Hikmah Dari Pengemudi Online

As usual… aku menggunakan ojek online untuk rutinitas Sabtu sejak pagi sampai sore. Kadang Gojek, kadang Grab, kadang Uber… dan hari Sabtu kemarin aku memilih Uber.

For the first time of my life, sesaat setelah aku klik “book” maka keluar kalimat  “driver Anda punya masalah pendengaran…” Subhanallah…. Ternyata bukan cuma mengenal berbagai karakter pengemudi jika kita memakai kendaraan umum, namun juga kondisi lahiriah seperti yang Allah takdirkan kemarin. Takdir? Tentu saja… karena tidak ada yang kebetulan… semua sudah diatur oleh Allah SWT.

Meskipun kondisi tidak bisa mendengar namun sang pengemudi bisa membawa motornya dengan baik. Agar perasaanku lebih tenang, aku bantu menunjukkan jalan mana yang sebaiknya diambil, belok kanan atau kiri… atau lurus….. alhamdulillah selamat sampai tujuan….

Seseorang yang memiliki kekurangan fisik, seperti tuli misalnya… menurutku dia sedang “dalam penjagaan Allah”  karena dia tidak akan bisa mendengar kata-kata kotor maupun ucapan yang tidak disukai Allah. Pertanggung jawabannya di akherat pun tidak seberat orang-orang yang memiliki panca indera sempurna. Subhanallah….

Semoga sang pengemudi Uber itu betul-betul ikhlas dan sabar menerima takdirNya serta tetap selamanya berbaik sangka pada Sang Pencipta, agar menjadi ladang pahala dan calon penghuni syurgaNya, aamiin….

Anak Indonesia, Apa Kabar?

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL

Ucapan yang selalu digaungkan tiap tanggal 23 Juli di negeri tercinta ini.  Ucapan yang tentu disertai harapan dan doa agar anak-anak Indonesia selalu dalam kondisi bahagia dengan menikmati dunianya, dunia anak-anak.

Kebahagiaan anak di masa sekarang ini tentu tidak seperti di masa dulu aku menjadi seorang anak. Banyak hal yang mempengaruhi… mulai dari didikan orang tua atau orang-orang terdekatnya, lingkungan sekitar, perkembangan teknologi, maupun keadaan seperti saat ini, pandemi!

According to the news on media recently that semakin banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami kekerasan dari orang-orang dewasa yang berada di lingkungan terdekatnya. Anak yang dianiaya, anak yang dibunuh, anak yang mengalami pelecehan seksual, … kebanyakan pelakunya adalah mereka yang dikenal oleh korban. Atau anak yang terpaksa harus bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Sedangkan jika kaitkan dengan kondisi pandemi sekarang, bagaimana dengan pendidikan anak-anak dari kalangan bawah untuk bisa tetap “bersekolah”…  hal itu tidak bisa tidak dipikirkan oleh kita semua.

Tiap anak adalah amanah. Keluarga adalah sekolah pertama yang diterima oleh seorang anak sebelum dia masuk “sekolah” bersama guru. Anak yang sehat bukan hanya karena fisiknya yang tumbuh kembang bagus karena makanannya bergizi, namun juga sehat mental,  dan ruhnya mengenal baik Sang Pemilik Kehidupan. Bahagia tidak terpartri dengan kekayaan. Kebahagiaan seorang anak akan berpengaruh terhadap bagaimana dia bersikap dan masa depannya. Sering terharu melihat anak-anak dari keluarga yang kekurangan namun memiliki semangat juang untuk mendapatkan hak mereka bersekolah, apa pun resikonya….

Teringat  sebuah lagu indah   “The Greatest Love of All” – Whitney Houston,  yang untukku sangat menyentuh syairnya :

Whitney Houston - Greatest Love Of All [Lyrics] - YouTube

Semoga anak-anak Indonesia sekarang ini menjadi anak-anak beriman, tangguh, sehat lahir  batin,  cerdas, mandiri, sukses di masa depan, dan menjadi generasi terbaik yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan negara, aamiin ya Rabb….

