Hikmah Dari Pengemudi Online

As usual… aku menggunakan ojek online untuk rutinitas Sabtu sejak pagi sampai sore. Kadang Gojek, kadang Grab, kadang Uber… dan hari Sabtu kemarin aku memilih Uber.

For the first time of my life, sesaat setelah aku klik “book” maka keluar kalimat  “driver Anda punya masalah pendengaran…” Subhanallah…. Ternyata bukan cuma mengenal berbagai karakter pengemudi jika kita memakai kendaraan umum, namun juga kondisi lahiriah seperti yang Allah takdirkan kemarin. Takdir? Tentu saja… karena tidak ada yang kebetulan… semua sudah diatur oleh Allah SWT.

Meskipun kondisi tidak bisa mendengar namun sang pengemudi bisa membawa motornya dengan baik. Agar perasaanku lebih tenang, aku bantu menunjukkan jalan mana yang sebaiknya diambil, belok kanan atau kiri… atau lurus….. alhamdulillah selamat sampai tujuan….

Seseorang yang memiliki kekurangan fisik, seperti tuli misalnya… menurutku dia sedang “dalam penjagaan Allah”  karena dia tidak akan bisa mendengar kata-kata kotor maupun ucapan yang tidak disukai Allah. Pertanggung jawabannya di akherat pun tidak seberat orang-orang yang memiliki panca indera sempurna. Subhanallah….

Semoga sang pengemudi Uber itu betul-betul ikhlas dan sabar menerima takdirNya serta tetap selamanya berbaik sangka pada Sang Pencipta, agar menjadi ladang pahala dan calon penghuni syurgaNya, aamiin….

Selalu Ada Harapan…

Teringat, hampir setahun lalu … tepatnya bulan Maret 2020 lalu, impianku memiliki buku alhamdulillah menjadi kenyataan. Buku berjudul “Menatap Langit Senja di Tower Bridge” terbitan Gramedia yang kutulis berdasarkan pengalaman nyata menemani siswa dalam program homestay to U.K. in 2018 sudah terpajang manis di tiap cabang toko buku Gramedia.

Masalahnya kini … kondisi Pandemi Covid-19 yang berimbas pada kebijakan PSBB membuat jarang sekali orang mau jalan ke toko maupun mall. Aku sendiri, sejak Maret tahun lalu, baru sekali pergi ke mall. Itu pun, karena ada keperluan mendesak terkait laptop. Sedangkan pergi ke supermarket untuk belanja bulanan, tak lagi kulakukan sejak Ramadhan tahun lalu sampai kini. Mendengar yang terpapar semakin banyak membuat diri semakin waspada. Keperluan yang tidak bisa dilakukan dengan online, aku ke tempat yang dekat rumah dan memperhatikan waktu yang tidak banyak orang di sana. Betul-betul berusaha keras untuk melindungi diri sendiri. Lantas, bagaimana dengan nasib bukuku di toko Gramedia ? Pemasaran yang sepi membuatku sedih …

Siang ini aku mendapat WA dari salah satu editor yang selama ini menangani bukuku. Mbak Fia, namanya. Beliau menawariku untuk memasarkan bukuku secara POD. Artinya, jika ada yang ingin memiliki versi cetak dari bukuku, pembelian dilakukan di platform. Hal tersebut karena cetak massal untuk buku tidak bisa masif di masa pandemi. Baiklah, why not? Semangat yang mulai redup kini kembali menyala. Aku yakin, pastilah Sang Pemilik Kehidupan akan menyertaiku dan menolongku selalu… kesuksesan memang tidak mudah tapi aku akan hadapi tiap anak tangga untuk bisa menanjak ke arah yang kutuju… “Don’t forget; beautiful sunsets needs cloudy skies.” – Paulo Coelho

2021, Tahun Belajar

Setiap orang pasti punya keinginan untuk maju. Seorang guru yang tugas utamanya mendidik dan mengajar, bukan berarti berhenti belajar atau tidak mau lagi belajar. Terlebih di masa sekarang, pengaruh dari adanya Pandemi Covid-19, yang membuat proses belajar daring, terutama kami yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Sejak bulan Maret 2020, kami tidak bisa lagi merasakan suasana kelas dengan aneka ragam karakter siswa karena terkait aturan PSBB. Untunglah ada fasilitas internet… baik saat belajar, tadarus bersama setiap sebelum pembelajaran sampai ujian. Dan agar tidak membosankan siswa, guru harus memiliki kemampuan dalam menampilkan materi secara bervariasi.

