Hikmah Dari Pengemudi Online

As usual… aku menggunakan ojek online untuk rutinitas Sabtu sejak pagi sampai sore. Kadang Gojek, kadang Grab, kadang Uber… dan hari Sabtu kemarin aku memilih Uber.

For the first time of my life, sesaat setelah aku klik “book” maka keluar kalimat  “driver Anda punya masalah pendengaran…” Subhanallah…. Ternyata bukan cuma mengenal berbagai karakter pengemudi jika kita memakai kendaraan umum, namun juga kondisi lahiriah seperti yang Allah takdirkan kemarin. Takdir? Tentu saja… karena tidak ada yang kebetulan… semua sudah diatur oleh Allah SWT.

Meskipun kondisi tidak bisa mendengar namun sang pengemudi bisa membawa motornya dengan baik. Agar perasaanku lebih tenang, aku bantu menunjukkan jalan mana yang sebaiknya diambil, belok kanan atau kiri… atau lurus….. alhamdulillah selamat sampai tujuan….

Seseorang yang memiliki kekurangan fisik, seperti tuli misalnya… menurutku dia sedang “dalam penjagaan Allah”  karena dia tidak akan bisa mendengar kata-kata kotor maupun ucapan yang tidak disukai Allah. Pertanggung jawabannya di akherat pun tidak seberat orang-orang yang memiliki panca indera sempurna. Subhanallah….

Semoga sang pengemudi Uber itu betul-betul ikhlas dan sabar menerima takdirNya serta tetap selamanya berbaik sangka pada Sang Pencipta, agar menjadi ladang pahala dan calon penghuni syurgaNya, aamiin….

Iklan

Late Post#5, Tiba di Hipperholme

Finally... sampailah kami di kota kecil atau desa yang indah bernama Hipperholme,  West Yorlshire. Dan kami menginjakkan kaki pertama kalinya di sekolah yang bernama Hipperholme Grammar School.

Turun dari bis, bukan hanya disambut oleh udara yang dingin, namun juga oleh sambutan dari beberapa host parents, but not mine.   Mereka yang bisa hadir untuk menyambut kami adalah mereka yang tinggal masih dekat sekolah. Sedangkan lokasi host parents aku dan Naira, murid yang tinggal bersamaku, cukup jauh di pinggiran kota, Bradford. Ada yang memakai kendaraan, ada yang hanya berjalan kaki.  Aku bersama Naira, juga murid-murid lain Andra dan Adjie dijemput oleh taxi karena lokasi kami satu arah.  Seperti host parents yang kutemui, supir taxi kami cukup baik dan sopan, meskipun tidak banyak bicara.  Berbeda dengan kebanyakan supir di Indonesia, sering mencoba membuka percakapan dengan penumpang.  Kunikmati perjalanan yang cukup jauh sambil melihat pemandangan dan mendengarkan murd-muridku bercanda. Ya Allah, subhanallah … aku ada di bumiMu yang bukan ibu pertiwi,  akan tinggal bersama keluarga asing 7 hari lamanya, serasa mimpi….

Rumah-rumah yang kulihat tertata rapi, bentuknya unik dan cantik. Sebagian besar memiliki halaman, sebagian kecil seprti bentuk rumah yang kulihat di film “Bill Cosby”  It took about 20 minutes from school to my new house.  Dan saat sampai di depan rumah, voila... bentuk rumah sama seperti yang kulihat di televisi keluarga Bill Cosby, namun terletak di atas tebing yang mana aku atau siapa pun bisa melihat jelas pemandangan di bawah rumah kami.  Ada taman kecil di sekitar rumah dengan bunga aneka warna dan sebuah mobil sedan kecil produk negeri mereka.  I think our new home is obviously like a villahouse in Puncak, Bogor. Udara semakin dingin saat aku turun. Supir membantu kami untuk menurunkan koper dan meletakkan di depan pintu rumah, lalu ia mengetuk pintu. Pintu pun terbuka. Seorang ibu yang berbada tinggi besar dengan ramah menyambut kami dan tanpa menunggu lama karena tidak kuat dingin, aku dan Naira pun bergegas masuk. Sang nyonya rumah itu bernama Sue. Tidak tau nama lengkapnya, karena ia hanya memperkenalkan namanya Sue.