 

 

New Normal = No Normal

Sejak Maret 2020 kondisi pandemi CoVid-19 yang memaksa kita  stay at home tentulah membuat banyak orang jenuh dan ingin sekali keluar rumah. Terlebih bagi orang-orang yang terbiasa memiliki banyak aktifitas.  Jadi saat pemerintah menggaungkan adanya New Normal banyak sekali orang yang langsung merasa “sudah bebas”

Melalui media televisi dan internet, diberitakan orang “membludak” di tempat-tempat umum. Padahal sumber penyebaran virus itu melalui yang dikeluarkan dari orang batuk atau bersin.  Jika dalam kondisi orang banyak berkerumun, sulit untuk menghindar bahkan mengetahui ada orang lain yang sedang tidak sehat.  Jaga jarak sekitar 1 meter itu wajib hukumnya!  Ada lagi yang wajib dimiliki oleh semua orang tanpa pandang umur dan dipakai jika kita beraktifitas keluar rumah yakni masker! Masker kain bagi kita yang bukan tenaga medis sudah cukup. 1 hal lagi yang wajib diperhatikan yakni kebersihan tangan kita dengan mencuci tangan memakai sabun dan air yang mengalir. Khawatir tangan kita ini akan menyentuh wajah yang seharusnya dijaga, khususnya bagian hidung, mulut, dan mata.  Jika kondisi darurat tidak ada air, harus sedia hand-sanitizer.

Mereka yang bekerja di kantor tidak boleh semua datang dan bekerja bersamaan, harus dibagi menjadi beberapa shift.  Tempat ibadah khususnya mesjid atau mushalla harus diberi jarak dan sajadah bawa masing-masing dari rumah. Pasar maupun mall tidak boleh serentak dibuka semuanya, bergantian sesuai jadwal.  Sekolah  lebih baik masih tetap belajar virtual dari rumah. Khawatir anak-anak tidak mampu mengikuti protokol kesehatan dan ujung-ujungnya sekolah menjadi kluster baru untuk sumber penularan. Duh… jangan sampai itu terjadi ya, Allah….

Place are opening because of economy, not because it is safe… so new normal is no normal.

Preparation for Next Home Learning

The pandemic CoVid-19 is still running…  The best decision for children is they do learning from home ’cause we worry that a virus would spread if they have to go to school.  On the other hand, teachers need more skills and abilities to make a nice learning for students.  Actually,  we have been studying at home for the past three months.  But, starting in July 2020 the students will be enter the new school year.  And we will spend the time together for six months in different ways.

SMP Bakti Mulya 400 Jakarta already provides the facility for learning through google classroom.  Every teacher tries making a module for learning.  Then, we must present our modules to the leaders before we share the modules with the students. Persistent… optimistic … always learn and learn… hopefully we can give the best learning for the students, aamiin .

IMG-20200626-WA0030

#Late Post : Home Learning for Us

Bulan Maret 2020 adalah awal di mana seluruh siswa, guru, dan karyawan sekolah se-DKI Jakarta diminta pemerintah untuk stay at home. Siswa umumnya mengira mereka libur tapi setelah kuberikan penjelasan, mereka sadar bahwa akan ada tugas yang harus mereka kerjakan selama di rumah.

Bukan cuma mengerjakan tugas dari pelajaran tapi juga ibadah seperti shalat dhuha dan mengaji beberapa ayat yang ditentukan seperti yang mereka biasa lakukan di sekolah.

IMG-20200506-WA0027

Setiap hari, Senin sampai Jumat, mulai pukul 08.00 pagi sanpai pukul 12.00 siang. Bukan karena waktu stay at home sangat lama, bukan hanya belajar , ujian pun terpaksa dari rumah. Agar aku dan rekan-rekan guru bisa mengawas saat ujian berlangsung, maka kami menggunakan ZOOM, Google Meet atau Hangout. Sedangkan soal bentuk Pilihan Ganda kubuat dalam Google Classroom.

Home Learning menumbuhkan kreativitas bagi para guru dalam memberikan tugas kepada siswa. Aku pribadi bervariasi bentuk tugasnya, terkadang kuminta mereka membuat Power Point, tabel, atau bahkan poster yang temanya aku kaitkan dengan CoVid-19 di Indonesia. Alhamdulillah… terutama hasil karya poster, banyak yang bagus dan menarik.

gmbr Aleshagmbr Rania

Alhamdulillah… senang sekali melihat hasil karya poster para siswa tersebut 😍

Tahun yang bersejarah… di mana para siswa dan guru pertama kalinya melakukan pembelajaran dari rumah. Semoga tetap tersampaikan ilmu yang diberikan oleh tiap guru dan para siswa tetap menunaikan kewajibannya dalam kondisi nyaman😊  Harapan yang lebih besar… semoga wabah Covid-19 bisa segera hilang dari bumi pertiwi ini dan kami bisa merasakan bersekolah yang normal seperti dulu lagi, aamiin ya Rabb. .. 🤲

Mengenang Ramadhan Kemarin…

Banyak orang yang berpuasa di bulan Ramadhan pasti merasakan keberkahan di bulan suci itu… so do I 😊