Kami berusaha terus … melalui google classroom, quizizz, youtube, exam-view … namun tetap saja masih ada siswa yang responnya tidak sesuai yang kami harapkan. Ada yang karena belum paham namun tidak mau jujur, ada yang memang tidak peduli karena tidak menyukai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Parahnya lagi jika orang tua tidak semua support. Alasannya ortu yang sibuk kerja, ada ortu yang lebih senang jika anak mreka tidak belajar di rumah Dimaklumi…. 🙂

Lama kelamaan aku pribadi berfikir, jangan-jangan siswa yang tidak bisa merespon dengan baik, karena cara komunikasi yang belum tepat. Butuh ilmu lagi… belajar Public Speaking. Alhamdulillah, kesempatan belajar ada melalui Zoom Meeting yang diatur oleh Om Jay. Ada beberapa pembicara, namun aku mengikuti “Public Speaking for Teacher” oleh Pak Dedi Dwitagama (Selasa, 26 Januari 2021) dan Pak Agus Sampurno (Kamis, 28 Januari 2021)

Alhamdulillah… bersyukur untuk setiap kesempatan yang diberikan Allah dan berharap semua ilmu maupun pengalaman para pembicara bisa menjadi bekal kami saat berhadapan dengan siswa. Semoga ikhtiar kami untuk belajar ini berhasil membuat hasil pembelajaran lebih baik lagi, aamiin…

Menimba Ilmu “Dahsyatnya Kekuatan Public Speaking”

Alhamdulillah… bersyukur selalu dengan adanya kesempatan untuk menimba ilmu karena merasa diri ini “belum pandai”. Meskipun waktunya cukup malam, mulai dari pukul 19.00 -21.00, namun tidak mengurangi semangat karena selain materinya cukup penting, juga nara sumbernya yang capable and outstanding, Pak Dedi Dwitagama. Saya mengenal beliau sejak lama, sejak belasan tahun lalu dan beliau sebagai motivator dan guru saya dalam “menulis” Beliau yang membuat saya ingin menulis dan menjadi penulis, baik melalui blog maupun buku.

Hari Selasa ini (26/1/2021) ilmu yang diberikan oleh Pak Dedi bukan menulis, melainkan kemampuan guru “berbicara”. Bukan berarti jika kita sudah punya profesi guru, kita otomatis “pandai bicara” Jujur… ketika melihat ekspresi siswa tidak atau susah paham materi yang disampaikan, bahkan tidak tertarik dengan apa yang disampaikan … seharusnya itu warning, “apa ada yang salah dengan cara bicara kita sebagai guru?”

Pak Dedi mengawali dengan contoh tentang seorang guru yang ditunjuk menjadi pembina upacara. Tidak semua guru bersedia menjadi pembina upacara. Hal itu memang nyata … beberapa teman seperti itu namun alhamdulillah, so far saya tidak pernah mundur saat ditugasi menjadi pembina upacara, meskipun saya belum bisa menampilkan yang terbaik.

Menurut Pak Dedi, tips untuk menjadi pembicara yang sukses haruslah diawali dengan hati kita yang happy. It means .. the mood is related to performance 🙂 Kemudian tentunya preparation sebagaimana layaknya seorang guru akan memberikan materi di kelas. Jaman now, banyak kemudahan untuk mengakses sumber materi, lalu kita baca dan kuasai materinya. Kondisi tiap orang saat harus berbicara di muka umum tentu tidak sama. Jika merasa diri masih belum ahli, tentu butuh latihan. Salah satu caranya dengan membuat slide terlebih dahulu agar apa yang kita sampaikan tepat sasaran. Juga hal lain yang perlu diperhatikan adalah the audience. Membuat orang-orang di hadapan kita tertarik untuk terus mendengarkan kita harus diketahui dulu apa minat mereka dan gaya kita saat berbicara. Jika di depan kita anak remaja, kurang tepat jika kita menggunakan bahasa yang formal. Agar lebih menguasai medan, ketika kita akan menjadi seorang pembicara, usahakan datang lebih cepat dari waktunya dan berusaha rileks jika saatnya tiba. Be confident and be yourself .