Sue membawa kami langsung ke dapur karena mungkin melihat kami yang lelah dan kelaparan.  Dengan ramah, kami ditawari makanan yang kami mau, antara sup atau kari ayam dengan nasi . Nasi? Ternyata orang England suka makan nasi. Naira memilih kari ayam dan nasi, sedangkan aku yang merasa betul-betul kedinginan merasa cocok makan sup. Yang ada di sana adalah sup tomat. Dan saat kucicipi, ma syaa Allah… betul-betul serasa tomat! Tidak ada gurih sama sekali seperti di Indonesia. Sue menghidangkannya di mangkuk besar, lagi! Seraya meminta maaf berkali-kali agar tuan rumah tidak tersinggung, aku hanya sanggup menghabiskan setengah mangkuk saja, tidak muat lagi perutku.  Untunglah Sue sangat pengertian. Sambil menemani kami makan, Sue mengajak kami ngobrol dan tak lama suaminya datang ikut bergabung bersama kami. Richard Waters nama sang suami.  Tubuhnya sama, tinggi besar. Keduanya sangat ramah kepada kami sehingga baik aku maupun Naira tidak merasa canggung.

Richard dan Sue memiliki sepasang anak. Yang pertama perempuan bernama Charlotte dan yang kedua bernama Joseph atau Jo, nama panggilannya. Putri mereka sudah bekerja sebagai fashion designer di Barcelona, Spanyol. Jo masih sebagai pelajar high school dan aktivis gereja. Richard bekerja sebagai perawat dari pasien gangguan mental / depresi.  Sue juga bekerja di rumah sakit namun beda lokasi dan di bagian farmasi.  Sebagai pasangan pekerja, peralatan di rumah cukup modern termasuk tempat cuci piring. Aku bahkan sama skali tidak diperkenankan untuk mencuci piring atau peralatan lainnya yang kotor di sana.

Selesai makan, kami dibawa untuk melihat ruangan yang ada di lantai dasar. Selain dapur, ada ruang tamu dan ruang keluarga, sebuah toilet yang cukup besar dan kamar kerja. Kemudian kami diajak naik untuk menuju kamar.  Kamarku  tepat di atas dapur di lantai 1, sedangkan kamar Naira lebih ke atas lagi, di lantai 2. Naira tidak berani tidur sendiri, jadi ia hanya menyimpan koper saja di kamarnya, lalu berdiam dan tidur di kamarku. Kebetulan ada 2 single bed di dalam kamarku. Kamar yang cukup luas, perabotannya model kuno dan antik, namun bersih dan kokoh. Alhamdulillah… aku dipertemukan dengan keluarga yang baik.  Sayangnya, no pets … padahal aku berharap tadinya bisa  bersama keluarga yang memiliki kucing.

Kami dipersilakan istirahat sebentar. Sekitar 2 jam kemudian, Sue mengajak kami jalan ke pertokoan terdekat. Aku memang sempat bilang butuh sweater yang tebal karena masih kedinginan meskipun sudah ada heater. Dan Sue pun akan belanja untuk kebutuhan makan kami di sana. Aku bersama Sue dan Naira pergi ke supermarket yang lumayan besar namun tidak banyak pengunjung.  Tidak seperti di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia, menurut Sue pengunjung datang ke sana jika betul-betul ada kebutuhan, bukan sekedar jalan-jalan. Terlebih saat itu hari Minggu di mana toko-toko akan tutup pada pkl 16.00 / 04.00 sore waktu setempat.

Sesampai di rumah kami langsung ke kamar untuk istirahat kembali sambil menunggu makan makan.  Sayangnya… baik aku maupun Naira tidak ada yang makan malam. Kami ketiduran!  Tidur nyenyak sekali sampai tidak mendengar panggilan sama sekali. Terbangun aku di tengah malam untuk shalat sambil merasakan perut lapar. Untunglah aku bawa bekal dari negeri sendiri,  beberapa snack yang terasa sekali manfaatnya, alhamdulillah…. Naira?  Baru bisa buka mata diatas pkl 05.00 waktu setempat, hehehe…. akibat jetleg 🙂

Late Post#4, Indahnya Pemandangan

Pemandangan alam di musim semi kunikmati sepanjang perjalanan dari Manchester ke West Yorkshire. Masya Allah indahnya…  langit cerah ditambah lagi kondisi jalan yang jauh dari ramai, jadi membuat nyaman.