Ramadhan kemarin memang Ramadhan yang berbeda karena untuk pertama kalinya, aku dan umat muslim lainnya tidak bisa ibadah seperti lazimnya Ramadhan di mesjid. Namun… mungkin Allah menakdirkan musibah wabah ini karena Allah ingin mengajarkan kita untuk bisa ibadah “langsung” tanpa perantara imam atau orang lain. Heart to heart … agar lebih khusyuk kita komunikasi dengan Sang Pencipta kita

Sepi saat sahur… tidak ada suara anak-anak yang berkeliling untuk membangunkan terjadi di dua minggu pertama. Adzan dari mushalla dekat rumah tetap terdengar… meskipun tidak ada shalat tarawih dan shalat wajib lain berjamaah.

Ketenangan … sampai tidak pernah peduli sudah memasuki hari keberapa puasa. Dari hari pertama sampai hari terakhir Ramadhan definitely aku menjalaninya di rumah. Rutinitas interaksi dengan al Qur’an bisa lebih lancar dibanding saat Ramadhan di tahun-tahun lalu. Dan… aku pun merasakan keberkahan karena sering kali dikirimi hidangan buka puasa maupun aneka kue lebaran. Alhamdulillah… bahkan pernah dalam sehari empat kali aku harus keluar mengambil kiriman dari driver ojol. Ma syaa Allah … tabarakallah …. 🙏🏾🤗

Begitu pun saat malam takbiran. Tidak ada perayaan apa-apa kecuali takbir yang terus dikumandangkan dari mushalla. Alhamdulillah… terima kasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan bagi hambaMu ini menjalani ibadah puasa Ramadhan meskipun tidak sempurna… semoga masih diberikan umur, kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani ibadah Ramadhan tahun depan, aamiin ya Rabb 🤲

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…  Laa illaa haillallah- huwaallaahu Akbar… Allahu Akbar walillahil hamd…

Akhirnya… aku punya hidangan lebaran … barakallah Ramadhan…

.

 

Bulan Suci dan Idul Fitri Yang Lain

Marhaban ya Ramadhan… tiap tahun pasti terjadi karena tiap tahun akan selalu ada bulan yang bernama Ramadhan, Dan tahun 2020 ini adalah “tahun istimewa” karena ada kejadian luar biasa yang berdampak ke seluruh masyarakat dunia dalam beraktivitas. Wabah covid-19 berpengaruh besar termasuk terhadap ibadah di bulan suci Ramadhan.

Puasa adalah inti dari bulan Ramadhan. Mungkin kalau semua umat muslim yang berpuasa betul-betul bisa menjalaninya dengan fokus ibadah dan di rumah saja, that’s no problem. Beberapa budaya masyarakat negeri ini yang terbiasa mengisi bulan Ramadhan dengan melakukan “ngabuburit” dan bukber yang seringnya jadi menimbulkan diabaikan shalat wajib maghrib, bisa dihilangkan karena adanya ancaman wabah covid-19. Begitu pula ibadah tarawih dan i’tikaf di mesjid tentu membuat sulit menerapkan social distancing selama Ramadhan. Juga budaya “wajib mudik” untuk alasan silaturrahim bersama keluarga di saat Idul Fitri . Padahal dengan adanya pandemi wabah covid-19 semua budaya itu seharusnya dipertimbangan untuk tidak dilakukan. Aturan dari WHO yang sudah disampaikan oleh pemerintah maupun MUI, tidak semua masyarakat mau nurut! Sedih dan khawatir melihat laporan korban positif covid-19 setiap hari… terutama mengetahui korbannya adalah tenaga medis yang terpapar dari pasien atau OTG (Orang Tanpa Gejala) 😭

Ramadhan… kenapa tidak difokuskan untuk ibadah dan di rumah saja? Kenapa juga pemerintah pusat masih membuka transportasi umum seperti kereta api? Bilamana ada orang-orang yang masih harus bekerja, kenapa tidak disediakan transportasi khusus dari tempat kerjanya atau tempat khusus menginap sehingga orang yang harus bekerja dan rumahnya jauh tidak perlu pulang?