Manfaat kita menguasai public speaking sangat banyak, antara lain meningkatkan kemampuan belajar dan rasa percaya diri, membuka kesempatan untuk berkembang, memperluas jaringan, dapat mempengaruhi orang lain, dan terutama lagi “memberi manfaat bagi orang banyak” Seorang Pak Dedi Dwitagama yang memiliki kemampuan sebagai seorang public speaker merasakan lebih banyak lagi manfaatnya yakni bisa berkeliling dunia dan berkelimpahan uang. Subhanallah.

Finally, the point of this training is menjadi seorang public speaker yang berhasil harus memiliki kemampuan dalam memilih tema dan menyampaikannya pada kondisi tertentu, termasuk memperhatikan penampilan saat di depan umum. Tidak putus asa dalam berlatih… karena kuncinya PRACTICE MAKES PERFECT.

Remember 2020

When some people say letting go and forgetting the past is easier said than done, I agree that …. But actually, I only want to remember the moment that made me happy in the past.

The best moment that happened last year was my book has published by the biggest publisher GRAMEDIA. Alhamdulillah … ” Menatap Langit Senja di Tower Bridge” is the title of my book. It tells about the experience when I had to be with my students in U.K. for homestay and immersion program. What a great journey 🙂

On the other hand, my book was published in pandemic so I must face the fact that sales were not as good as I expected. But I believe it would not be forever. I read someone’s writing : “Sometimes things aren’t clear right away. That’s where you need to be patient and persevere to see where things lead” and I realize that it’s not easy to be successful.

Thanks so much to my students, parents, friends, and people who bought my books 🙂 Hopefully, there’s a blessing behind ….

The First Sunday in January 2021

I am so grateful for seeing the sun with healthy in the morning. And today is the first Sunday in new year, 2021. Alhamdulillah ….

Even though it’s been running three days in the new year, I’m still feeling sad because this pandemic is not over. I know the government has announced that the vaccine has come, but it doesn’t mean covid-19 will end. Every day the news informs that more and more victims have contracted covid-19 in Indonesia. As long as I know, some people ignore the rules of health, they never avoid the crowds and often spend time with their groups or relatives without maintaining the distance. So that, when will this country save from covid-19 ???

Still, hopefully covid-19 will disappear from the earth and everything can return to normal. I really miss to visit my family and my parents’ graves in Sukabumi, such a little town where I am raised and my parents are buried.

Anyway … welcome 2021 🙂 never lost hope because it’s the key to achieve all my dreams ... and may my dreams would become true this year ….

Anak Indonesia, Apa Kabar?

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

Ucapan yang selalu digaungkan tiap tanggal 23 Juli di negeri tercinta ini.  Ucapan yang tentu disertai harapan dan doa agar anak-anak Indonesia selalu dalam kondisi bahagia dengan menikmati dunianya, dunia anak-anak.

Kebahagiaan anak di masa sekarang ini tentu tidak seperti di masa dulu aku menjadi seorang anak. Banyak hal yang mempengaruhi… mulai dari didikan orang tua atau orang-orang terdekatnya, lingkungan sekitar, perkembangan teknologi, maupun keadaan seperti saat ini, pandemi!

According to the news on media recently that semakin banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami kekerasan dari orang-orang dewasa yang berada di lingkungan terdekatnya. Anak yang dianiaya, anak yang dibunuh, anak yang mengalami pelecehan seksual, … kebanyakan pelakunya adalah mereka yang dikenal oleh korban. Atau anak yang terpaksa harus bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Sedangkan jika kaitkan dengan kondisi pandemi sekarang, bagaimana dengan pendidikan anak-anak dari kalangan bawah untuk bisa tetap “bersekolah”…  hal itu tidak bisa tidak dipikirkan oleh kita semua.

