Hikmah Dari Pengemudi Online

As usual… aku menggunakan ojek online untuk rutinitas Sabtu sejak pagi sampai sore. Kadang Gojek, kadang Grab, kadang Uber… dan hari Sabtu kemarin aku memilih Uber.

For the first time of my life, sesaat setelah aku klik “book” maka keluar kalimat  “driver Anda punya masalah pendengaran…” Subhanallah…. Ternyata bukan cuma mengenal berbagai karakter pengemudi jika kita memakai kendaraan umum, namun juga kondisi lahiriah seperti yang Allah takdirkan kemarin. Takdir? Tentu saja… karena tidak ada yang kebetulan… semua sudah diatur oleh Allah SWT.

Meskipun kondisi tidak bisa mendengar namun sang pengemudi bisa membawa motornya dengan baik. Agar perasaanku lebih tenang, aku bantu menunjukkan jalan mana yang sebaiknya diambil, belok kanan atau kiri… atau lurus….. alhamdulillah selamat sampai tujuan….

Seseorang yang memiliki kekurangan fisik, seperti tuli misalnya… menurutku dia sedang “dalam penjagaan Allah”  karena dia tidak akan bisa mendengar kata-kata kotor maupun ucapan yang tidak disukai Allah. Pertanggung jawabannya di akherat pun tidak seberat orang-orang yang memiliki panca indera sempurna. Subhanallah….

Semoga sang pengemudi Uber itu betul-betul ikhlas dan sabar menerima takdirNya serta tetap selamanya berbaik sangka pada Sang Pencipta, agar menjadi ladang pahala dan calon penghuni syurgaNya, aamiin….

Maukah Kita Beruntung?

Apakah ada orang yang tidak mau beruntung di dunia ini?

Tausiyah  Aa Gym  di  Mesjid  Istiqlal  hari  Ahad kemarin (9/7/2017)  mengenai   pengertian  orang-orang  yang beruntung menurut Al Qur’an.  Siapakah mereka???

  1. orang yang beriman karena orang tersebut selalu yakin kepada Allah SWT, menjalani kehidupan ini hanya demi Allah Sang Pencipta dan Pemilik Alam Semesta.  Jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, harus bisa ridho atas takdirNya karena itu adalah ujian.  Namun… bagaimana iman tetap ada dalam diri kita?  Jawabannya 1 yaitu pupuk iman dengan ilmu. Ilmu tentang tauhid (ketaqwaan terhadap Allah SWT),  menjaga pergaulan atau bergaul dengan mereka yang berjuang di jalan Allah dan berusaha menjaga tauhidnya, mujahadah / sungguh- sungguh mengamalkan ilmu yang sudah diperoleh, dan rajin tafakur agar senantiasa bisa memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
  2.  orang yang beramal shaleh, yang harus diawali dengan niat ikhlas lillahi ta a’la dan dengan cara yang benar
  3.  orang yang suka diingatkan dan mengingatkan kebajikan dengan saling menasehati karena sering diri kita ini susah untuk melihat kekurangan diri sendiri sehingga butuh orang lain
  4.  orang yang sabar atau mampu menhan diri. Sabar dalam taat terhadap perintah Allah, taat dalam menjauhi maksiat / hal-hal yang dilarang Allah, dan sabar dalam menghadapi musibah.

Mereka yang beruntung seperti yang dijabarkan di atas jelas terdapat dalam  Al Qur’an surah Al ‘Asr  (QS 103: 1-3) yang berbunyi:

  1.  wal-‘asr (i)
  2.  innal-insaana lafi khusr (in)
  3.  illal-laziina aamanuu wa’amilus salihaati wa tawaasau bil-haqqi wa tawaasau bis-sabr (i)

“Mudah-mudahan diri ini bisa selalu diberi Allah SWT kesempatan untuk menimba ilmu dan kemudahan serta kecerdasan mengamalkan setiap ilmu yang diterima, aamiin…. “

Taman Ambu

Ambu adalah panggilan kesayangan keluarga termasuk aku kepada bibiku yang tinggal di Sukabumi. Menginap di rumahnya membuatku nyaman. Salah satu alasannya adalah rumah yang dipenuhi oleh tanaman dan pepohonan, Ada pohon durian, pisang, sirsak, beberapa jenis tanaman obat dan tanaman hias….