Ramadhan… bulan suci yang sayang sekali jika dilewati dengan sia-sia karena ganjaran pahala yang besar dari tiap kebaikan. Salah satu kebaikan yang seharusnya disadari adalah menjauhi kemudaratan atau hal-hal yang bisa berakibat buruk bagi orang lain… Bukankah salah satu bukti kita puasa adalah mampu menahan diri? 😇

Ramadhan… tumbuhnya kebaikan yakni “memancing” banyak hati nurani mau melakukan donasi yang ditujukan baik untuk para tenaga medis maupun mereka yang terdampak dari pandemi covid-19 ini. Alhamdulillah…

Hari ini, Ahad (24/5/2020) adalah hari kemenangan bagi umat muslim yang sudah menjalani ibadah puasa selama 30 hari. 1 Syawal 1441 H menjadi sejarah umat muslim sedunia… Anjuran pemerintah untuk melakukan shalat Ied di rumah saja diikuti oleh sebagian besar masyarakat, alhamdulillah… termasuk aku! For the first time of my life, aku melakukan shalat Ied di rumah, sendiri. dan tidak merasa harus pergi silaturrahim dengan kerabat demi kebaikan bersama. Adanya teknologi hp bisa dimanfaatkan. Sejujurnya… aku sudah merasakan kejadian yang jauuh lebih sedih daripada sekarang yakni saat merayakan shalat Ied dan lebaran di hari ketujuh setelah mamaku berpulang kepada Sang Pencipta di tahun 2009 lalu. Air mataku tidak pernah berhenti kala itu sejak keluar rumah menuju lapangan sampai khutbah shalat Ied selesai… 😭 hampa sekali hidup rasanya. Seiring waktu, aku menjadi kuat… termasuk menghadapi kejadian hari ini. There’s a blessing behind.

Semoga saja tiap doa yang dipanjatkan yang diiringi oleh usaha dari semua lapisan masyarakat untuk bisa meredakan pandemi covid-19 dikabulkan Allah SWT…. Semoga Ramadhan yang baru saja berlalu menghasilkan banyak perubahan positif bagi negeri ini… Semoga Ramadhan tahun depan sudah kembali “normal” dan aku pribadi pun masih diberi umur untuk merasakan serta menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan mendatang, aamiin ya Rabb…. 🤲

TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM, TAQOBBALALLAHU YA KARIIM …. JA’ ALANA MINAL A’IDIN WAL FA’IZIN….

Tersentuh “Demi Raga Yang Lain”

Adanya kejadian wabah CoVid-19 memberikan dampak bagi masyarakat luas, dari segala lapisan. Dan mereka yang bertugas untuk mengatasi kesembuhan dari orang- orang yang sakit akibat virus ini adalah para tenaga medis. Para tenaga medis yang terdiri atas dokter dan perawat sebagai ujung tombak yang paling diandalkan.

Melihat perjuangan tenaga medis, aku jadi ingat almarhumah mamaku yang pernah menjadi perawat di RSPAD. Puluhan tahun mamaku bekerja sampai harus pensiun. Saat melihat berita di televisi ada berita seorang perawat RSPAD yang wafat karena terpapar dari pasien, langsung teringat mamaku. Andai mamaku masih hidup dan umur masih produktif,  pasti beliau akan ikut bergabung dengan para tenaga medis yang lain.  Mereka yang harus memakai APD yang jauh dari nyaman, menahan lapar haus dan keinginan ke toilet… ma syaa Allah, perjuangan yang luar biasa…  Ditambah lagi dengan mendengar lantunan lagu “Demi Raga Yang Lain” dari penyanyi Yessiel Triveda betul-betul menyentuh perasaan dan membuatku menangis haru.

dunia tlah tersenyum,   melihat kau bertaruh nyawa,  tak pedulikan yang kau punya,  demi raga yang lain …”

engkau pahlawan dunia, Tuhan yang kan membalas semua, jerih lelah yang tak ternilai, demi raga yang lain …”

 

 

 

Tahun yang Berat…

Tidak ada orang yang pernah menyangka bahwa tahun 2020 ini akan diawali dengan musibah akibat wabah virus yang dikenal dengan Corona  Terjadi pertama kali di kota Wuhan, Tiongkok. Kini hampir seluruh negara mengalaminya…

Apa sih Corona? Dinamai Corona karena bentuknya seperti mahkota dan sebagai kelompok virus yang menyerang manusia, terutama ke saluran pernafasan.  Penyebaran yang sangat cepat yang membuat banyak korban.  Belum ditemukan obat yang tepat kecuali yang diyakini adalah pencegahannya dengan menjaga imunitas tubuh, juga rajinnya kita mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Belakangan virus Corona dikenal dengan nama CoVid-19.

Ya Allah … saat semua ahli sibuk mencari sumber utama dari virus ini, aku hanya yakin jika penyebab utama berasal dariMu. Virus ciptaanMu yang bertujuan untuk “menegur” manusia yang sudah terlalu lama merusak bumi, senang dengan hiruk pikuk dunia tanpa berpikir halal haram…  Ampuni kami, Ya Rabb….