Ada pepohonan yang daunnya warna warni,  ada danau yang terlihat airnya biru jernih, ada tanah yang penuh rerumputan dengan beberapa ekor kuda dan biri-biri, ada juga tanah luas tanpa pepohonan maupun rerumputan. Rumah atau bangunan yang kulihat tidak banyak,  lebih luas tanah dan alam yang mengelilinginya.  Rupanya seperti itulah suasana desa di atau kota kecil di Inggris.

As I know, the British love their countryside. They also love pets. Dan aku berharap,  tempat aku tinggal nanti ada kucing, hihihi … 😄

Bis membawa kami ke West Yorkshire yang jaraknya cukup jauh dari Manchester dan akan langsung menuju sekolah tempat murid-muridku belajar, Hipperholme Grammar School.

England,  we’re coming….

20180429_09382920180429_09582820180429_10124520180429_10125320180429_10134720180429_10075120180429_10121920180429_10123920180429_09475420180505_10371820180429_10022420180505_103523

 

 

Late Post#3, Perjalananku

Diawali dari keberangkatan aku dan semua peserta homestay 2018 ke bandara Soekarno-Hatta, lalu tiba kami di terminal 2D dan bergabung dengan pihak travel. Om Rifki, wakil dari travel sebagai team leader of us.

As usual, sebelum masuk pesawat tentu harus melakukan ritual seperti cek boarding pass dan lain-lain oleh petugas imigrasi  dengan antrean yang cukup panjang.  Lalu menunggu, sampai akhirnya menuju pesawat sekitar 15 menit sebelum take off.

Dari Jakarta menggunakan pesawat Etihad EY 475 menuju Abu Dhabi Airport. Aku mendapat tempat duduk di bagian tengah,  bersebelahan dengan Bu Leli dan seorang lelaki muda yang sepertinya sebangsa dengan kami. Di pesawat pertama ini, aku lebih banyak tidur karena merasa diri ini sangat letih dan kepala pusing. Terbangun hanya untuk shalat, makan, atau ke toilet.

Makanan di pesawat ada yang bisa kunikmati, namun ada yang tidak bisa kusentuh sama sekali karena menunya tidak cocok. Aku tidak suka kare dan menu utama rupanya kare, meskipun ada dua pilihan, kare kambing atau kare ayam. Aku cuma menikmati snack saja dan minum air mineral hangat. Juice sebetulnya minuman kesukaanku, tapi kondisi badanku yang kurang fit, membuat aku butuh air mineral hangat saja. Untung pramugarinya ada yang mau melayani permintaanku, seorang pramugari yang satu-satunya WNI. Terima kasih ya, mbak…🙂

Sampai di bandara transit, ternyata suasananya ramai. Kulihat semua toko tidak ada yang tidak dikunjungi orang dan pengunjung di sana dari berbagai bangsa. Terutama toko-toko makanan, terlihat penuh. Aku sendiri lebih memilih duduk di ruang tunggu saja sambil mengisi baterei ponsel. Sedangkan murid-muridku sudah menghilang entah ke mana, tidak ada yang betah diam menunggu.  Begitu juga Pak Masdiko,  Bu Leli,  dan Om Rifki yang sepertinya lebih suka jalan-jalan. Salah seorang muridku yang bernama Athaya membelikan segelas teh panas yang harum. Alhamdulillah… sangat menolong kondisi badanku yang kurang fit .

Sekitar sejam sebelum waktu kami akan berangkat lagi, barulah murid-muridku kembali dan duduk bersamaku. Ngobrol dan becanda dengan murid sambil menunggu sampai kami diingatkan oleh Om Rifki untuk bersiap-siap lagi.

20180429_044221

Koper kabin dan ransel milikku diperiksa, dibongkar isinya. Yang membuat aku bingung saat muridku yang bernama Raisara ditahan oleh salah satu petugas di sana. Karena aku sebagai pendamping  sekaligus wali kelasnya maka aku tidak mau meninggalkan muridku itu sendiri.  Aku bertanya alasannya kepada si petugas tapi tidak dijawab. Kesal. Bingung.  Tapi berusaha tetap tenang di depan murid-muridku yang melihat hal tersebut.

Saat aku dan Raisara diam menunggu tindakan si petugas,  Om Rifki datang. Beliau bertanya kenapa kami tidak masuk pesawat dan aku sampaikan alasannya . Akhirnya Om Rifki menyuruh aku masuk saja dan beliau yang menggantikan aku untuk berhadapan dengan petugas.