Setiap pagi, aku senang menghirup segarnya udara Sukabumi sambil memandangi taman ambu. Tidak pernah bosan. Sejuk… sehat…. 🙂

My Lovely Children

Menjadi wali kelas dari 24  siswa yang terdiri atas 10 putra dan 14 putri, hidup terasa penuh warna. Sifat tiap dari mereka  yang tentulah  dipengaruhi oleh  latar belakang keluarga  menjadi catatan tersendiri bagiku.  Yang paling menyita energiku adalah sebagian besar anak putra yang masih  childish.  However, I love and care about them… They made my days 🙂

Kids… I’m so grateful for being your homeroom teacher…  wish all of you will get success in the future.  I do miss you…. 🙂

Ilmu Berharga

Siapa bilang belajar hanya bisa diperoleh dari bangku sekolah? Ilmu itu luas… lebih luas dari samudera… dan suatu anugerah jika kita diberi ilmu.  Dan alhamdulillahI’ve got the precious thing from an old woman.

Mencoba menikmati Jumat terakhir di masa liburan, aku memutuskan jalan-jalan by mikrolet  ke Tanah Abang.  Kebetulan aku pun ada kepentingan untuk seorang sahabat. Baik berangkat maupun pulang, kurasakan tidak terjadi kemacetan yang berarti.  Kondisi jalan Jakarta  “belum pulih”  karena kemungkinan besar sebagian dari penduduk di Jakarta masih liburan di luar kota atau luar negeri.  Begitu juga kondisi di pasar Tanah Abang.  Beberapa toko masih tutup sehingga membuatku nyaman, tidak berdesak-desakan seperti biasanya… 🙂

On the way home, something happened. Kalau aku tidak salah ingat, seorang wanita tua yang mungkin lebih tepat kusebut nenek, naik dari daerah Palmerah.  Penampilannya cukup mengkhawatirkan.  Pakaian yang dikenakannya cukup lusuh menutupi tubuhnya yang sudah bungkuk dan  membawa dua kantong kresek yang sepertinya cukup berat.  Aku yang duduk di bangku depan hanya mendengarkan pembicaraan antara si nenek itu dengan penumpang lain yang menyapanya. Penampilan si nenek tersebut memang membuat siapa pun yang memandangnya akan jatuh iba.  Beliau membahasakan dirinya “emak”.

“Emak abis dipanggil Bu haji.  Ini mau pulang. Bu haji baek ke emak… emak dikasih sirop, makanan, duit 200 ribu…” kata si nenek.

Seorang ibu bertanya, “Emak mau pulang ke mana?”

“Ke Pamulang”

Hah?! Subhanallah… aku kaget karena jarak dari Palmerah ke Pamulang sangat jauh dan beliau yang sudah tua itu hanya seorang diri.  Mikrolet yang kami tumpangi pun hanya sampai Pasar Kebayoran Lama. Dan harus dua kali lagi mikrolet untuk mencapai tujuan si nenek.  Aku berkesempatan untuk bisa lebih dekat bersama beliau di mikrolet kedua karena kebetulan tempat tinggalku searah meskipun tidak sejauh beliau.  Aku duduk bersebelahan dengannya agar bisa lebih banyak tau karena aku memang tertarik ingin tau beliau .

“Emak sendirian? Anak cucu emak ke mana?” tanyaku kepada beliau sambil memandangi wajah keriputnya.

“Emak ada anak yatim di rumah. Anak emak dua, tapi yang satu udah gak ada. Meninggal. Yang masih ada, buta…”

Beliau terisak sebentar. Ya Allah… betapa beratnya ujian hidup beliau… Kemudian …

“Allah sayang emak. Emak dapat banyak rejeki.  Allah udah gerakin hati orang-orang untuk mau baek ke emak. Berkah anak yatim yaa…  Alhamdulillah…”

Ya Allah… sambil menahan air mata haru, aku mengiyakan.  Hanya dengan dua kantong kresek yang berisi beberapa sembako dan uang 200 ribu dari bu haji ditambah beberapa lembar puluhan ribu yang diberikan oleh beberapa orang penumpang, bibir beliau terus menerus mengucap syukur. Syukur dan syukur….

Aku betul-betul banyak belajar dari beliau. Usia yang renta namun tetap tabah, sabar, dan ikhtiar menjemput rizqi, selalu bersyukur, dan yang terpenting… haqul yakin takwa terhadap Allah SWT. Bilamana dulu aku belajar ilmu itu dari  almarhum mamaku,  kini   aku dipertemukan dengan  seorang nenek  untuk  mengingatkan kembali  tentang syukur dan sabar.  Terima kasih ya, nek… semoga Allah SWT selalu melindungimu, memberi rahmat dan kasih sayang serta rizqi yang penuh berkah, aamiin….

 

Semua Pasti Ada Hikmahnya….