Dalam hitungan hari akan Ramadhan dan untuk pertama kalinya aku dan umat muslim di negeri ini tidak dibolehkan untuk shalat tarawih di mesjid dan i’tikaf.  Jangankan Ramadhan… sejak virus ini sudah mengakibatkan banyak korban, pemerintah sudah melarang warga pergi ibadah di mesjid. Semua dianjurkan di rumah demi mencegah penyebaran lebih luas. Tidak juga boleh meninggalkan tempat tinggal untuk silaturrahim saat lebaran datang.  Ya Allah… beraaat sekali ujianMu ini.  Just Stay at Home….

Semoga wabah penyakit karena CoVid-19 akan segera berakhir, aamiin….

 

Selamat Datang Tahun 2020

Berakhirnya tahun 2019 dijalani oleh sebagian orang dengan kemeriahan.  Banyak kembang api, pagelaran musik di beberapa tempat dengan gegap gempita meskipun hujan tiada henti sejak sore hingga hari berganti. Hujan deras yang berakibat fatal… banjir di pagi hari di Jabotabek. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun  😣

Aku bersyukur tempat tinggalku tidak termasuk yang terkena banjir namun sangat prihatin sekali terhadap mereka yang terkena banjir. Awal tahun yang ditunjukkan kekuasaan Allah dengan kekuatan alam berupa banjir!

Tahun 2020…  semoga musibah awal tahun ini bukan pertanda negeri ini dibenci Sang Pemilik Kehidupan.  Sebaliknya, harapanku justru sebaliknya…  pertanda Allah SWT sangat menyayangi kita dengan memberikan teguran atas sikap dan perilaku yang zalim terhadap lingkungan., diberi kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri seiring bertambah iman dan taqwa. Siapa pun manusia, sehebat apapun dia… tidak akan ada apa-apanya jika berhadapan dengan kekuatan alam.  Astaghfirullah..  ampunilah kami ya, Rabb…

 

#Late Post: TNGP 2019

IMG_20191227_083742_273Temu Nasional Guru Penulis (TNGP) tahun 2019 ini bisa diikuti. Diadakan selama dua hari, Sabtu (30/11/2019) dan Ahad (1/12/2019).

Hari pertama diadakan di Balaikota DKI Jakarta. Harapan paling besar untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Pak Anies Baswedan padam karena beliau ternyata tidak bisa hadir.  Ketidak hadiran beliau disampaikan oleh salah seorang utusannya karena beliau harus meresmikan suatu acara yang tidak bisa ditinggalkan.  Namun ada hal lain yang membuat aku senang yakni aku dapat teman baru! Seorang guru dari Padang bernama Bu Zumroh yang baik hati. Beliau langsung memberikan sebuah bros mini berupa rumah gadang kepadaku.  Ma syaa Allah… Jazakillah khair ya, buu… 🤗😍20191130_091224

Peserta yang hadir memang luar biasa banyak. Dari yang kulihat, peserta tuan rumah kalah jauh dibandingkan mereka yang dari daerah.  Peserta Sumatera Barat terbanyak, bahkan ada seorang bupati ikut bersama rombongan guru tersebut.  Saluut.. 👍🏻

20191130_072600Hari kedua diawali pertemuan semua peserta di stasiun MRT Lebak Bulus.  Berangkat bersama ke Depdikbud. Ada tiga gerbong kereta yang terisi penuh oleh peserta TNGP. Subhanallah… 🤗 dan aku baru tahu bahwa pintu keluar stasiun MRT di lokasi tujuan tepat di depan Depdikbud. Alhamdulillah… ☺

IMG-20191201-WA0157Kembali aku dapat kenalan baru, kali ini sesama peserta dari Jakarta.  Ada Bu Uswah dari SMPN 104 Mampang dan Bu Anastasia dari sekolah di Jakbar  (lupa nama sekolahnya) 🤣🤭 Senang sekali…

Mereka semua sudah menularkan energi positif  kepadaku agar lebih giat lagi untuk menulis.  IMG-20191201-WA0249

IMG-20191201-WA0148IMG-20191201-WA0160IMG-20191201-WA0150IMG-20191201-WA0239

Hari kedua di Depdikbud juga tidak bisa dihadiri oleh sang menteri baru. Lebih disayangkan.. juga tidak ada utusannya yang menyambut atau mewakili atas ketidakhadiran.  Alhasil.. banyak peserta yang pulang sebelum acara selesai.

IMG_20191227_083742_281Terima kasih Media Guru yang sudah memfasilitasi acara TNGP.  Salam LITERASI… Guru Mulia Karena Karya dan Guru Penulis adalah Guru VIP. Barakallah… 🙏🏻