Sepanjang jalan menuju tempat duduk,  aku terus berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa . Belum 10 menit aku duduk,  Raisara dan Om Rifki masuk. Kata mereka, tidak ada apa-apa, langsung boleh jalan oleh si petugas.  Loh?!…

Dalam pesawat kedua, aku kembali duduk di bagian tengah dan bersebelahan dengan Bu Leli.  Tapi sebelahku yang lain adalah seorang lelaki asing yang wajahnya seperti penyanyi grup Westlife. Ganteng…  Karena kebelet ingin buang air kecil, aku ke toilet.  Saat aku kembali ke tempat duduk, ternyata posisi berubah. Tempat dudukku diisi seorang perempuan muda yang memangku seorang bayi. Menurut Bu Leli, mereka suami istri yang tukar tempat duduk denganku. Okelah… aku jadi duduk di depan mereka, bersebelahan dengan Kayla dan seorang perempuan muda yang cantik. Berambut pirang dan ramah, mau ngobrol denganku.  Sayang aku lupa namanya,  tapi aku ingat dia seorang pelatih renang dan punya hobi travelling. Berasal dari Perth, Australia dan tinggal di Manchester.

Jika di pesawat pertama aku lebih banyak tidur,  berbeda dengan di pesawat kedua.  Kondisi badan yang sudah membaik membuat aku lebih suka ngobrol,  bertukar pengalaman menjadi guru karena teman baruku itu juga bisa disebut guru karena profesinya melatih anak-anak kecil berenang. Sadar waktu menjelang pagi saat pramugari menawarkan sarapan.  Aku memilih pasta, kue muffin as dessert,  dan apel juice.

Tidak lama setelah sarapan, kami sampai di Manchester Airport.  Sebelum pesawat landing,  Om Rifki membagikan selembar kertas yang harus diisi. Rupanya sebagai pendatang dan bukan penduduk di sana,  kami wajib mengisi Landing Card. Paspor dan visa juga harus dijaga baik agar tidak terjadi masalah. Kembali kami dicek kelengkapan dokumen oleh petugas imigrasi sebelum  keluar dari Manchester Airport .

20180429_073930

Om Rifki sebagai penunjuk jalan kami yang baru pertama kali ke Manchester.  Sempat salah pintu keluar untuk menunggu bis jemputan dan kami pun harus masuk lagi untuk ke pintu yang lain. Seperti rombongan semut….

Udara Manchester luar biasa dingin. Rupanya seperti ini udara di musim semi…. tidak ada dari kami yang tidak merasa kedinginan, kecuali Om Rifki. Beliau sudah terbiasa mondar mandir ke negara Queen Elizabeth di musim semi.

20180429_09353420180429_093529

Setelah menunggu lebih dari 30 menit,  sebuah bis besar bertuliskan “Cropley” datang menghampiri kami. Finally… supirnya seorang berbadan besar dan berewok tapi ramah menyapa kami,  “Hello… good morning, welcome to England,” katanya pada kami saat kami masuk ke dalam bis. Dan aku memilih duduk tepat di belakang supir yang bernama Ade tersebut.

Aku menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari Manchester ke West Yorkshire.  Selain itu, hal yang membuat aku nyaman adalah kondisi bis yang hangat, setelah aku merasa kedinginan di luar. Ya Allah… aku bisa menginjak negara yang tidak pernah ada dalam mimpiku sebelumnya… terima kasih atas takdirMu ini, alhamdulillah….

 

 

 

 

Late Post#2, Berangkat!

Hari keberangkatan tiba. Hari Sabtu tanggal 28 April 2018 adalah hari yang paling ditunggu oleh aku dan murid-muridku. We’re going to UK, yesss…. 🤗

Awalnya aku bingung untuk pergi lama karena akan meninggalkan “teman setia” alias kucing kesayanganku, Whity. Untunglah seorang muridku, Kayla,  menawari untuk dititipi Whity di rumahnya karena kebetulan dia dan keluarganya sama-sama penyayang kucing. Alhamdulillah…  Aku sulit percaya lagi pada petshop karena pernah ada pengalaman menitipkan Whity selama 4 hari. Waktu aku jemput Whity, badannya jadi kurus.

Aku berterima kasih juga kepada sahabatku, Sizzy, yang selalu bersedia membantuku packing tiap aku akan pergi ke luar negeri. Ditambah kondisi aku yang sibuk dengan pekerjaan,  sehingga sadar untuk packing in the last minute. Lagi-lagi pertolongan Allah yang memberiku orang baik untuk membantu urusanku, alhamdulillah….