Menuju kota Sukabumi demi tujuan mengunjungi tempat peristirahatan terakhir orang tua, ternyata Allah SWT mentakdirkan aku sakit! Sejak sampai di hari Senin sore hingga hari terakhir aku di sana, kondisi badanku justru ambruk. Kepala pusing, mual sampai mencium bau masakan pun tidak kuat, dan panas dingin saat malam hari. Subhanallah....

Semua terjadi di luar perkiraanku.  Aku yang saat berangkat merasa “okay” terus terang sedih saat menyadari aku tidak bisa  “nyekar”  sedangkan  I’ve been there… the city where they’re burried.  Takdir Sang Pemilik Kehidupan memang tidak bisa dilawan… pasrah… mencoba ikhlas….

Semalam sebelum aku pulang, aku minta tolong dipijit dan  hal itu membuatku sedikit lebih baik. Hampir 2 jam aku dipjit oleh seorang ibu tua yang sudah lama menjadi tukang pijit di desa bibiku tinggal. Alhasil, pagi-pagi aku sudah mampu mengisi perutku dengan sedikit nasi hangat dan tempe bacem buatan bibiku.  Alhamdulillah….

 

 

 

 

Back to Jakarta by train.  Kesedihanku terhibur dengan memandangi pemandangan sepanjang jalan Sukabumi ke Bogor.  Yah baru ada kereta api Sukabumi ke Bogor dan sebaliknya…  Semoga beberapa tahun mendatang pemerintah akan menyediakannya, aamiin…

Pemandangan alam yang indah sebagai bukti kesempurnaan Sang Maha Kuasa, Sang Pemilik Alam Semesta,  Ma syaa Allah….

 

Late Post : Jalan-jalan Sore

Hari ketiga setelah Idul Fitri, aku bersama salah satu keponakan, Ade, jalan-jalan ke Farm House Lembang.  Berdua kami menggunakan go-jek dan perjalanan yang cukup jauh bisa dicapai sekitar 1/2 jam saja. Ma’lum… motornya gesit meliuk-liuk di sela-sela kemacetan jalan dari Setia Budi menuju Lembang.

Tiket masuk seharga Rp 25,000/ orang dan itu berlaku untuk semua usia. Ade yang sudah pernah beberapa kali ke sana, menjadi  tur-guide aku. Berkeliling melihat bangunan-bangunan yang unik, mampir ke tempat suvenir sampai ke tempat hewan-hewan seperti kelinci, domba, dan anak sapi. Tadinya aku mau sewa baju a la putri Eropa, namun melihat antrian yang cukup panjang, aku jadi segan. Lain kali saja….

Tempat istirahat dan makan cemilan maupun restaurant ada di pinggir jurang. Melihat ke dalam jurangnya sekali pun, aku kagum atas keindahan pemandangannya… Ma syaa Allah…. sungguh pintar si investor memiliki tempat ini dan tentunya sungguh sempurna karya Sang Pemilik Alam….

Alhamdulillah.…  Senang bisa berjalan-jalan di tempat yang dikelilingi oleh alam dan udara segar. Andai tidak keburu sore dan mulai hujan, aku ingin lebih lama lagi berada di sana.  Hal paling menyenangkan bagi keponakanku, ada susu gratis setiap ke sana. 🙂

Late Post: Di Hari Nan Fitri

Idul Fitri 1438 H jatuh di hari Ahad (25/6/2017). Berkumpul bersama keluarga adik alm. mama di Bandung, aku menikmati  hari penanda berakhirnya shaum Ramadhan. Alhamdulillah... sejak berangkat dari Jakarta ke Bandung, aku tidak mengalami kendala bahkan macet sekali pun… mungkin karena sudah lewat dari “puncak mudik” Sesampainya di rumah bibi, aku langsung mengaduk adonan kue sampai jadilah kastengel. Rasa dari kastengel yang kubuat tersebut alhamdulillah… diakui enak oleh saudara-saudaraku.

Hidangan makanan lebaran seperti layaknya mereka yang merayakan lebaran pastilah harus ada ketupat. Tambah sambal goreng kentang yang dilengkapai pete dan daging. Juga rendang, acar bumbu kuning, dan ayam. Khusus tahun ini ayam tidak dibuat opor, namun dibuat bumbu cabai hijau. Alhamdulillah…

Doa yang terus kuhujamkan dalam hati   “semoga amal ibadah puasa Ramadhanku diterima Allah SWT,  diberikan kesempatan  untuk  bertemu  Ramadhan berikutnya,  bahkan  suatu saat aku diundang Allah SWT  untuk bisa menikmati ibadah puasa ramadhan di tanah suci, aamiin…”

TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM…,  SHIYAMANA WA SHIYAMAKUM ….

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN…,  MOHON MAAF LAHIR BATIN …..