Demonstrasi Pelajar, sebuah Pembelajaran?

        Membaca  artikel surat kabar TEMPO tertanggal 1 September 2012 tentang penolakan pelajar di Hong Kong terhadap pelajaran patriotisme China, sungguh membuat saya terhenyak. Bukan hanya karena keberanian mereka yang masih berstatus pelajar menolak mata pelajaran yang wajib diterapkan oleh pemerintah, namun juga  karena tidak adanya keinginan mereka sebagai generasi muda penerus bangsa untuk mengenal dan mencintai negaranya. Dengan kata lain, menumbuhkan rasa nasionalisme yang  seyogyanya ada dalam jiwa tiap anak bangsa.  Alasan penolakan itu, menurut mereka, mata pelajaran patriotisme sebagai upaya propaganda dan cuci otak generasi muda di Hong Kong.

        Sedikit mengingat tentang sejarah Hong Kong, sepanjang yang saya ketahui bahwa Hong Kong pernah menjadi kota bekas koloni Inggris sejak Inggris menang Perang Opium dari China sehingga pemimpin China saat dulu harus merelakan bagian dari negaranya sekitar 156 tahun dan baru diserahkan kembali ke China pada 1 Juli 1997.  Saat pengembalian Hong Kong, Deng Xiaoping, pemimpin China yang berkuasa, berjanji akan menerapkan konsep 1 negara 2 sistem. Artinya hak otonomi kepada pemerintah Hong Kong pada system hukum dan mata uang, kecuali urusan yang menyangkut pertahanan nasional dan hubungan diplomatik tetap ditangani oleh pemerintah pusat di Beijing. Jadi Hong Kong tetap berada dalam system kapitalis dan China berada dalam system sosialis. Sebagaimana kita ketahui bahwa Hong Kong adalah Negara yang memiliki pusat keuangan, perdagangan, pelayaran, logistik, dan pariwisata internasional   di kawasan  Asia Pasifik.

      Saya tidak akan membahas tentang kondisi Hong Kong setelah terjadi aksi penolakan tersebut, namun saya di sini menilai sikap keberanian para pelajar dengan menyalurkan hak suara mereka di bawah bendera demokrasi. Suatu sikap yang bagi saya patut diacungi jempol karena didasari kesadaran atas hak bersuara tanpa perlu ditambahi dengan tindakan anarkis atau saling baku hantam. Alasannya pun jelas yakni demi menghindari sesuatu yang dianggap akan meracuni pola pikir para generasi muda. Sistem pendidikan yang ditentukan pemerintah tidak ditelan bulat-bulat yang cuma membuahkan pujian untuk Partai Komunis China karena akan mengaburkan sejumlah  yang telah dlakukan oleh pemerintah China seperti Pembantaian Tiananmen pada tahun 1989, kelaparan massal, dan pembunuhan di masa revolusi kebudayaan.

       Bagaimana dengan generasi muda di Indonesia? Keberanian diri untuk menyalurkan aspirasi atau hak bersuara terhadap system pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah, seperti penetapan mata pelajaran yang termasuk UAN cuma tiga yakni Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam saja, tidak terlihat. Ada beberapa alasan para pelajar memilih diam, diantaranya para pelajar meyakini memang itu “sudah seharusnya” atau mereka tidak peduli karena “yang penting bisa lulus” atau “terbiasanya budaya diam” tapi sering mengeluh di belakang.

       Pelajar Indonesia, bangkitlah! Beranilah bersuara jika itu adalah kebenaran! Hak untuk mengeluarkan pendapat pun dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Belajar berpikir kritis dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Harga diri bangsa terletak pada keberanian dan kecerdasan kita, terutama generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s