Aku tiba di sekolah pukul 11.30 setelah mengantar Whity ke rumah Kayla. Murid-muridku mulai berdatangan 1/2 jam setelah aku di sekolah. Begitu juga dengan kepala sekolah Pak Masdiko dan Bu Leli,  rekan kerja yang ikut bersama mendampingi murid-muridku.  Kami memang wajib berangkat bersama dari sekolah menuju bandara Soekarno -Hatta. Seperti layaknya rombongan yang akan pergi, diadakan upacara pelepasan oleh pihak yayasan dan doa bersama. Setelah selesai  doa, kami berangkat menggunakan bis yang isinya penuh sesak dengan koper-koper. Pihak travel meminta kami sudah ada di bandara sekitar pukul 14.00

img-20180428-wa0076img-20180428-wa0062img-20180428-wa0084img-20180428-wa0100img-20180428-wa0028img-20180428-wa0086

img-20180428-wa0041img-20180428-wa0030img-20180428-wa0088img-20180428-wa0087

Jadwal pesawat take off pukul 17.55 WIB, by Etihad Airways, dengan tujuan Abu Dhabi. Transit sekitar 3 jam, lalu perjalanan akan dilanjutkan lagi sekitar 5 jam menuju Manchester Airport,  UK. Karena lintas benua,  perjalanan kami akan memakan waktu yang sangat lama,  hampir 12 jam dalam pesawat. Subhanallah….

Kami tidak menuju London karena lokasi homestay ada di daerah West Yorkshire, jauh di atas London. Nanti setelah program homestay selesai , barulah kami menuju London dan pulang ke Indonesia dari Heathrow Airport.

So, good-bye Indonesia… we’re leaving and we’ll have 13 days of new adventure, Insya Allah 🙂

20180510_134938

Late Post #1, Menjelang Homestay

Tahun ajaran 2017/2018 adalah tahun yang luar biasa bagiku. Diamanahi sebagai wali kelas internasional yang memiliki program ke luar negeri, tepatnya Students Immersion and Homestay Program, automatically aku harus selalu mendampingi murid-muridku, Angkatan 32 dari SMP Bakti Mulya 400 Jakarta.

Seperti di tahun-tahun sebelumnya, murid-murid yang akan homestay di luar negeri harus membekali diri untuk tampil di sekolah yang dituju.  25 orang muridku  Insya Allah ikut semua dan mereka harus terlibat untuk tampil dengan baik di sana. Membawa nama sekolah, membawa nama bangsa…

Rencana berangkat pada tanggal 28 April 2018 dengan negara tujuan United Kongdom (UK) atas hasil pilihan para orang tua dan murid-muridku. Bekerja sama dengan travel Mulia Edukasi Mandiri (MEM), aku bertekad kuat untuk membuat murid-muridku bisa menampilkan yang terbaik.

Selama dua tahun menjadi wali kelas, aku tentu sangat mengenal karakter murid-muridku. Banyak yang memiliki skill di luar akademik, khususnya dalam seni.  Diberitahu oleh pihak MEM bahwa waktu yang diberikan di sana tidak akan lama, maka rencana awal akan ada tiga jenis yang ditampilkan yakni drama, menyanyi, dan menari berubah! Drama terpaksa dihilangkan. Murid-muridku hanya berlatih menyanyi dan menari.

Murid yang menyanyi dengan diiringi musik yakni semua murid laki-laki ditambah empat orang murid perempuan. Sedangkan murid yang menari yakni semua murid perempuan. Lagu-lagu yang dibawakan adalah beberapa lagu dari daerah Sumatera Utara secara medley yakni “Sik Sik Sibatumanik”, “Sigulempong” dan “Opio”, serta satu lagu lawas namun dibawakan dengan aransemen baru, “Gang Kelinci.” Tadinya masih mau ditambah dengan lagu dari daerah lain, namun khawatir terlalu banyak lagu yang harus dipelajari, murid-muridku kesulitan hafal.