Tiap anak adalah amanah. Keluarga adalah sekolah pertama yang diterima oleh seorang anak sebelum dia masuk “sekolah” bersama guru. Anak yang sehat bukan hanya karena fisiknya yang tumbuh kembang bagus karena makanannya bergizi, namun juga sehat mental,  dan ruhnya mengenal baik Sang Pemilik Kehidupan. Bahagia tidak terpartri dengan kekayaan. Kebahagiaan seorang anak akan berpengaruh terhadap bagaimana dia bersikap dan masa depannya. Sering terharu melihat anak-anak dari keluarga yang kekurangan namun memiliki semangat juang untuk mendapatkan hak mereka bersekolah, apa pun resikonya….

Teringat  sebuah lagu indah   “The Greatest Love of All” – Whitney Houston,  yang untukku sangat menyentuh syairnya :

Whitney Houston - Greatest Love Of All [Lyrics] - YouTube

Semoga anak-anak Indonesia sekarang ini menjadi anak-anak beriman, tangguh, sehat lahir  batin,  cerdas, mandiri, sukses di masa depan, dan menjadi generasi terbaik yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan negara, aamiin ya Rabb….

 

 

New Normal = No Normal

Sejak Maret 2020 kondisi pandemi CoVid-19 yang memaksa kita  stay at home tentulah membuat banyak orang jenuh dan ingin sekali keluar rumah. Terlebih bagi orang-orang yang terbiasa memiliki banyak aktifitas.  Jadi saat pemerintah menggaungkan adanya New Normal banyak sekali orang yang langsung merasa “sudah bebas”

Melalui media televisi dan internet, diberitakan orang “membludak” di tempat-tempat umum. Padahal sumber penyebaran virus itu melalui yang dikeluarkan dari orang batuk atau bersin.  Jika dalam kondisi orang banyak berkerumun, sulit untuk menghindar bahkan mengetahui ada orang lain yang sedang tidak sehat.  Jaga jarak sekitar 1 meter itu wajib hukumnya!  Ada lagi yang wajib dimiliki oleh semua orang tanpa pandang umur dan dipakai jika kita beraktifitas keluar rumah yakni masker! Masker kain bagi kita yang bukan tenaga medis sudah cukup. 1 hal lagi yang wajib diperhatikan yakni kebersihan tangan kita dengan mencuci tangan memakai sabun dan air yang mengalir. Khawatir tangan kita ini akan menyentuh wajah yang seharusnya dijaga, khususnya bagian hidung, mulut, dan mata.  Jika kondisi darurat tidak ada air, harus sedia hand-sanitizer.

Mereka yang bekerja di kantor tidak boleh semua datang dan bekerja bersamaan, harus dibagi menjadi beberapa shift.  Tempat ibadah khususnya mesjid atau mushalla harus diberi jarak dan sajadah bawa masing-masing dari rumah. Pasar maupun mall tidak boleh serentak dibuka semuanya, bergantian sesuai jadwal.  Sekolah  lebih baik masih tetap belajar virtual dari rumah. Khawatir anak-anak tidak mampu mengikuti protokol kesehatan dan ujung-ujungnya sekolah menjadi kluster baru untuk sumber penularan. Duh… jangan sampai itu terjadi ya, Allah….

Place are opening because of economy, not because it is safe… so new normal is no normal.

Preparation for Next Home Learning

The pandemic CoVid-19 is still running…  The best decision for children is they do learning from home ’cause we worry that a virus would spread if they have to go to school.  On the other hand, teachers need more skills and abilities to make a nice learning for students.  Actually,  we have been studying at home for the past three months.  But, starting in July 2020 the students will be enter the new school year.  And we will spend the time together for six months in different ways.

SMP Bakti Mulya 400 Jakarta already provides the facility for learning through google classroom.  Every teacher tries making a module for learning.  Then, we must present our modules to the leaders before we share the modules with the students. Persistent… optimistic … always learn and learn… hopefully we can give the best learning for the students, aamiin .

