya yang terjadi pada diri pelaku tawuran?  Bukankah sebagai pelajar, cukup membawa buku serta alat tulis dan mungkin jaman sekarang, bisa ditambah dengan laptop atau notebook?  Kenapa membawa senjata tajam?  Terlebih kejadiannya,  saat musim ulangan di SMA?

Seorang anak bisa tumbuh menjadi baik, bukan hanya dari didikan guru dan pengaruh keluarga. Tapi juga harus dicermati lingkungan pergaulannya. Seorang guru di sekolah pun sebenarnya hanyalah “perpanjangan tangan” dari orang tua sebagai guru yang pertama bagi tiap anak.  Saling bersinergi dan bekerja sama dalam mendidik anak, terutama pendidikan akhlaq. Seorang anak jenius  tanpa dibekali akhlaq yang baik, pastilah akan hancur. Kecerdasan akademik bukanlah tolak ukur satu-satunya kesuksesan bagi seseorang, ada yang lebih penting dari itu yakni kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosi menjadi lebih ideal jika dilengkapi dengan kecerdasan spiritual yakni dekatnya kita dengan Sang Pencipta. Hanya kepadaNya-lah segala sesuatu kita serahkan. Salah satu solusi yang bisa membantu adalah jam pelajaran Agama di sekolah umum yang harus ditambah disertai guru-gurunya yang berkompeten dan amanah.

Saya sendiri bukan guru Agama. Bahkan saya masih harus banyak belajar tentang agama dari teman-teman seprofesi yang memiliki pengetahuan lebih tentang agama.  Memperhatikan dan menemani murid-murid shalat dan mengaji adalah hal yang cukup berharga karena menginngat mereka sebagai amanah saya di sekolah. Saya juga tidak malu untuk bertanya dan diskusi kepada teman-teman yang memang memiliki kemampuan lebih dalam agama karena saya tidak pernah menimba ilmu di pesantren atau sekolah Islam.

Wahai generasi muda, hendak dibawa ke mana negri ini jika penyelesaian suatu masalah dengan cara tawuran atau kekerasan? Terlebih jika ditanya alasannya, cukup dengan menjawab “demi solidaritas teman”.  Suatu jawaban yang ringan namun berujung terengutnya nyawa dari seseorang yang belum tentu bersalah. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

Telah tercorengnya dunia pendidikan Indonesia karena pola didik yang tidak tepat dan tidak adanya kepekaan sosial terhadap tumbuhnya jiwa seorang anak. Yang lebih menyedihkan, pemerintah tidak merasa butuh banyak pembekalan materi agama dalam kurikulum sekolah umum. Mungkin berkiblat pada negara-negara maju yang pada umumnya sekuler bahwa agama harus dipisahkan dari urusan kenegaraan.  Tidak heran jika jiwa sebagian dari generasi muda kosong iman karena yang terpikirkan hanyalah duniawi dan kekerasan menjadi budaya. Wallahu’alam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s