Tarian yang dibawakan oleh semua murid-muridku yang perempuan berasal dari Jawa Timur, dikenal dengan nama “Cunduk Menur”  Suatu tarian yang mengisahkan tentang gadis-gadis cantik molek yang menjadi bunga-bunga desa.  Gerakannya atraktif dan penampilannya pun warna warni, mulai dari riasan bunga yang ada di atas kepala sampai bajunya, sangat cocok dibawakan oleh penari seusia murid-muridku. Masalahnya, sebagian dari murid-muridku tidak memiliki bakat menari dan tidak juga tertarik untuk menari. Alhasil, aku harus terus memberi mereka motivasi dan menemani setiap kali mereka latihan.

Berbeda dengan kondisi latihan menari, mereka yang latihan menyanyi dan bermain musik lebih semangat dan lebih cepat untuk menerima arahan pelatihnya. Aku yang selalu rutin menemani murid-muridku latihan bisa merasakan perbedaan itu. Memang ada satu dua murid yang sulit untuk bisa bermain musik, mungkin karena tidak ada bakat, ada juga yang pemalu. Aku dorong terus mereka untuk mau mencoba, tidak boleh menyerah. Aku tidak ingin satu orang pun dari muridku yang tidak tampil, semua harus tampil dengan beragam alat musik yang disediakan. Dari alat musik yang modern seperti drum, keyboard, gitar akustik dan gitar elektrik sampai alat musik ritmis tradisional seperti marakas yang tinggal digoyang-goyang atau alat yang dipukul  seperti tamborin, dan kendang. Lengkap.

Sekitar tiga bulan murid-muridku berlatih. Alhamdulillah, aku terbantu sekali oleh Pak Galih dan Pak Reza sebagai pelatih murid-murid menyanyi dan bermain musik. Sedangkan pelatih murid-murid menari adalah guru ekskul yang bernama Bu Uun. Semangat dan semangat!!

20180421_111254[1]Hasil latihan murid-muridku tersebut dapat dinikmati oleh para orang tua murid pada acara khusus yang bernama Gelar Pamit di hari Sabtu tanggal 7 April 2018. Semua orang tua kulihat puas dan senang melihat penampilan anak-anak mereka.   Alhamdulillah, semua muridku bisa tampil baik meskipun masih ada beberapa yang malu-malu. Mungkin karena belum pernah naik panggung ditambah harus tampil di depan orang tuanya.

Bersyukur aku karena kerja keras murid-muridku untuk latihan membuahkan hasil yang manis.  Semoga saja di sekolah yang kami kunjungi nanti, semua muridku bisa tampil lebih optimal lagi, memberi kesan baik untuk para guru dan murid di sekolah sana, aamiin….

 

 

 

.

 

 

 

Rinduku…

Hari ke-17 di bulan Januari di tahun 2019 adalah kembalinya aku menulis di sini. Setelah sekian lama aku tenggelam dalam kesibukan, sampai aku bisa “bernafas lega” untuk hari ini. Bukan tidak ada kesibukan sama sekali, namun sudah tidak “separah” hari-hari yang lalu.  Hal yang paling menyita pikiran dan tenagaku adalah menjelang dan saat aku diamanahi tugas mendampingi siswa untuk program homestay ke luar negeri di bulan April 2018 dan dilanjutkan dengan mengeluarkan karya tulisan dalam bentuk novel. Di sisi  lain, aku diamanahi juga mengajar semua kelas dan adanya anak-anak yang “special needs”

Bagaimana pun, aku bersyukur dengan kehidupanku. Kesibukanku pun tetap kusyukuri, karena kesibukan yang bernilai ibadah. Ibadah yang wajib bagi tiap manusia dan berbuah pahala jika dijalani ikhlas.

Rinduku akan ditumpahkan mulai hari ini, Insya Allah

Refreshing # 3

Betul-betul lega jika sudah melewati jembatan yang tidak pernah berhenti bergoyang dari ujung satu ke ujung lain. Sudah selesai? No! As I said… masih harus bergerak… jalan sampai ke lokasi lain yang lebih menarik dan indah alam pemandangannya. So, a healthy trip, a wonderful place, a picturesque view... 🙂

Masyaa Allah… alhamdulillah…. 1 informasi penting dari salah seorang penduduk asli di sana bahwa tempat wisata tersebut hanya dibuka selama liburan lebaran karena masih percobaan dan belum lengkap fasilitas serta sarana lainnya. Kemungkinan besar akan ada flying fox, restaurant, dll  yang kita tidak tahu.  Rencananya, fix tahun depan seiring dengan selesainya pembangunan jalan tol Ciawi-Sukabumi,  insyaa Allah…