IMG-20200626-WA0030

#Late Post : Home Learning for Us

Bulan Maret 2020 adalah awal di mana seluruh siswa, guru, dan karyawan sekolah se-DKI Jakarta diminta pemerintah untuk stay at home. Siswa umumnya mengira mereka libur tapi setelah kuberikan penjelasan, mereka sadar bahwa akan ada tugas yang harus mereka kerjakan selama di rumah.

Bukan cuma mengerjakan tugas dari pelajaran tapi juga ibadah seperti shalat dhuha dan mengaji beberapa ayat yang ditentukan seperti yang mereka biasa lakukan di sekolah.

IMG-20200506-WA0027

Setiap hari, Senin sampai Jumat, mulai pukul 08.00 pagi sanpai pukul 12.00 siang. Bukan karena waktu stay at home sangat lama, bukan hanya belajar , ujian pun terpaksa dari rumah. Agar aku dan rekan-rekan guru bisa mengawas saat ujian berlangsung, maka kami menggunakan ZOOM, Google Meet atau Hangout. Sedangkan soal bentuk Pilihan Ganda kubuat dalam Google Classroom.

Home Learning menumbuhkan kreativitas bagi para guru dalam memberikan tugas kepada siswa. Aku pribadi bervariasi bentuk tugasnya, terkadang kuminta mereka membuat Power Point, tabel, atau bahkan poster yang temanya aku kaitkan dengan CoVid-19 di Indonesia. Alhamdulillah… terutama hasil karya poster, banyak yang bagus dan menarik.

gmbr Aleshagmbr Rania

Alhamdulillah… senang sekali melihat hasil karya poster para siswa tersebut 😍

Tahun yang bersejarah… di mana para siswa dan guru pertama kalinya melakukan pembelajaran dari rumah. Semoga tetap tersampaikan ilmu yang diberikan oleh tiap guru dan para siswa tetap menunaikan kewajibannya dalam kondisi nyaman😊  Harapan yang lebih besar… semoga wabah Covid-19 bisa segera hilang dari bumi pertiwi ini dan kami bisa merasakan bersekolah yang normal seperti dulu lagi, aamiin ya Rabb. .. 🤲

Mengenang Ramadhan Kemarin…

Banyak orang yang berpuasa di bulan Ramadhan pasti merasakan keberkahan di bulan suci itu… so do I 😊

Ramadhan kemarin memang Ramadhan yang berbeda karena untuk pertama kalinya, aku dan umat muslim lainnya tidak bisa ibadah seperti lazimnya Ramadhan di mesjid. Namun… mungkin Allah menakdirkan musibah wabah ini karena Allah ingin mengajarkan kita untuk bisa ibadah “langsung” tanpa perantara imam atau orang lain. Heart to heart … agar lebih khusyuk kita komunikasi dengan Sang Pencipta kita

Sepi saat sahur… tidak ada suara anak-anak yang berkeliling untuk membangunkan terjadi di dua minggu pertama. Adzan dari mushalla dekat rumah tetap terdengar… meskipun tidak ada shalat tarawih dan shalat wajib lain berjamaah.

Ketenangan … sampai tidak pernah peduli sudah memasuki hari keberapa puasa. Dari hari pertama sampai hari terakhir Ramadhan definitely aku menjalaninya di rumah. Rutinitas interaksi dengan al Qur’an bisa lebih lancar dibanding saat Ramadhan di tahun-tahun lalu. Dan… aku pun merasakan keberkahan karena sering kali dikirimi hidangan buka puasa maupun aneka kue lebaran. Alhamdulillah… bahkan pernah dalam sehari empat kali aku harus keluar mengambil kiriman dari driver ojol. Ma syaa Allah … tabarakallah …. 🙏🏾🤗

Begitu pun saat malam takbiran. Tidak ada perayaan apa-apa kecuali takbir yang terus dikumandangkan dari mushalla. Alhamdulillah… terima kasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan bagi hambaMu ini menjalani ibadah puasa Ramadhan meskipun tidak sempurna… semoga masih diberikan umur, kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani ibadah Ramadhan tahun depan, aamiin ya Rabb 🤲

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…  Laa illaa haillallah- huwaallaahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd…

Akhirnya… aku punya hidangan lebaran … barakallah Ramadhan…

.